Pemahaman Hadis Di Kalangan Islamic State Of Iraq And Syria

Oleh Muhammad Najih Arromadloni*

.

Fakta bahwa hadis merupakan perangkat teologis yang akan menjadi rujukan umat Islam di dunia mempunyai nilai politis sekaligus tarikan magnetik bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Politisasi hadis dalam dimensi sosial menjadi resiko yang tak terelakkan sejak masa awal sejarah.

Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) sebagai gerakan politik modern mengklaim legitimasi hadis, yang pemahamannya banyak berseberangan dengan mayoritas umat Islam. Sebuah diskursus mutlak diperlukan guna menganalisis bagaimana pemahaman ISIS atas hadis sekaligus tinjauan ulama atas pemahaman ISIS terhadap hadis, mengacu kepada Metode Kritik Matan atau Ma‘ani al-Hadith. Penelitian ini dilakukan melalui telaah atas majalah Dabiq yang resmi dirilis oleh ISIS dan literatur-literatur ulama hadis, dianalisis secara deskriptif, analitis, kritis, dan komparatif.

Penelitian atas pemahaman ISIS terhadap hadis dalam tema khilafah, jihad, hijrah, iman dan al-malhamat al-kubra ini sampai pada kesimpulan bahwa pemahaman ISIS terhadap hadis telah bergeser dari metodologi yang secara lumrah digunakan oleh ulama hadis. Pemahaman ISIS atas hadis mendapatkan kritik dari para ulama, karena bersifat parsial, inkonsisten, kurang cermat, dan tidak memiliki akar teologis, ideologis dan historis yang kuat, serta politis.

.

*) Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya