Penafsiran Ayat-Ayat Bay’at Dalam Tafsir Ruh Al-Bayan Karya Isma’il Haqqi Dan Al-Bahr Al-Madid Karya Ibn ‘Ajibah

Oleh Abu Sari*

.

Problematika yang diangkat dalam penelitian ini adalah bay’at dalam al-Qur’an. Hampir di semua kitab-kitab tafsir, term ini ditafsirkan sebagai ikatan janji setia antara rakyat dengan pemimpin. Berbeda dengan penafsiran tokoh sufi, ketika menafsiri ayat-ayat al-Qur’an sering sekali dibawa ke dimensi makna ishari. Penelitian ini, fokus pada penafsiran Isma’il Haqqi dalam tafsirnya, Ruh al-Bayan dan penafsiran Ibn ‘Ajibah dalam tafsirnya, al-Bahr al-Madid terhadap ayat-ayat bay’at. Penelitian ini dimaksud untuk: pertama, mengetahui metode dan corak penafsiran mereka terhadap ayat-ayat bay’at, dan kedua, mengetahui makna bay’at dalam penafsiran mereka. Dalam al-Qur’an, term bay’at ini diredaksikan dengan kata baya’ah/mubaya’ah. Ayat-ayat al-Qur’an yang menggunakan redaksi tersebut dengan arti al-bay’ah ada emapt, yaitu (1) surat al-Tawbah ayat 111; (2) surat al-Fath ayat 10; (3) surat al-Fath ayat 18; (4) surat al-Mumtahanah ayat 12.

Hasil penelitian mengungkap bahwa metode yang ditempuh Ibn ‘Ajibah lebih sederhana, sistematis, teratur, tidak bertele-tele, mudah dibaca dan dipahami. Sedangkan metode yang ditempuh Isma’il Haqqi tampak kurang sistematis, bahkan agak bertele-tele dan bisa membuat jemu pembacanya. Hal itu karena uraiannya terlalu melebar, baik dari sisi uraian balaghah yang kadang melebihi kebutuhan, juga makna ishari yang campur aduk, ditambah pembahasan-pembahasan yang mengembang yang sebenarnya tidak perlu dicantumkan dalam penafsiran. Corak yang muncul ketika mereka menafsirkan ayat-ayat bay’at, sama-sama ditemukan corak lughawi, dan corak ishari. Dalam penafsiran Isma’il Haqqi masih ada dua corak lain dan tidak ditemukan dalam tafsir Ibn ‘Ajibah, yaitu corak adabi-ijtima’i dan corak Fikih.

Dalam menafsirkan ayat-ayat bay’at, Isma’il Haqqi dan Ibn ‘Ajibah selain menuangkan makna zahir ayat juga mengungkap makna ishari ayat. Dalam pengungankapan makna ishari ini, ke duanya menganalogikan bay’at kepada para guru tarekat dengan bay’at yang dilakukan oleh Nabi saw bersama para sahabatnya serta mendasarkan pada petunjuk yang disinyalir dalam al-Qur’an.

Hanya saja, Ibn ‘Ajibah lebih moderat, tidak kaku dan tidak terkesan apologis terhadap pendapatnya meskipun ia seorang guru tarekat. Makna ishari yang diungkapkannya tentang bay’at masih dalam taraf normal dan tidak terkesan memakasakan kehendak. Sementara pandangan Isma’il Haqqi tampak apologis mengingat dirinya sebagai guru tarekat. Ia menempatkan guru tarekat pada posisi sentral serta sebagai pusat bimbingan rohani setelah Rasulullah saw.

.

*) Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya