Konsep Kenabian Dalam Al Qur’an : Studi Terhadap Buku: Controversi Kenabian dalam Islam, Antara Filsafat dan Ortodoksi, karya Fazlur Rahman

Oleh Adlan Ali Amin*

.

Manusia dengan akalnya tidak cukup menapaki jalan kebenaran. Mustahil bagi manusia dapat mengetahui yang baik dan yang buruk jika hanya berlandaskan pada akal semata tanpa adanya petunjuk. Maka Allah memilih dan mengutus manusia tertentu yang disebut nabi atau rasul untuk menyampaikan pesan-pesan agama (risalah) melalui pewahyuan. Wahyu ini sangat diperlukan bagi umat manusia sebagai petunjuk menuju jalan kebenaran. Fazlur Rahman adalah salah satu pemikir muslim kontemporer yang memiliki konsep tersendiri tentang kenabian dalam bukunya Kontroversi Kenabian dalam Islam, antara filsafat dan ortodoksi. Berkaitan dengan hal tersebut, maka tesis ini akan menjawab tiga hal pokok: pertama, bagaimana kontroversi konsep kenabian menurut filsafat dan ortodok dalam buku Fazlur Rahman. Kedua, apa faktor-faktor penyebab terjadinya kontroversi tentang konsep kenabian menurut filsafat dan ortodok dalam buku Fazlur Rahman. Ketiga, bagaiman implikasi dari terjadinya kontroversi antara filsafat dan ortodok tentang konsep kenabian dalam buku Fazlur Rahman.

Penelitian ini menggunakan metode library research (kajian pustaka) dengan jenis penelitian kualitatif, menggunakan teknik pengumpulan data secara dokumentasi dengan pendekatan mawdu’i (tematik) perspektif teologis-filosofis.

Beberapa hal yang dihasilkan dari penelitian ini adalah: Pertama, bahwa Kontroversi kenabian antara filsafat dan ortodoks berawal dari pemikiran para filosof menganggap perlu adanya pemikiran filosofis yang membahas persoalan kenabian dengan dasar-dasar psikologis-metafisis yang bersumber dari teori-teori Yunani tentang sifat dan kekuatan kognitif jiwa manusia. Kenyataan ini ditentang oleh kaum ortodoks, dengan membolehkan penggunaan akal secara terbatas namun menolak filsafat sama sekali. Kedua, pada abad pertengahan, shariat dengan kepercayaan-kepercayaan dan hukum-hukumnya berada dalam krisis yang akut. Kemudian munculnya dokter medis dan filosof mashur al-Razi, yang menganggap semua agama positif sebagai bid’ah, bukanlah dan tidak mungkin merupakan kejadian yang terpencil. Ibn Sina mengatakan, keraguan-keraguan korespondennya mengenai agama, dan dia telah mencela dengan menyebut filosof sebagai tak agamis, sepetinya dia mencela kaum awam. Krisis ini serupa dengan krisis paganism Hellenistik yang dicoba dihindarkan oleh kaum Stoa. Ketiga, dengan adanya konsep kenabian yang tawarkan para filosof, kaum ortodok mengehawatirkan akan membawa implikasi akan adanya nabi-nabi baru dari kalangan manusia biasa. Padahal dalam pandangan ortodoks wahyu kenabian  merupakan rahmat dan anugerah dari Tuhan. Namun kehawatiran tersebut dipatahkan oleh para filosof itu sendiri, secara tegas mereka menyangkal bahwa setiap pemikir setinggi apapun atau mistikus manapun tidak akan mampu menjadi nabi.

.

*) Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya