Oleh M. Arfan Mu’ammar*

Purifikasi keagamaan atau dalam istilah lain tajdid alfikr al-Islami mulai merambah ke Indonesia menjelang akhir abad ke-19 dimulai dari Minangkabau kemudian ke Jakarta dengan Jami’atul Khair dan al-Irshad, Yogyakarta dengan Muhammadiyah dan Bandung dengan Persatuan Islam. Semangat tajdid inilah yang kemudian menjadi inspirasi beberapa pesantren di Jawa Timur. Walaupun demikian pola interpretasi terhadap teks-teks agama dan pola interaksi terhadap fenomena kemasyarakatan tidak sepenuhnya seirama, sehingga perlu kiranya ditelaah lebih dalam tentang tajdid di pesantren agar dapat ditemukan gambaran utuh mengenai persoalan tajdid di institusi pendidikan Islam tersebut.

Dari latar belakang penelitian tersebut, diformulasikan rumusan masalah yaitu; (1), Bagaimana gambaran umum tajdid keagamaan di lingkungan Pesantren Jawa Timur? (2), Bagaimana tipologi tajdid keagamaan di lingkungan pesantren Jawa Timur? (3), Bagaimana implikasi tajdid keagamaan terhadap penyelenggaraan  pendidikan Islam di enam pesantren di Jawa Timur?

Jenis penelitian ini adalah field research dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi-partisipatif, in-depth interview, dokumentasi, Focused Group Discussion (FGD). Teknik analisis data meliputi data reduction, data display, dan conclusion drawing/verifying. Dan langkah terakhir adalah triangulasi data serta member check.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama : tajdid keagamaan di lingkungan Pesantren Jawa Timur terlihat dari dua aspek mendasar, yaitu aqidah, dan syariah (ibadah dan mu’amalah). Dalam hal ini, tajdid dipahami dari dua istilah penting, yaitu purifikasi dan dinamisasi. Dilihat dari aspek purifikasi, dalam aspek aqidah dan ibadah, semua pesantren yang diteliti dalam disertasi ini cenderung lebih puritan, sedangkan dalam aspek mu’amalah lebih dinamis dan kontekstual.  Kedua : penulis menemukan setidaknya ada tiga tipologi tajdd keagamaan di pesantren yaitu pertama : tipologi puritan radikal, yang memiliki kecenderungan pada radikal  skriptual, radikal fundamental dan radikal militan. Kedua puritan modernis, terakhir puritan akomodasionis. Ketiga : Implikasi Tajdid Keagaman terhadap Pendidikan di

Pesantren dapat dilihat dari empat aspek yaitu, aspek landasan filosofis, pengembangan kurikulum, manajemen kelembagaan dan pengaruh pesantren terhadap pemahaman keagamaan masyarakat sekitar pesantren. Secara filosofis maupun pengembangan kurikulum, semua pesantren cenderung lebih puritan, namun secara kelembagaan jauh lebih dinamis.

*) Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya.