Narkoba, Selebriti, dan Perilaku Imitatif Penggemar

Opini JawaPos, 31/3/2017 10.50 wib.
Oleh Rahma Sugihartati*

.

DERETAN artis di tanah air yang tertangkap tangan menggunakan narkoba kembali bertambah. Kali ini artis yang ditangkap petugas Satuan Narkoba Polresta Jakarta Barat adalah Rhido Rhoma, putra bungsu Raja Dangdut Rhoma Irama.
Selain Ridho, artis lain yang terbiasa menggunakan narkoba ditengarai cukup banyak meski belum terungkap. Penggunaan narkoba di kalangan sebagian artis tampaknya merupakan hal lazim karena dunia kerja yang digeluti para artis umumnya adalah dunia malam, jam kerja yang panjang, dan lingkungan sosial yang cenderung permisif, di mana semuanya pada akhirnya berpotensi mendorong artis yang tak kuat iman terjerumus mengonsumsi narkoba. Dampak Penyebaran Informasi
Studi yang dilakukan Shaw, Whitehead & Giles (2010), misalnya, memperlihatkan bahwa pemberitaan artis yang menjadi pecandu narkoba sering kali memengaruhi persepsi anak muda karena di balik pemberitaan itu sesungguhnya informasi itu juga menawarkan gaya hidup keliru yang dijalani artis yang bersangkutan.
Sudah lazim terjadi, ketika seorang artis tertangkap tangan menggunakan narkoba, yang kemudian beredar di media sosial dan media massa tidak sekadar menginformasikan proses hukum yang dijalani pelaku, tetapi justru pemberitaan yang berkembang tidak jarang malah memperlakukan pelaku sebagai selebriti yang khilaf dan merupakan korban dari lingkungan dan tuntutan pekerjaannya.
Bagi artis yang memang hanya menjadi korban dan bukan pengedar, memang mereka memiliki hak untuk diperlakukan sebagai korban dan bantu proses rehabilitasi agar tidak terjerumus lebih parah sebagai pecandu. Aturan hukum yang berlaku memang memungkinkan hal itu dilakukan. Meski demikian, ketika pemberitaan informasi tentang artis yang tertangkap tangan menggunakan narkoba melebar ke mana-mana dan sudah keluar jauh dari konteks hukum yang harus dilalui pelaku, ada sejumlah risiko yang berdampak kontraproduktif terhadap para penggemar.
Pertama, karena di kalangan penggemar artis yang bersangkutan, sering kali perilaku yang mereka kembangkan adalah perilaku imitatif yang hanya mengikuti apa pun yang diperbuat sang artis. Artinya, sebagai penggemar yang fanatik, mereka biasanya tidak akan melihat persoalan yang dihadapi artis idolanya dari kacamata hukum dan aspek moralistik, melainkan akan lebih memahami apa yang dialami artis pujaannya sebagai bagian dari gaya hidup para selebriti yang sahsah saja dilakukan.
Kedua, karena pemberitaan perilaku artis yang salah, tetapi kemudian disirkulasi dan diresirkulasikan secara masif di media sosial, cepat atau lambat akan membuat pergeseran pandangan penggemar menjadi lebih permisif. Sebuah perilaku yang salah, namun diinformasikan berulang-ulang, tanpa sadar akan memengaruhi cara pandang atau persepsi pembacanya. Yang berbahaya adalah ketika berita tentang artis yang kecanduan narkoba disirkulasi terus-menerus. Maka, yang terjadi bukan hanya sikap memaklumi apa yang dilakukan pelaku, tetapi juga melahirkan sikap yang kemudian membenarkan dan menganggap apa yang dilakukan artis hanyalah bagian dari gaya hidup yang sudah semestinya dilakukan selebriti.
Di sejumlah negara maju, ekspose kasus artis yang tertangkap tangan mengonsumsi narkoba atau meninggal karena overdosis sering kali tidak malah membuat reputasi artis yang berangkutan memudar. Dalam berbagai kasus, popularitas artis yang tewas gara-gara overdosis mengonsumsi narkoba atau tertangkap aparat karena menjadi pecandu justru kemudian naik di mata penggemarnya. Mereka makin antusias mengikuti pemberitaan media massa dan tanpa sadar membela dan meniru kelakuan pelaku. Konsumer Budaya Populer
Untuk mencegah agar pemberitaan artis yang tertangkap tangan mengonsumsi narkoba tidak menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat, yang dibutuhkan bukan hanya literasi media dan sikap kritis penggemar. Yang tak kalah penting adalah kemauan dan kemampuan para penggemar untuk mengambil jarak terhadap bintang idolanya dan kemampuan untuk menjadi konsumer budaya populer yang independen.
Menjadi penggemar produk industri budaya populer dan menjadi penggemar setia artis-artis tertentu adalah hak semua warga masyarakat. Anak-anak muda yang setiap hari bersentuhan dengan musik, film, majalah populer, televisi, dan memiliki kemampuan untuk mengakses internet niscaya akan terkontaminasi efek pemberitaan budaya populer dan dunia kehidupan selebriti yang sedemikian masif.
Meski demikian, perlu disadari bahwa menjadi penggemar yang fanatik dan kemudian secara membabi buta mengikuti apa yang menjadi gaya hidup artis idolanya tanpa melakukan introspeksi diri ibarat adalah orang yang menggali lubang kubur sendiri.
Bahaya peredaran narkoba dewasa ini bukan hanya pada cara kerja pengedar atau bandar narkoba yang makin intens menyasar kelompokkelompok berisiko rendah dan anak muda yang kosmopolit. Peredaran narkoba makin tidak tercegah ketika di sana narkoba juga ditawarkan sebagai bagian dari gaya hidup dan sekaligus menawarkan mimpi.
Tanpa didukung fondasi sikap kritis, literasi media yang peka, dan kemampuan untuk mengambil jarak dengan bintang idolanya, kita khawatirkan anak-anak muda dan para penggemar akan rawan terjerumus dalam perilaku keliru yang sama.

.

*) Dosen mata kuliah masyarakat informasi di Prodi Ilmu Informasi dan Perpustakaan FISIP Unair Surabaya