Ridho Rhoma dan Rimba Narkoba

Opini JawaPos, 31/3/2017 10.50 wib.
Oleh Surya Aka Syahnagra*

.

SUNGGUH sangat mengejutkan Raja Dangdut Rhoma Irama saat mengetahui putra kesayangannya, Muhammad Ridho, tertangkap polisi karena narkoba. Bukan saja karena Ridho dikenal sebagai ”anak manis”, rajin salat, dan tidak merokok. Justru baru saja hadir di pembukaan Munas Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) Jumat 24 Maret 2017 di Ancol Jakarta. Beberapa jam kemudian, Sabtu subuh, 25 Maret, Ridho tertangkap tangan sedang mengisap sabu-sabu. Termasuk sisa 0,7 gram dan pipa pengisapnya disita.
Ironisnya, Rhoma sang ayah Jumat siang itu sedang talk show antinarkoba bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) guna mencegah peredaran narkoba di kalangan artis dangdut. Kebetulan yang hadir di munas adalah ratusan artis utusan DPW PAMMI se-Indonesia. Walau di dunia dangdut baru Imam S. Arifin yang terjerat narkoba, upaya Rhoma patut diapresiasi. Eh, tidak disangka, justru beberapa jam kemudian, anaknya sendiri tertangkap Polres Mertro Jakarta Barat.
Di saat media online dan stasiun TV breaking news penangkapan Ridho, posisi Rhoma masih di panggung sidang, upacara penutupan munas. Lebih satu jam, para staf gelisah mengenai berita yang dimonitor di gadget mereka. Tapi, tak berani menyampaikan ke Rhoma. Baru setelah sang Raja Dangdut itu meninggalkan ruang sidang, diberi tahu ajudannya, Rhoma kaget dan tak percaya. ”Saya malah mengira itu hoax,’’ kata Rhoma. Maka, meluncurlah Rhoma ke tempat Ridho ditahan, Sabtu malam itu juga. Ridho memeluk Rhoma, tangis pun pecah, di kantor polisi.
Tangis kecewa Rhoma memang tak dimungkiri. Sejak lebih 30 tahun lalu, Rhoma memang perang melawan narkotika. Itu ditunjukkan dalam lagu Generasi Muda (1974), yang kemudian dirilis ulang pada 2000. Ditambah lagi Haram (1980) dan Mirasantika (1997). Ini salah satu liriknya Narkoba’ (2000) yang sangat dikenal:
Wahai kawan generasi muda/ Tahukah siapa musuh Anda narkotika, psikotropika dan obatobatan berbahaya. Bermacammacam jenis narkoba/ Yang berupa serbuk, pil, dan ganja. Ketahuilah, waspadailah/ Jangan sampai kau menggunakannya. Terlalu banyak yang jadi korban/ Dan banyak yang menghuni kuburan.
Kalau hal ini kita biarkan/ Satu generasi akan hilang.
Mari hindarkan/ Mari hentikan/ Penyalahgunaan narkoba.
Lirik Rhoma itu memang berdasar realita dua keponakannya yang ditemukan tewas karena overdosis. ”Jadi, Ridho masih lebih beruntung,” kata Rhoma. Karena pengaruh lagu-lagu Rhoma itulah, Ketua BNN Irjen Pol Togar Sianipar beberapa tahun lalu mengajak Rhoma dan Soneta pentas keliling Indonesia, kampanye selamatkan anak bangsa. Sebelumnya, pada era 1990-an, bersama promotor Sofyan Ali, pengusaha Setiawan Djodi, dan pengacara Hendardi, Rhoma mendirikan Gerakan Rakyat Anti Madat (Geram). Puncaknya, tahun lalu Rhoma dianugerahi bintang jasa dari Presiden Joko Widodo di Istana Negara.
Karena itu, di balik penangkapan Ridho ini, Rhoma bertekad akan membalas melawan para bandar narkoba. ”Bukan semata karena keluarga saya jadi korban. Narkoba terbukti membunuh 50 nyawa WNI tiap hari,’’ tandas Rhoma. Sebelum ini, banyak pula deretan artis yang jadi korban. ”Rimba narkoba’’ juga memakan korban anggota Polri, TNI, bupati, anggota DPR-DPRD, jaksa, pegawai negeri, apalagi mahasiswa dan pelajar, bahkan santri pesantren. Dari data BNN, jumlah pengguna narkoba di Indonesia hingga November 2015 mencapai 5,9 juta orang.
Kondisi tersebut, Indonesia sudah darurat bahaya narkoba. Hal itu sudah disampaikan Presiden Joko Widodo. Mengapa begitu banyak? Karena Indonesia menjadi salah satu negara sasaran peredaran narkoba yang dikendalikan jaringan internasional. Hasil deteksi BNN, ada 72 jaringan internasional yang menjalankan bisnis di sini. Di negara ASEAN, Indonesia adalah pangsa pasar terbesar, dengan pengimpor terbesar: Tiongkok dan Thailand.
Tak heran, selama 2015, BNN berhasil mengamankan sekitar 3 ton sabu-sabu. Bila 1 gram saja bisa digunakan untuk 5 orang. Jadi, dengan mengamankan 3 ton sabu-sabu, sudah berapa ribu jiwa yang diselamatkan. Itu patut kita apresiasi.
Ada tiga opsi pemberantasan narkoba agar lebih efektif. Pertama, penegak hukum tetap tegas dan tanpa kompromi atas peredaran narkoba. Para hakim harus berani menghukum mati para pengedar. Kedua, gencarkan sosialisasi antinarkoba dengan beraneka kelompok sampai ke tingkat bawah.
Ketiga, generasi yang telanjur kecanduan narkoba segera direha- bilitasi sesuai ketentuan hukum. Sepanjang 2015–2016 sudah ada 42.429 yang direhabilitasi, sebanyak 1.015 kasus berhasil diungkap, dan 72 sindikat dibekuk. Dengan omzet mencapai Rp 142 miliar (sabu-sabu 2,8 ton, ekstasi 707.864 butir, ganja 4,1 ton, dan lahan ganja seluas 69 hektare berhasil dimusnahkan).
Dari fakta itu, peredaran narkoba di Indonesia sudah berada di level bahaya. Menurut Kabaghumas BNN Sumirat Dwiyanto pada 19 Januari 2015, serbuan mafia narkoba ke wilayah Indonesia mencatat transaksi barang haram itu sekitar total Rp 48 triliun. Transaksi yang fantastis. Bandingkan dengan keseluruhan transaksi yang terjadi di ASEAN yang sejumlah Rp 160 triliun. Para mafia narkoba berasal dari Indonesia sendiri, juga Malaysia, Australia, Iran, Prancis, Taiwan, Nigeria, dan lain-lain. Para mafia tersebut berpesta pora dengan total peredaran narkoba sebesar 30 persen di Indonesia.
Rimba narkoba di tanah air ternyata begitu mengerikan. Akankah kita hanya berpangku tangan? Menunggu keluarga dan teman kita terjangkit kecanduan narkoba? Mari kita antisipasi bersama, selamatkan generasi bangsa.

.

*) Ketua umum DPP Fans Of Rhoma and Soneta, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Ampel Surabaya