Hadis Mawdu’ Perspektif Ibn al-Jawzi (510-597 H/1116-1200 M): Studi Analisis Terhadap Manhaj Ibn al-Jawzi Dalam Menetapkan Kepalsuan Hadis Pada Kitab al-Mawdu’at

Hadis merupakan sumber kedua syariat Islam yang diwariskan turun temurun dari masa Nabi. Otentisitasnya terjaga dan validitasnya tinggi. Munculnya hadis mawdu’ menjadi tantangan tersendiri bagi umat Islam. Para ulama telah menjawab tantangan tersebut, dan di antara mereka adalah Ibn al-Jawzi. Melalui kitab al-Mawdu’at ia telah mencatat hadis yang dianggapnya mawdu’. Pola analisisnya dalam menentukan klaim mawdu’ terhadap hadis membentuk sebuah manhaj.

Ide besar penelitian ini mengkaji hadis mawdu’ dalam perspektif Ibn al-Jawzi, manhaj Ibn al-Jawzi dalam menentukan kepalsuan hadis, kritik atas manhaj Ibn al-Jawzi, dan konsistensi Ibn al-Jawzi dalam menentukan kepalsuan hadis. Penelitian yang bersifat deskriptif-kualitatif ini meneliti seluruh hadis yang dianggap mawdu’ oleh Ibn al-Jawzi dalam kitab al-Mawdu’at, yang berjumlah 1814. Jumlah hadis tersebut dimuat oleh Ibn al-Jawzi dalam 2 jilid buku, 4 al-bab, 50 kitab, dan 792 bab. Dalam penelitian ini ditemukan kritik terhadap 32 hadis sebagai sampling dengan teknik analisis yang merujuk data dan temuan yang ada pada masing-masing hadis yang diteliti.

Metode kritis-analitis dengan pendekatan konteks, historis, dan bahasa dipilih sebagai cara memahami dan menyimpulkan pola Ibn al-Jawzi dan konsistensinya dalam me-mawdu’-kan hadis. Ternyata ditemukan bahwa dalam me-mawdu’-kan hadis Ibn al-Jawzi menggunakan suatu manhaj tersendiri yang berbeda dari ulama lain, baik dari segi sanad maupun matan. Manhaj Ibn al-Jawzi dapat memberi kontribusi pada perkembangan kritik hadis. Ditemukan pula bahwa Ibn al-Jawzi termasuk kritikus hadis yang mutashaddid dalam menentukan kepalsuan hadis.

Manhaj Ibn al-Jawzi dalam menentukan kepalsuan hadis dapat dilihat dari dua tinjauan, yaitu sanad dan matan. Dari kajian di atas, dalam penerapan manhaj-nya ditemukan bahwa tidak selalu konsisten terhadap manhaj-nya,karena terdapat inkonsistensi yang dilakukan Ibn al-Jawzi pada lima hadis.

Implikasi teoritik penelitian ini adalah bahwa manhaj dalam menentukan kepalsuan hadis yang ditetapkan oleh ulama’ sejak abad ke II H. sampai abad ke VI H. tidak menjadi standar baku, sebab pada abad ke VI H. tidak disepakati oleh Ibn al-Jawzi. Ia memiliki manhaj dalam menentukan kepalsuan hadis yang berbeda dengan manhaj ulama’ hadis sebelum Ibn al-Jawzi, akibatnya masih terbuka peluang bagi ulama’ hadis masa sekarang dan yang akan datang untuk merumuskan manhaj dalam menentukan kepalsuan hadis. Permasalahan besar yang menjadikan hadis sahih dan hadis hasan dianggap sebagai hadis mawdu’ oleh Ibn al-Jawzi karena perawi setelah mukharrij sampai kepada Ibn al-Jawzi dianggap sebagai sanad hadis. Dimungkinkan timbulnya ke-mawdu-an hadis karena ada cacat pada perawi-perawi tersebut, walaupun perawi-perawi dari mukharrij ke atas sampai sahabat adalah perawi-perawi thiqah dan status hadis sahih.

*) Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave us a Comment