031-8431972 perpus@uinsby.ac.id

Oleh Ahmad Khoirur Roziqin*

.

Pemilihan judul ini bermuara pada munculnya kompleksitas perbedaan penafsiran antar para ulama, terlebih pada masa kontemporer di zaman ini. Salah satu yang ramai diperbincangkan para ulama adalah tentang hijab, yaitu kain atau pakaian yang menjadi penutup wanita.

Permasalahan yang diteliti dalam tesis ini adalah ayat-ayat yang berkaitan dengan hijab, serta diperkuat dengan sumber dari teks hadis dan prilaku yang para wanita muslimah di zaman Rasul. Ayat yang menjadi pembahasan dalam masalah hijab terdapat di dua surah, yaitu surah al-Nur ayat 31 dan surah al-Ahzab ayat 32-33, ayat 52, dan ayat 55-59. Beberapa kalangan ulama menggunakan ijtihad dalam menentukan batas dari hijab tersebut, apakah boleh menampakkan wajah dan dua telapak tangan, ataukah seluruh tubuh harus tertutup semua, namun secara mayoritas mereka berpandangan bahwa hijab merupakan suatu kewajiban bagi muslimah.

Quraisy Syihab dan Sayyid Thantawi adalah dua mufassir kontemporer yang berusaha untuk menyajikan kepada kaum muslim dalam tafsirnya, al-Misbah dan al-Wasit, tentang bagaimana berhijab yang sesuai koridor Islam. Dua karya tafsir dari mufassir itulah yang akan menjadi titik fokus dalam penelitian tesis ini. Pokok dari pembahasan adalah, bagaimana penafsiran Quraisy Syihab dan Sayyid Thantawi tentang hijab, kemudian bagaimana perbedaan dan persamaan antara dua mufassir tersebut dalam permasalahan hijab. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, induktif serta deduktif, ditambah dengan menggunakan metode tematik, yaitu mengumpulkan ayat-ayat yang berkaitan dengan hijab. Dengan menggunakan teknis di atas, memudahkan untuk mencari kesimpulan pendapat dari Quraisy Syihab dan Sayyid Thantawi.

Penelitian kemudian sampai pada kesimpulan yang berimplikasi terhadap hukum, bahwa penafsiran dari Quraisy Syihab dan Sayyid Thantawi secara prinsip berbeda. Quraisy Syihab tidak menegaskan kewajiban hijab, namun Sayyid Thantawi dengan tegas mewajibkan hijab. Akan tetapi dalam permasalahan batasan manakah hijab, Sayyid Thantawi lebih cenderung kepada wajah dan dua telapak tangan, sedangkan Quraisy Syihab, karena condong kepada pendapat yang tidak mewajibkan hijab, maka tidak ada sampai batasan mana tubuh wanita yang harus dihijab.

.

*) Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya