Akulturasi antara Islam dan budaya lokal dalam tradisi bulan Sya’ban: Nisfu Sya’ban di Desa Sendangduwur Paciran Lamongan

Oleh Laili Kalimatul Hidayah*

.

Akulturasi atau acculturation atau culture contact adalah konsep mengenai proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur-unsur dari suatu kebudayaan tertentu  atau budaya baru, sehingga unsur-unsur kebudayaan baru itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu sendiri. Ketika ajaran masuk dalam komunitas yang berbudaya, akan terjadi tarik menarik antara kepentingan agama dan kepentingan budaya akhirnya tidak menghalangi akan adanya kehidupan beragama dalam bentuk budaya. Masalah yang menjadi sasaran penelitian ini adalah (1)  Siapa penyebar Islam awal di desa Sendangduwur?, (2)  Bagaimana proses akulturasi dan asimilasi budaya Hindu, Islam dan Modern di desa Sendangduwur?, (3) Bagaimana hasil akulturasi Islam dan budaya lokal yang terkandung dalam tradisi bulan sya’ban dan nisfu sya’ban, pada masyarakat desa Sendangduwur?

Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang dikategorikan kepada penelitian kualitatif memaparkan tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasannya dan dalam peristilahannya, yaitu merupakan penelitian yang bersifat deskriptif yaitu data-data yang diperoleh dari informan terkait, kemudian data-data tesebut dijelaskan kata-kata, kalimat dalam tulisan dengan tujuan berusaha menjelaskan keadaaan masyarakat desa Sendangduwur yang terkait akulturasi antara Islam dengan budaya lokal dalam bulan sya’ban (nisfu sya’ban).

Kesimpulan dari penelitian ini adalah (1) Sejarah pengenalan dan perkembangan Islam ‘awal’ pada masyarakat desa Sendangduwur – Paciran – Lamongan ini tidak bisa terlepas dari peran penting dan jasa seorang tokoh ‘arif’ yang sangat berpengaruh besar ini mempunyai nama asli Raden Noer Rochmat yang juga sekarang dikenal dengan nama sinuwun mbah sunan Sendang Raden Noer Rochmat, (2) Transformasi adaptasi antara unsur-unsur budaya Islam, modern dengan unsur-unsur budaya pra-Islam, mengenalkan dan menyebarka Islam secara evolutif-kultural (berproses dan menyangkut kepada budaya) masyarakat setempat, kontinuitas juga terjadi didalamnya karena adanya kesesuaian antara budaya lama dan baru, merupakan proses akulturasi dan asimilasi budaya Hindu, Islam dan Modern di desa Sendangduwur – Paciran – Lamongan, (3) Peringatan acara haul sinuwun mbah sunan Sendang Raden Noer Rochmat yang dilaksanakan di masjid peninggalan sinuwun mbah sunan Sendang Raden Noer Rochmat yang berarsitektur Hindu-Budha dan merupakan peninggalan sejarah  yang berasal dari masa transisi Indonesia.

 .

*) Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya