031-8431972 perpus@uinsby.ac.id

Opini JawaPos, 4/8/2017 8.30 wib.
Oleh Fitroh Chumairoh*

.

BEBERAPA waktu yang lalu sebuah video pem-bully-an terhadap seseorang yang diduga berkebutuhan khusus jenis autisme di Universitas Gunadarma viral di media sosial. Dalam video tersebut, tampak korban yang mengenakan tas punggung ditarik temannya dan dua orang lainnya ikut ”menggoda” korban. Dan, yang membuat miris, di situ terdapat beberapa orang yang menyaksikan, bahkan merekam kejadian tersebut.
Selama ini, pada umumnya, orang selalu menganggap bahwa mereka yang berkebutuhan khusus tidak memiliki kemampuan intelektual selayaknya orang normal sehingga tidak layak berkumpul dengan mereka dan pantas di-bully. Bahkan, masih banyak juga yang tidak memahami apa itu autisme sehingga orang-orang dengan kendala autisme dianggap gila sehingga takut untuk berdekatan dengan mereka.
Leo Kanner (1943) mendefinisikan autisme sebagai ketidakmampuan seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki gangguan berbahasa yang ditunjukkan dalam penguasaan bahasa yang tertunda, echolalia, mutism, dan pembalikan kalimat. Serta, adanya aktivitas bermain dengan jenis yang sama secara berulang, adanya ingatan yang kuat, dan adanya keinginan yang kuat untuk mempertahankan keteraturan dalam lingkungannya (Dawson dan Castelloe dalam Widihastuti, 2007).
Dari pengertian tersebut, terlihat bahwa gejala autisme, antara lain, hambatan dalam komunikasi, kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain, dan adanya perilaku-perilaku tertentu yang dilakukan secara berulang. Misalnya, berbicara sendiri menirukan dialog iklan, film, atau hal-hal yang membuatnya tertarik.
Kurangnya pemahaman masyarakat akan autisme beserta gejalanyalah yang membuat terjadinya bullying terhadap mereka yang memiliki kekhususan ini. Para mahasiswa yang mem-bully temannya yang diduga penyandang autisme di Universitas Gunadarma mengaku tidak berniat mem-bully, tetapi hanya bercanda. Itu pun tidak bisa dibenarkan.
Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap warga berkebutuhan khusus juga terkait dengan pemerintah yang kurang memperhatikan mereka. Selama ini pemerintah terlihat lebih memperhatikan mereka yang mengalami kendala secara fisik, seperti tunanetra, tunarungu, tunawicara, serta tunadaksa. Mereka diberdayakan sehingga mulai banyak di antara mereka yang bisa bekerja dan hidup mandiri. Namun, kegiatan pemberdayaan bagi warga negara berkebutuhan khusus masih sedikit sehingga belum banyak yang mengerti bahwa bukan hanya kendala secara fisik jenis kebutuhan khusus, melainkan juga kendala secara mental.
Inilah yang membuat sebagian masyarakat memberi stigma negatif kepada mereka yang berkebutuhan khusus, terutama yang memiliki kendala secara mental. Padahal, mereka yang memiliki kendala secara mental seperti autisme juga memiliki kelebihan selayaknya orang-orang yang merasa dirinya normal. Banyak penyandang autisme yang memiliki IQ di atas rata-rata sehingga bisa masuk universitas terkemuka dan memiliki keahlian tertentu seperti bermain musik, jurnalistik, melukis, dan membuat komik.
Banyak juga penyandang autisme yang meraih kesuksesan. Sebut saja Daniel Tammet, seorang pendidik yang dinobatkan sebagai salah satu dari seratus orang genius di dunia yang menulis buku terlaris New York Times yang berjudul Born On A Blue Day; Temple Grandin, seorang pengajar mahasiswa PhD di Colorado State University yang telah menulis sepuluh buku tentang hewan dan perilaku manusia; dan dari Indonesia ada Oscar Yura Dompas, seorang sarjana pendidikan bahasa Inggris dari Unika Atmajaya yang menulis buku Autistic Journey dan The Life of the Autistic Kid Who Never Give Up.
Mereka yang memiliki kendala secara mental juga memerlukan fasilitas selayaknya mereka yang memiliki kendala secara fisik. Fasilitas yang diperlukan oleh mereka, antara lain, layanan terapi yang memadai dengan harga yang terjangkau atau bahkan gratis, lembaga pendidikan mulai jenjang terendah sampai tertinggi dengan lingkungan yang ramah dan dapat memahami mereka, tenaga-tenaga pendidik profesional yang dapat meng-handle mereka dengan baik, serta lapangan pekerjaan di mana mereka bisa bekerja sesuai dengan keahlian dan lingkungan kerja yang ramah dan memahami mereka. Dan, semua itu belum memadai di negara kita ini. Di Australia, contohnya, orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, termasuk autisme, mendapatkan tunjangan untuk merawat serta memberikan layanan terapi yang tepat bagi anaknya.
Kurangnya perhatian pemerintah terhadap mereka yang mengalami kendala secara mental tentu membuat orang-orang yang memiliki kendala secara mental, khususnya autisme, dipandang sebelah mata. Mereka dianggap lucu dan dijadikan bahan olok-olokan oleh orang-orang yang merasa dirinya normal.
Kita berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap mereka yang memiliki kendala secara mental, termasuk menyediakan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan mereka serta memberikan sosialisasi secara mendalam kepada masyarakat tentang jenis-jenis kebutuhan khusus selain kekhususan secara fisik.

.

*) Sekretaris Asosiasi Masyarakat Peduli Warga Negara Berkebutuhan Khusus (Amali-WNBK)