031-8431972 perpus@uinsby.ac.id

Opini JawaPos, 25/8/2017 9.30 wib.

Oleh Bagong Suyanto*


DI BALIK angka pertumbuhan ekonomi yang menggembirakan, ternyata terjadi anomali. Dikatakan anomali karena secara makro kondisi perekonomian Indonesia dilaporkan membaik dan angka pertumbuhan ekonomi lebih dari 5 persen. Tetapi, ternyata daya beli masyarakat justru melemah.

Jati Diri Jawa Pos, 8 Agustus 2017, mencatat terjadinya shifting belanja dari pasar konvensional ke pasar online yang merupakan salah satu penyebab seolah menurunnya daya beli masyarakat. Toko-toko ritel, industri makanan dan minuman, serta produsen ba­rang kebutuhan sehari-hari dalam satu dua tahun mengalami pukulan yang berat karena diduga masyarakat kini mulai terbiasa berbelanja secara online.

Meski banyak orang yang pergi ke mal atau pusat perbelanjaan, mereka umumnya hanya jalan-jalan dan sekadar makan. Untuk pembelian komoditas yang dibutuhkan dan diinginkan, kehadiran ekonomi online tampaknya menjadi pilihan baru yang lebih menarik. Anomali kondisi perekonomian seperti itu, jika tidak segera dicarikan jalan keluar, bukan tidak mungkin akan mengancam kelangsungan berbagai usaha ekonomi di tanah air.

.

Anomali Daya Beli

Pada era postmodern seperti sekarang ini, diakui atau tidak, perkembangan kekuatan industri daring benar-benar telah mencapai taraf yang nyaris tak terkendali. Ritzer (2010) mencatat, beberapa perubahan dalam masyarakat postmodernisme yang memicu munculnya anomali ekonomi adalah, pertama, pertumbuhan kartu kredit yang membuat masyarakat membelanjakan uang lebih banyak daripada semestinya dan melebihi uang persediaan yang ada.

Kedua, perkembangan shopping mall yang menjamur di berbagai sudut kota tidak hanya mendemonstrasikan kemunculan tanpa henti produk-produk industri budaya terbaru, tetapi juga menawarkan sekaligus membujuk konsumen untuk membeli sesuatu yang tidak mereka butuhkan.

Ketiga, perkembangan jaringan TV shopping dan cyber mall memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berbelanja setiap waktu, 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Hal tersebut memungkinkan konsumen untuk membelanjakan uang mereka lebih dari yang semestinya.

Keempat, berbagai katalog yang menawarkan produk-produk industri budaya dengan berbagai variasi memungkinkan masyarakat membeli produk dari mana saja di dunia dan mereka dibujuk untuk membeli produk yang sebetulnya tidak diperlukan.

Dewasa ini, boleh dikatakan, tidak ada satu pun aspek kehidupan masyarakat pada era post-industrial yang tidak terkontaminasi dan bisa lepas dari pengaruh kapitalisme global. Hampir semua komoditas yang ditawarkan ke pasar telah mengalami komodifika­si. Akibatnya, masyarakat akhirnya tidak lagi bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan riil mereka.

Tawaran kemudahan yang disodorkan kekuatan industri budaya di era postmodern tidak saja melahirkan perilaku konsumtif yang makin tidak terkontrol, tetapi juga menjadikan pelaku usaha berskala kecil-menengah kehilangan pangsa pasar.

Toko-toko kecil, industri lokal yang sebelumnya mampu bertahan, pelan-pelan kini mulai digerus arus kehadiran industri berskala raksasa yang memanfaatkan ekonomi daring. Meski secara fisik tidak selalu ditandai kehadiran outlet yang megah, dengan jaringan perekonomian online, kekuatan industri budaya global kini telah menancapkan kekuasaannya melalui ekonomi online yang tidak kasatmata, tetapi sangat masif.

Konsumen, pada era postmodern, tidak perlu harus pergi ke mal atau pusat perbelanjaan untuk membeli apa yang mereka inginkan. Cukup tinggal di rumah, kemudian memanfaatkan jaringan internet, mereka akan bisa membuka dan memilih ribuan bahkan jutaan produk yang dijajar dalam promosi di katalog online yang serba menarik.

Bisa dibayangkan, bagaimana mungkin pelaku usaha berskala kecil-menengah yang tidak memiliki kemampuan memanfaatkan internet untuk mempromosikan produk mereka agar mampu bersaing pada era perekonomian online yang makin menggurita?

.

Fatamorgana

Pada era post-industrial, masyarakat tidak hanya makin akrab dengan gadget, tetapi juga makin familier dengan kehidupan serta interaksi sosial di dunia cyber space -sebuah ruang halusinasi yang tercipta dari jaringan data-data komputer- yang digunakan sebagai saluran komunikasi antarmanusia dalam skala global (Piliang, 2009: 366). Pada era masyarakat informasi, masyarakat tidak hanya bisa mengonsumsi produk industri budaya melalui pemesanan via internet. Tetapi, produk budaya macam apa yang dibeli dan dikonsumsi seringkali juga diilhami dari apa yang mereka akses di internet dan karena stimulasi dari apa yang ditawarkan budaya populer.

Dalam kondisi iklim persaingan yang makin kompetitif, kehadiran ekonomi daring harus diakui merupakan ancaman serius bagi kelangsungan usaha di tanah air. Masyarakat kelas menengah ke atas yang merupakan pelaku sekaligus penikmat kemajuan pertumbuhan ekonomi adalah para konsumen sekaligus pelaku ekonomi yang dapat memetik keuntungan dari perubahan pola perilaku berbelanja masyarakat yang makin terbiasa dengan pemanfaatan jaringan online.

Sementara itu, bagi masyarakat kelas menengah ke bawah dan pelaku ekonomi berskala kecil-menengah, apa sebetulnya yang menjadi modal agar mampu tetap survive di tengah iklim persaingan yang makin kompetitif?

Anomali pelemahan daya beli masyarakat di balik performa pertumbuhan ekonomi yang membaik ibaratnya fatamorgana yang indah, tetapi mengidap racun yang berbahaya. Sikap negara yang terlena pada data-data makroekonomi, tetapi lupa memahami dampak sosial yang ditimbulkan, niscaya akan membuat kita rawan terpuruk.

.

*) Guru besar sosiologi ekonomi FISIP Universitas Airlangga Surabaya