Sufisme dakwah era kontemporer: kajian atas pemikiran dan praksis M. Fethullah Gulen

Oleh Sokhi Huda*

.

Penelitian ini terinspirasi oleh problem idealitas rahmat Islam yang tereduksi pada era kontemporer, di satu sisi, dan kepedulian sufisme dakwah M. Fethullah Gulen, dalam pemikiran dan praksisnya, terhadap problem tersebut, di sisi lain. Inspirasi ini berwujud tiga persoalan yang mendorong penelitian ini, yaitu: (1) Bagaimanakah pemikiran sufisme dakwah kontemporer Gulen? (2) Bagaimanakah praksis sufisme dakwah kontemporer Gulen? (3) Bagaimanakah konstruksi Gulen tentang dakwah dan masa depan peradaban dunia yang terkait dengan visi dan misi dakwah Islam? Fokus utama penelitian ini adalah urgensi dan eksistensi sufisme dakwah kontemporer Gulen.

Sesuai dengan substansi tiga persoalan tersebut, penelitian ini menggunakan paduan penelitian kualitatif tekstual dan lapangan, dengan pendekatan analisis interdisipliner dan multidisipliner (hermeneutis, fenomenologis, historis, dan eksistensialis). Perspektif teoretis utama penelitian ini adalah pendekatan dakwah milik Moh. Ali Aziz dan M. Abu al-Fath al-Bayanuni, dan gabungan teori-teori sufisme.

Terdapat tiga poin temuan dalam penelitian ini. Pertama, pemikiran sufisme dakwah Gulen bermuara dari pandangannya tentang sufisme sebagai kehidupan spiritual dan perjalanan seumur hidup bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Pemikiran ini berkembang dan dapat diterima oleh masyarakat global pada era kontemporer. Pemikiran ini urgen karena dibutuhkan untuk memecahkan sejumlah problem yang terjadi akibat reduksi rahmat Islam dan membangun masa depan dunia yang damai dan saling menghargai. Pemikiran ini eksis dalam perannya menyebarkan ide-ide cinta, toleransi, dan pluralisme serta menyerap banyak perhatian dari lebih 160 negara. Kedua, praksis sufisme dakwah kontemporer Gulen termanifestasikan ke dalam praktik dakwah dengan sistem metodis yang menekankan gerakan hizmet dengan taktik filantropis dan media kontemporer. Praksis ini urgen sebagai aktualisasi pemikiran dan alternatif model praksis dakwah yang sukses. Praksis ini eksis dalam perannya memproduksi golden generation secara progresif, berkontribusi terhadap peningkatan citra positif Islam dan muslim dan pembangunan moral masyarakat dunia. Ketiga, pemikiran dan praksis tersebut dapat dibentuk ke dalam konstruksi ideal sufisme dakwah kontemporer Gulen yang berbasis idealitas dakwah (rahmat global) dari al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw dengan penekanan pada praksis hizmet yang bertujuan terciptanya the Golden Era (Age of Happiness).

.

*) Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya