Antivaksin: Belajar dari Ketidaktahuan

Opini JawaPos, 1/12/2017 10.15 wib.

Oleh Yordan Khaedir*

.

KEMENTERIAN Kesehatan merilis data kejadian luar biasa (KLB) difteri sepanjang 2017. Dari data tersebut, Jawa Timur menempati urutan pertama angka KLB dengan 271 kasus dan 11 kematian dengan infeksi difteri. Disusul Jawa Barat 95 kasus dan 10 kematian. Urutan ketiga adalah Banten dengan 81 kasus dan 3 kematian.

Difteri yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphtheriae umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Penyakit ini menular serta mengancam jiwa jika tidak segera ditangani. Pencegahan difteri dapat melalui pemberian vaksin (biasanya dikombinasikan dengan tetanus).

KLB difteri sepatutnya menjadi perhatian khusus untuk segera ditangani agar tidak banyak lagi korban. Salah satu penyebab KLB difteri diindikasikan karena keengganan masyarakat mengikuti vaksinasi. Penolakan memvaksin disebabkan adanya informasi keliru dan hoax yang tidak dapat dipetanggungjawabkan.

Vaksin memiliki manfaat besar, baik dari sudut perkembangan ilmu kedokteran maupun aplikasinya. Vaksin terbukti mencegah dan menurunkan terjadinya berbagai penyakit infeksi, mulai eradikasi smallpox, polio, hingga penurunan signifikan pada angka kejadian difteri, tetanus, dan batuk rejan (pertusis). Penyakit infeksi tersebut selama ini menjadi major killers dengan angka kematian tinggi di awal abad ke-20.

Program vaksinasi, khususnya kepada anak, acap kali menjadi isu sensitif. Masih banyak orang tua yang enggan mengimunisasi anaknya dan juga mempertanyakan untung rugi pemberian vaksin. Terlebih, sebelumnya publik sempat digegerkan dengan skandal peredaran vaksin palsu.

Gerakan antivaksin sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia. Tetapi, ada sejak awal mula pemberian vaksin pada awal abad ke-19. Banyak alasan yang melatari gerakan ini. Umumnya berkaitan dengan faktor agama. Saat itu, pemuka agama menolak pemberian vaksin karena dianggap menentang takdir Tuhan. Vaksinasi memang bertujuan pada individu sehat dan preventif (pencegahan), bukan kuratif (mengobati). Konsep sakit dan sehat adalah takdir yang harus diterima, menguatkan para pemuka agama untuk menolak pemberian vaksin dan diikuti sebagian penganutnya.

Seiring kemajuan riset kedokteran, gerakan antivaksin punya alasan lain yang lebih ilmiah. Berdasar hasil penelitian seorang dokter dan ilmuwan Inggris, Andrew Wakefield, yang sempat dipublikasikan dalam jurnal kedokteran terkemuka dunia, The Lancet, pada 1998 terdapat korelasi kuat antara pemberian vaksin (terutama MMR-mumps measles rubella) dan penyebab terjadinya autisme. Penelitian ini ternyata tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Hasil penelitian Wakefield pun kemudian diuji ulang oleh puluhan ilmuwan. Setelah dua tahun menginvestigasi dan didukung penelitian lain, Lancet akhirnya menarik artikel Wakefield karena ternyata tidak ditemukan indikasi yang kuat bahwa vaksin menyebabkan autisme.

Bahkan, penelitian tentang vaksin dan autisme Wakefield menurut Flaherty (2011) dianggap sebagai ’’the most damaging medical hoax of the last 100 years’’ karena berdampak menciptakan mitos baru bahwa vaksin sangat berbahaya dan menyebabkan autisme.

Setelah kegagalan teori Wakefield, pegiat antivaksin menggunakan teori efek samping timerosal. Timerosal adalah salah satu unsur mengandung merkuri dalam vaksin yang dianggap berbahaya bagi penderita autisme. Timerosal digunakan dalam jumlah sangat kecil, yang bertujuan untuk mencegah pertumbuhan bakteri patogen dan jamur yang berbahaya pada proses pembuatan dan penyimpanan vaksin.

Setelah melewati berbagai penelitian tentang korelasi kandungan timerosal dan individu dengan autisme, ternyata timerosal tidak terbukti memperparah autisme. Penelitian pun berlanjut sampai akhirnya timerosal hampir tidak dipakai lagi sebagai unsur vaksin, khususnya yang diberikan pada anak di bawah 6 tahun. Bisa disimpulkan bahwa tidak ada korelasi antara kandungan timerosal dalam vaksin dengan derajat berat ringannya autisme dan gangguan neurologis lainnya.

Selain itu, munculnya isu bahwa kandungan vaksin yang tidak halal, vaksin sebagai bagian konspirasi asing dan kepentingan bisnis perusahaan besar farmasi, vaksin penyebab kanker, efek vaksin yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan otak anak, juga menambah deretan alasan bagi penggiat antivaksin.

Situs-situs web internasional yang menyajikan informasi berkaitan dengan gerakan antivaksin, seperti ThinkTwice, Vactruth, Safe Minds, dan VacLib, juga banyak dijadikan rujukan para penggiat antivaksin. Konten situs-situs tersebut terlihat sangat ilmiah karena didukung berbagai referensi dan testimoni. Yang menarik, gerakan antivaksin tidak dibatasi oleh strata pendidikan dan strata sosial, dari awam hingga selebriti, serta tokoh politik. Bahkan, ada juga dokter yang menjadi penggiat gerakan antivaksin walaupun jumlahnya sedikit.

Padahal, hingga kini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa vaksin berbahaya bagi tubuh manusia. Adanya kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) pada umumnya timbul demam atau bengkak di sekitar lokasi penyuntikan hanya bersifat sementara. Yang banyak terjadi adalah reaksi terhadap obat dan vaksin dapat merupakan reaksi simpang (adverse events), atau kejadian lain yang bukan terjadi akibat efek langsung vaksin.

Tujuan umum vaksinasi adalah menciptakan herd immunity, yakni banyaknya angka cakupan individu tervaksinasi yang akan melindungi individu yang tidak mendapatkan vaksinasi. Apabila mengacu pada angka herd immunity untuk campak, yakni 92–94%, artinya apabila angka persentase individu yang divaksin tersebut telah terpenuhi, individu yang tidak mendapat vaksin campak akan terlindungi dari penyakit campak.

Kita seharusnya belajar dengan KLB difteri di Jatim yang muncul sejak 2012, di mana wabah difteri banyak terjangkit pada individu yang tidak pernah mendapatkan imunisasi DPT atau pemilik riwayat imunisasi dasar yang tidak lengkap. Adanya informasi yang salah tentang vaksin berpengaruh pada angka pencapaian keberhasilan program imunisasi nasional.

.

*) Staf pengajar mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, peneliti pascadoktoral HIV Vaccine di AIDS Research Centre NIID/Tokyo University Jepang