Solusi Masalah Seks Buruh Migran

Opini JawaPos, 11/1/2018 14.55 wib.

Oleh Hudi Winarso*

.

KASUS penemuan jenazah bayi di tempat sampah toilet pesawat Etihad rute Abu Dhabi–Jakarta pada Sabtu (6/1) benar-benar membuat miris. Pelakunya diduga Hani, 37, perempuan asal Cianjur, Jawa Barat, yang menjadi buruh migran (TKI) di Uni Emirat Arab (UEA).

Kasus tersebut bisa jadi fenomena gunung es. Artinya, hanya satu dari sekian banyak kasus yang terungkap akibat permasalahan seks pada buruh migran. Selain masalah aborsi, masalah seks buruh migran adalah terjangkit infeksi menular seks (IMS) dan hubungan gelap yang memicu goyahnya bahtera rumah tangga.

.

TKI dan Risiko Seks

Tenaga kerja Indonesia (TKI) yang mengadu nasib ke luar negeri merupakan sosok-sosok pemberani sekaligus tangguh. Hidup di negeri orang, jauh dari keluarga, dengan tingkat stres yang relatif tinggi karena dituntut kerja keras, yang kinerjanya akan dinilai dengan imbalan sejumlah uang.

Latar belakang para TKI juga sangat beragam. Data BNP2TKI (Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) membeberkan bahwa tingkat pendidikan para TKI adalah sekolah dasar (33%), SMP (37%), SMA (25%), diploma (4%), sarjana (0,92%), dan pascasarjana (0,05%). Sedangkan kabupetan/kota asal terbanyak adalah Lombok Timur, Indramayu, Cilacap, Cirebon, Lombok Tengah, dan Cianjur.

Para TKI dengan tingkat stres yang tinggi dan jauh dari keluarga. Yang sudah berkeluarga menghadapi tantangan yang tidak mudah untuk tetap mempunyai komitmen tidak melakukan seks di luar nikah. Menurut Maslow, seks merupakan kebutuhan dasar manusia, juga seks bisa menjadi sarana pelepas stres (rekreasi).

Bahwa risiko dari seks bebas, selain kehamilan, abortus, dan risiko terjangkit IMS, bagi yang sudah menikah umumnya akan meningkatkan risiko kehancuran bahtera rumah tangga.

Terhadap risiko terjangkit IMS, semakin beragam pasangan seksnya, akan semakin besar risiko terjangkit infeksi menular seks. IMS jenis kencing nanah (GO) dan sifilis akan mudah diketahui dari tanda dan gejala yang muncul. Sedangkan HIV, khlamydia, dan hepatitis tidak dengan mudah diketahui, kecuali periksa laboratorium.

Seks TKI di luar nikah potensial terjadi. Namun, berbagai risiko bisa diminimalkan jika ada intervensi dalam konsep soft skill (pengetahuan) dan hard skill (keteram- pilan), selain pembekalan terkait pekerjaan saat jadi TKI.

Bahwa para TKI berangkat ke luar negeri, faktor dominan utama pastinya untuk alasan ekonomi. Kalau punya pekerjaan atau usaha di negara sendiri, dengan pendapatan yang memadai, mereka tak perlu harus menjadi TKI di luar negeri.

Dalam entrepreneurship terdapat empat prinsip tahapan yang dilakukan. Pertama, membangun empati untuk peka terhadap masalah/ fenomena. Kedua, menyusun rencana solusi untuk mendapat manfaat. Ketiga, melaksanakan rencana/calculated risk taker. Keempat, mengevaluasi pelaksanaan untuk bisa dilakukan perbaikan. Juga dalam melakukan usaha, harus berangkat dari kebutuhan masyarakat atau kebutuhan pasar.

.

Kesehatan Reproduksi

Sebagian besar TKI memiliki tingkat pendidikan tidak tinggi. Mereka berasal dari daerah dengan latar belakang masalah ekonomi. Dengan demikian, mereka perlu diberi bekal masalah kesehatan reproduksi.

Materi kesehatan reproduksi untuk TKI, antara lain, seputar seksualitas manusia, risiko IMS, dan dampak terhadap kesehatan reproduksi, lahirnya anak cacat (teratologi), kekurang suburan (infertilitas), aborsi dan dampaknya serta aspek hukum, kontrasepsi untuk mencegah kehamilan, perawatan organ reproduksi, menstruasi, kehamilan, dan kesetaraan gender.

Kasus terkait seks bisa terjadi, antara lain, karena korban tidak mengetahui yang seharusnya (bujuk rayu), tidak menyadari dampaknya, dan ketidakberdayaan.

Pengetahuan yang kurang tentang seksualitas manusia akan membuat seorang wanita potensial menjadi korban, misalnya, ”bujukan bahwa hubungan seks yang hanya sekali tak akan menyebabkan kehamilan”. Hal tersebut tidak benar karena jika sekali tersebut terjadi saat masa subur (ovulasi), potensi terjadi kehamilan akan dimungkinkan.

Tentang aborsi juga bukan hal yang sederhana, mungkin aborsinya sukses, tetapi apakah rasa berdosa karena pembunuhan janin dengan mudah bisa hilang, jawabnya tidak. Pada sisi lain, jika aborsi dilakukan dengan cara yang berisiko, bukan hanya janin yang mati, bahkan ibunya bisa juga meninggal. Lahirnya anak yang merepotkan orang tua sampai anak lahir cacat karena percobaan aborsi sering terjadi.

Tentang keterpaksaan dan ketidakberdayaan para korban kekerasan seks, penyikapannya bisa dengan pengetahuan, sikap dan tingkah laku yang bisa meminimalkan terjadinya kekerasan seks.

Dalam kesehatan reproduksi diajarkan: yang baik atau benar seperti apa; bersikap dewasa, yaitu bertanggung jawab berhadap pilihannya; dan bisa memilih pilihan yang lebih baik.

Para TKI sang pemberani yang kadang disebut para pahlawan penghasil devisa perlu kita dukung supaya menjadi pribadi dan keluarga yang sukses. Sukses memperbaiki ekonomi keluarga, bahtera keluarga utuh, terbebas dari masalah terkait seks yang dampaknya merugikan.

.

*) Ahli kesehatan reproduksi, dekan Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra Surabaya