Pendidikan Islam Multikultural: Analisis sikap ideologi dan kultural Abdurraahman Wahid sebagai basis Pendidikan Islam Multikultural

Oleh Abd. Rahman*

.

Kajian kritis terhadap pendidikan multikultural merupakan langkah progresif dalam memperkaya kazanah pengetahuan pendidikan. Asumsi tersebut, menjadi acuan dasar dari penelitian ini, yang berusaha menjawab rumusan masalah, tentang sikap ideologis dan kultural Gus Dur serta bagaimana desain dari pendidikan multikultural Gus Dur sebagai sebuah kerangka pendidikan. Hal ini menarik untuk dibahas, karena kontekstualisasi pendidikan mulitkultural Gus Dur terhadap problem kekinian dapat ditelaah secara kritis melalui kacamata teori sistem.

Secara umum, penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan kajian kepustakaan (library reaserch), melalui literatur ilmiah dan buku dokumen. Produk tulisan dari Gus Dur menjadi sumber “primer” utama untuk menjelaskan gagasan-gagasan Gus Dur dalam pendidikan multikultural mencakup sumber, metode dan kecenderungan pemikirannya. Disamping itu, untuk menguji kebenaran pendidikan multikultural Gus Dur secara kritis, dilakukan dengan kacamata teori sistem untuk mendapatkan bingkai dari pemikiran Gus Dur yang acapkali seperti potongan-potongan mozaik pengetahuan.

Dari hasil pengamatan penulis, ditemukan bahwa pendidikan multikultural Gus dur teragi kedalam tiga bagian inti. Yakni berkenaan dengan, pertama, ideologi kebangsaan, kedua, pribumisasi Islam serta, ketiga, amalgamasi sikap dan nilai kultural Gus Dur. Ketiga sikap ini merupakan fondasi awal untuk merekontruksi pemikiran Gus Dur. Karena, titik pijak pemikiran Gus Dur tidak terlepas dari tiga tema ini dalam melihat fenomena yang terjadi.

Berkenaan dengan desain pendidikan multikultural Gus Dur, rupanya penulis menemukan satu keseluruhan sistem di dalamnya. Pada elemen pertama, ialah identitas multikultural. Elemen kedua, akulturasi dan pemahaman keislaman dan kebhinekaan. Elemen ketiga, kesamaan keyakinan dan sikap keislaman. Elemen keempat, pembentukan sub culture. Dan elemen kelima, adalah tauladan. Dari kelima elemen tersebut akan menghasilkan perwujudan sikap dan pemikiran multikultural Gus Dur kepada tiga objek yakni guru, kurikulum dan siswa. Guru misalnya, dengan adanya sistem pendidikan multikultural di sekolah akan menjadikan seorang guru memiliki jiwa yang toleran, cinta akan kebajikan dan semacamnya.

Dengan demikian, kiranya pendidikan alternatif merupakan hal yang harus diperhatikan mengingat fenomena kehidupan dan persinggungan dengan sesama bangsa acapkali mewarnai kekerasan di negara ini. melalui konsep pendidikan multikultural Gus Dur inilah menjadi solusi bagi disintegrasi diantara sesama warga dalam hal etnis, suku, budaya dan agama.

.

*) Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya