Opini JawaPos, 20/2/2018 14.45 wib.

Oleh Fikri Z. Emeraldien*

.

FILM terlaris kedua di Indonesia sepanjang masa (ditonton 5,4 juta orang per 15 Februari), Dilan 1990, memang menarik untuk diperbincangkan. Bukan hanya angka penjualan tiketnya yang fantastis, tapi juga karakter Dilan (tokoh utama) yang digambarkan berbeda dengan sosok lelaki kebanyakan di media massa kontemporer. Bisa dibilang, Dilan 1990 menyajikan standar maskulinitas yang baru.

Maskulinitas sendiri, menurut Pam Nilam, disajikan secara beragama. Dalam tataran religius, misalnya, laki-laki sering digambarkan memakai peci putih, bergamis, dan anti-Western. Sementara itu, dalam wilayah sekuler, laki-laki itu macho, trendi, dan keren.

Menjadi laki-laki di Indonesia tampaknya lebih berat daripada menahan rindu. Sebab, menurut Pam, mereka memiliki beban yang berat; mulai dituntut untuk menjadi warga yang baik, dapat diandalkan keluarga, hingga memiliki sifat heroik. Hampir tidak mungkin. Itulah sebabnya dia menggunakan istilah hypermasculinity atau maskulinitas yang berlebihan.

Lalu, bagaimana Dilan? Dia tentu bukan lelaki ideal di Indonesia karena belum memenuhi standar tersebut. Dilan sering terlibat perkelahian, bahkan dengan guru sendiri. Dilan juga bukan andalan keluarga secara finansial. Sebab, dia belum bekerja. Namun, untuk sifat heroik, dia memilikinya.

.

Bad Boy

Secara visual, Dilan adalah sosok lelaki yang khas digambarkan pada zaman Orde Baru. Laki-laki pada masa itu dikonstruksi sebagai sosok yang aktif dan kuat (Ade Kusuma, 2015). Sehari-hari dia mengenakan jaket jins dan penampilannya acak-acakan. Dilan selalu terdepan dalam barisan geng motornya, menandakan bahwa dirinya panglima tempur, istilah untuk pemimpin pasukan. Singkat kata, Dilan adalah bad boy.

Uniknya, sikap bad boy itu hanya berlaku di depan laki-laki. Sebut saja Anhar, cowok yang pernah menampar Milea, kekasih Dilan. Dia dihajar habis-habisan oleh Dilan. Setelah mereka dilerai dan dibawa ke ruang kepala sekolah, Dilan masih sempat berkata, ”Kepala sekolah nampar Lia, aku bakar sekolah ini, apalagi cuma Anhar!”

Pada kesempatan lain, Dilan juga pernah berhadapan dengan guru BP-nya, Suripto. Saat upacara bendera, dia berada di barisan kelas lain. Hal itu membuat Suripto marah dan menamparnya. Tamparan tersebut berbalas tonjokan dari Dilan.

Penggambaran sosok laki-laki yang seperti itu sudah tak asing lagi di era Orde Baru hingga sekarang. Sebut saja iklan rokok dan iklan minuman berenergi yang menunjukkan sisi maskulinitas yang macho dan kuat. Atau film satu dekade lalu, 9 Naga, yang memajang poster tubuh Fauzi Baadilla yang telanjang dada dengan tagline-nya, Manusia terbaik di Indonesia adalah seorang Penjahat.

.

Supermanis ke Perempuan

Alih-alih menjadi bad boy, Dilan adalah cowok yang manis, romantis, dan sabar di depan perempuan. Romantisme yang dihadirkan Dilan pun unik, mirip dengan Rangga dalam Ada Apa dengan Cinta (AADC). Jika Rangga menggunakan puisi sastrawi, Dilan memakai puisi yang disertai lelucon.

Ketika kali pertama kenal, Dilan menemani Milea naik angkot. Di situ dia melancarkan gombalan, ”Kamu cantik. Tapi, aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore.” Keesokan harinya, Milea mendapat surat dari Dilan yang dititipkan ke Rani, teman mereka. Isinya, ”Pemberitahuan: Sejak sore kemarin, aku sudah mencintaimu – Dilan!”

Dilan tidak agresif dalam urusan cewek, apalagi posesif. Ketika mendengar kabar burung bahwa Milea berpacaran dengan Nandan, ketua kelas, yang dilakukan Dilan adalah mundur teratur. Dia juga tidak pernah seperti Rimba dan Erland di sinetron Anak Langit yang berkelahi untuk memperebutkan Vika.

Di satu sisi, Dilan memang kasar dan tidak segan menghajar orang yang mempermainkan harga dirinya. Di sisi lain, Dilan sangat lembut kepada Milea dan tidak pernah berkata kasar kepada ibu maupun guru perempuannya. Kontradiksi itu memberikan warna baru dalam representasi mas- kulinitas di media Indonesia. Kontradiksi tersebut juga menunjukkan bahwa maskulinitas bagai spektrum, di mana tidak ada idealisme tunggal dalam menggambarkannya. Seperti kata Robert Connell, maskulinitas itu fluid dan beragam.

Adanya Dilan 1990 bisa menjadi napas segar di tengah banyaknya media massa yang masih menggambarkan lelaki sebagai sosok yang macho, kasar, dan kuat. Contohnya sinetron kekinian yang sering menampilkan unsur kekerasan dalam lelaki, terutama sinetron yang menjadikan perkelahian sebagai solusi dalam mendapatkan perempuan.

Pada akhirnya, itu semua dapat menjadi cerminan bagi media massa dalam mengonstruksi citra maskulin pada laki-laki. Maskulinitas tidak hanya dilihat dari fisik, tapi juga ditunjukkan melalui sikap dan perilaku, seperti yang dilakukan Dilan kepada Milea. Cinta yang dia ekspresikan penuh kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan. Lewat Dilan, kita juga tahu bahwa lakilaki boleh jadi kuat. Tetapi, kekuatan itu lebih baik digunakan untuk melindungi perempuan.

.

*) Dosen Ilmu Komunikasi UPN ”Veteran” Jawa Timur