031-8431972 perpus@uinsby.ac.id

Opini JawaPos, 6/6/2018 11.15 wib.

Oleh Rendy P. Wadipalapa.*

.

BEBERAPA laporan tentang paham radikalisme yang menginterupsi dunia akademik pendidikan tinggi mengundang kegelisahan lain. Inilah waktu yang sangat tepat untuk mengajukan dilema: Bagaimana mungkin sebuah wilayah yang telah mendisiplinkan diri dalam standar berpikir yang ilmiah, rasional, dan logis dapat ditebang tanpa perlawanan oleh paham kekerasan yang teramat irasional serta jauh dari akal sehat? Apakah ini pertanda telak dari lambannya adaptasi sistem pendidikan terhadap perubahan yang terjadi atau pertanda kemunduran intelektualitas?

Ada setidaknya tiga kecurigaan besar atas sebab kejadian ini. Pertama, sekularisasi pendidikan dituding sebagai biang keladi infiltrasi ideologi teror ke ranah akademik. Pemisahan serbatanggung antara objek analisis konkret dan metafisis merupakan hal yang kerap dicurigai menolong masuknya terorisme.

Fokus yang terlalu berat sebelah, yang melulu berpusat pada kajiankajian ilmiah sambil mengabaikan kajian metafisis (nilai-nilai moral atau agama), telah mengeringkan dahaga peserta didik. Masuk akal seandainya tawaran kajian-kajian agama berbalut kekerasan disambar begitu saja tanpa ragu-ragu.

Kedua, sistem pendidikan kita tidak pernah siap dalam mengelola komitmen kurikulum yang nirteror. Ada semacam kegamangan dan tarik-menarik kepada siapa komitmen itu dibebankan. Perguruan tinggi tentu tidak bisa sendirian ditodong sebagai aktor yang paling siap dalam mengantisipasi terorisme. Tanggung jawab itu semestinya dijalankan ke seluruh level pendidikan, mulai usia dini hingga pendidikan tinggi. Ide dan benih sikap teror terbukti telah dipupuk jauh sebelum pelaku terorisme masuk ke perguruan tinggi.

Ketiga, intoleransi telah berkembang biak tanpa kendali di sekujur tubuh masyarakat. Hanya soal waktu hingga sikap-sikap intoleran tersebut merembes ke dunia akademik. Keluarga dengan pandangan nilai dan agama tertentu, misalnya, telah menyiapkan anak-anaknya untuk agresif terhadap pandangan lain yang berbeda.

Intoleransi dan kebencian justru dibibit dan diwariskan dari dalam keluarga yang lalu ditularkan dalam sel keluarga lainnya. Belum lagi ditambah tujuan-tujuan politis yang dalam banyak kasus justru menyediakan bahan bakar dari tumbuhnya radikalisme.

Tiga sebab tersebut memiliki satu kesamaan mendasar: Bahwa pendidikan kita belumlah berhasil dalam mengantisipasi dinamika yang terjadi. Konjungtur sosial yang kini merosot karena diancam kekerasan teror dan keberingasan ideologi intoleran tidak dapat direspons secara tangkas sekaligus menghasilkan sikap baru yang bernilai fundamental. Adalah baik dan terpuji tatkala para pimpinan institusi pendidikan mengeluarkan maklumat kecaman, atau lebih tegas memberikan sanksi dan ancaman, kepada seluruh civitas academica yang terlibat terorisme. Sanksi akademik sekaligus sanksi pidana menjadi jurus yang dikira paling tepat.

Namun, yang paling diperlukan hari ini adalah visi antisipatif dunia pendidikan kita terhadap makin masifnya kekerasan didemonstrasikan dalam pelbagai bentuk dan gayanya. Kecaman dan sanksi tentu saja penting. Namun, ia tak akan berarti apa-apa jika kita masih belum bersiap dalam menyusun bekal dalam diri sendiri.

Kekerasan makin menampakkan diri di depan mata. Karena itu, dunia pendidikan tidak dapat berdiam dan merasa telah mempertahankan martabatnya hanya dengan menghambur-hamburkan kecaman-kecaman.

Di sisi lain, kita telanjur percaya bahwa salah satu tanggung jawab seorang intelektual adalah menyediakan basis pemahaman yang senantiasa siap dalam merespons perubahan, sebaik atau seburuk apa pun perubahan itu. Dunia dilihat sebagai situs yang terus bergerak sehingga tidak berlebihan pula untuk disebut di sini sebagai kemutlakan dinamika.

Artinya, intelektual dididik untuk terus mempertajam daya nalar agar adaptif terhadap situasi yang bergeser dari detik ke detik. Namun, yang terjadi hari ini membuktikan betapa kakunya dunia pendidikan kita dalam merespons keadaan. Keterlambatan menyadari terorisme yang menjalar dan menjangkiti tubuh sendiri menjadi bukti kegagalan sistem pendidikan kita.

Karena itu, sisi baik dari ini semua adalah bahwa kita bisa melihat bagaimana moralitas akademik hari ini diuji. Sedangkah terjadi kematian dinamika dalam pendidikan kita sehingga kita hanya peduli pada progresivitas rumusrumus dan statistik matematika yang kering, tetapi secara fatal melupakan ancaman-ancaman beringas dari luar?

Apakah dunia pendidikan kita sungguh hanya menaruh perhatiannya pada target ranking dan posisi internasional lewat jurnal-jurnal ilmiah internasional yang berisiko pada ditinggalkannya tanggung jawab moralitas akademik yang bertugas mengawal sekaligus menghidupi nilai-nilai?

Jika demikian keadaannya, kita sesungguhnya sedang meninggali tempurung tertutup, yang mengurung kita dengan target-target yang serbajauh, tetapi melewatkan lubang besar yang di kemudian hari harus kita tanggung akibat buruknya.

.

*) Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya