031-8431972 perpus@uinsby.ac.id

Opini JawaPos, 8/6/2018 11.15 wib.

Oleh M. Syafi’i Anwar*

.

SETELAH pemilu pada 9 Mei 2018 dan terbentuknya kabinet Pakatan Harapan (PH), perhatian rakyat Malaysia tertuju pada Mahathir Mohamad dan Anwar Ibrahim. Dinamika politik di negeri jiran itu memang sangat dramatis. Bagaimana tidak, dua tokoh karismatik yang pernah sangat akrab, tetapi juga pernah saling sangat bermusuhan, bersatu lagi dan menjalin aliansi oposisi untuk mengakhiri pemerintahan Najib dan BN (Barisan Nasional).

Mahathir kini sudah kembali menjadi perdana menteri (PM) Malaysia dalam usia hampir 93 tahun. Dia menjadi PM tertua di dunia. Sementara itu, Anwar sudah dibebaskan dari tahanan setelah mendekam di penjara sekitar lima tahun. Kini Anwar mulai terjun lagi ke politik.

Dari perspektif politik, ada tiga faktor yang memengaruhi kemenangan PH. Pertama, kemarahan rakyat yang memuncak terhadap korupsi dan kekuasaan Najib yang semakin absolut, terutama terkait megaskandal korupsi 1MDB. Sejak kasus itu tersebar secara internasional, rakyat Malaysia malu dan sangat kecewa. Sebenarnya, sudah banyak tokoh yang menghendaki Najib diinvestigasi atau mengundurkan diri. Mahathir adalah yang paling keras menuntutnya. Tetapi, Najib justru mengembangkan kekuasaan absolut dan membungkam kritik. Dia memecat Wakil PM Muhyidin Yasin dan Menteri Kemajuan Luar Bandar dan Daerah Shafie Apdal, memberangus media online The Malaysian Insider, dan memenjarakan kartunis politik Malaysia terkenal Zunar. Melihat semua itu, rakyat Malaysia, terutama generasi mudanya, bangkit untuk “menghukum” Najib dan BN melalui kotak pemungutan suara.

Kedua, bersatunya Mahathir dan Anwar memberikan optimisme kepada rakyat Malaysia bahwa kekuasaan Najib bisa diakhiri. Sebab, tanpa persatuan keduanya, PH sulit mengalahkan BN yang punya mesin politik 3M: men, money, media. BN mempunyai loyalis fanatik, uang melimpah, dan dukungan media massa. Momentum bersejarah terjadi ketika Mahathir menemui Anwar di Pengadilan Tinggi Kuala Lumpur pada 5 September 2016. Mahathir yang pernah memenjarakan Anwar selama enam tahun menyadari bahwa dirinya memerlukan Anwar sebagai tokoh yang merakyat untuk menggalang kekuatan politik. Pertemuan dan dinamika politik sesudah itu mendorong gerakan reformasi yang meluas. Meskipun legalitas Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM) yang didirikan Mahathir ditangguhkan Komisi Pemilu Malaysia, koalisi PH bersatu dengan menggunakan lambang PKR (Partai Keadilan Rakyat) yang didirikan Anwar. Itu sebuah terobosan politik yang jitu. Selanjutnya, terdapat kesepakatan antara Mahathir, Anwar, dan pimpinan PH lainnya bahwa Mahathir nanti menyerahkan jabatan PM kepada Anwar. Tak salah jika media massa Malaysia menyebut Anwar sebagai prime minister in waiting.

Ketiga, terjadinya ”tsunami Mahathir” dan dukungan luas dari generasi muda. Sulit dimungkiri ketokohan, popularitas, dan integritas Mahathir mempunyai pengaruh besar terhadap kemenangan PH. Memori kolektif rakyat masih terkenang pada jasa-jasa Mahathir yang telah mengantarkan Malaysia menjadi negara modern. Terlepas dari sisi-sisi negatif pemerintahannya yang oleh lawan-lawan politiknya disebut otoriter dan diktator, Mahathir diakui sebagai Bapak Modernisasi Malaysia. Selanjutnya, seperti ditulis kolumnis politik Joceline Tan, Mahathir adalah tokoh yang bisa menyatukan beragam ideologi dan kepentingan politik dalam koalisi PH (The Star, 13 Mei 2018). Uniknya, banyak sekali anak muda –yang bahkan belum lahir ketika Mahathir menjadi PM Malaysia– yang menjadikannya sebagai panutan (role model). Selain membaca tulisantulisan Mahathir lewat blognya, www.chedet.com, mereka membanjiri ceramah-ceramah serta menyebarkan penyataan Mahathir lewat media sosial seperti Facebook, Instagram, dan terutama sekali WhatsApp. Karena itu, beberapa pengamat politik menyebutkan bahwa pemilu ke-14 Malaysia adalah WhattsApp election. Hasilnya adalah gelombang besar tsunami Mahathir yang melibas kekuasaan Najib dan BN.

Persoalannya sekarang, kapan Anwar menggantikan Mahathir sebagai PM? Belum bisa dipastikan. Mahathir menyatakan tidak akan lama memegang jabatan PM. Mungkin sekitar 1 atau 2 tahun saja. Tetapi, jalan Anwar menjadi PM tidak mudah. Sebab sistem politik Malaysia mengharuskan Anwar untuk mengikuti pemilu sela agar bisa terpilih sebagai anggota parlemen. Sementara itu, mantan Menteri Keuangan Daim Zainuddin yang sekarang menjadi ketua Tim Penasihat Terkemuka PM Mahathir sudah mewanti-wanti Anwar agar bersikap realistis dan lebih bijak. ”Anda semua mencoba nasib beberapa kali dalam pemilu, tetapi selalu gagal. Suka atau tidak suka, Tun Mahathir yang sukses…” ujarnya ketika bertemu dengan Anwar dan istrinya, Wan Azizah.

Banyak yang menafsirkan ucapan Daim sebagai ”peringatan” kepada Anwar agar tidak terburu-buru menggesa Mahathir melakukan transisi kepemimpinan. Orang dekat Mahathir itu tampaknya tidak menginginkan Anwar mengulangi ”kesalahan” lama, terutama ketika Anwar yang waktu itu menjadi wakil PM (1998) dianggap tidak sabar untuk menggantikan Mahathir dan mencetuskan reformasi model Indonesia yang berakhir dengan pemecataan dan pemenjaraan dirinya.

Selain Daim,mantan Menteri Penerangan Zainuddin juga mencurigai Anwar mempunyai ”agenda tersembunyi”. Itu terutama dikaitkan dengan manuver Anwar menemui sejumlah raja Melayu di Kelantan, Perak, Johor, dan Selangor serta lainnya belum lama ini. Anwar sudah membantah. Tetapi, dalam politik, setiap langkah bisa menimbulkan penafsiran yang berbeda, bergantungsiapayangmenafsirkandan apakepentingannya. Tampaknya, jalan Anwar menjadi PM masih berliku.

.

*) Associate professor pada School of International Studies (SoIS), Universiti Utara Malaysia (UUM), Kedah Darul Aman