Galau SBM PTN dan Peluang PTS

Opini JawaPos, 29/6/2016 8.30 wib.

Oleh Alwiyah Mahdaly*

HARI yang ditunggu telah tiba. Hari yang tentu saja penuh harap-harap cemas. Terutama bagi peserta yang sudah mengikuti berbagai tahapan seleksi sebelumnya. Ya, tadi malam hasil seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBM PTN) diumumkan secara online.
Tidak kurang dari 721.314 calon mahasiswa seperti menghadapi penghakiman: lulus atau tidak. Mereka yang lulus langsung dihadapkan kepada ketentuan daftar ulang serta mengikuti tahapan lain yang disiapkan di setiap perguruan tinggi penerima.
Mereka yang gagal kembali harus berjuang di etape berikutnya. Kalau mujur, masih ada peluang lewat jalur lain, jalur mandiri PTN. Jika tidak, tentu saja pilihan ke perguruan tinggi swasta (PTS) sudah harus disiapkan.
Untuk masuk ke PTS favorit, persiapannya bukan tidak mungkin juga relatif sama dengan SBM PTN. Di beberapa PTS favorit, seleksi juga berlangsung ketat. Maklum, kuota dan jumlah pendaftar terkadang berbanding terbalik, lebih banyak pendaftar.
Sudah pasti di antara 721.314 peserta tidak bisa lolos semua. Kuota dari PTN sangat terbatas. Tahun ini kuotanya tidak lebih dari 98.296 kursi. Jumlah tersebut jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan SBM PTN 2015, yakni 115.788 kursi (JP/27/6). Padahal, tahun lalu pendaftar jauh lebih sedikit, yakni 693.185 orang.
Memang masih ada peluang dari pendaftar lolos seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN) yang tidak melakukan registrasi ulang. Karena itu, mungkin saja nanti ada penambahan kuota. Tetapi, jelas kuotanya tidak mungkin banyak. Lebih-lebih SNM PTN (dahulu PMDK) merupakan jalur khusus yang memang diincar calon mahasiswa. Apalagi, jalur SNM PTN memang sudah lebih dulu digelar jika dibandingkan dengan SBM PTN yang diumumkan tadi malam.
Adapun kuota dari SNM PTN sendiri sudah besar, yakni minimal 50 persen dari jumlah pendaftar atau sekitar 150.000 mahasiswa. Sedangkan SBM PTN memiliki kuota minimal 30 persen dari jumlah pendaftar atau sekitar 90.000 mahasiswa. Untuk jalur mandiri, kuota maksimal 20 persen dari jumlah pendaftar atau total 60.000 mahasiswa.
Jumlah PTN di tanah air yang berada di kisaran 100 lembaga tentu saja tidak bisa menampung seluruh pendaftar. Apalagi, jumlah calon mahasiswa yang gagal ke PTN setiap tahun tidak sedikit. Berada di kisaran 600 ribu orang, bahkan bisa lebih dari angka itu. Praktis, semakin banyak pendaftar ke PTN, semakin sedikit yang diterima.
Melihat fakta tersebut, tidak bisa dimungkiri akan banyak peserta yang gagal. Situasi yang berat itu cenderung membuat galau. Lebih-lebih mereka cenderung menerima stereotipe ini: PTN adalah segalanya.
Inilah yang harus diperhatikan semua. Peserta, orang tua peserta, maupun stakeholder pendidikan yang lain seharusnya sudah harus bisa berpikir secara riil. PTN maupun PTS berbeda dari segi tata kelola saja. PTN berkaitan langsung dengan kebijakan pemerintah, sedangkan PTS oleh yayasan atau manajemen secara privat.
Soal kualitas, tentu tidak perlu diragukan. Begitu banyak PTS yang kualitasnya sangat bagus, bahkan melebihi PTN itu sendiri. Kompetensi yang dibangun PTS bahkan melampaui kompetensi PTN. Dan, itu yang memang terus dilakukan PTS. Terus berkompetisi, terus berbenah dan terus berkembang.
Silakan bisa dicek di laman Google peringkat univeritas di Indonesia. Salah satu di antaranya, versi webometrics (ranking web of universities) per Juni ini yang memosisikan 100 perguruan tinggi di tanah air. Di sana terlihat PTS menempati posisi yang tidak kalah dengan PTN.
Siapa yang meragukan kompetensi PTS sekelas Universitas Trisakti (Jakarta), Universitas Mercu Buana (Jakarta), Universitas Islam Indonesia (Jogjakarta), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (Jogjakarta), Univeritas Kristen Petra (Surabaya), misalnya?
Secara sederhana bisa digambarkan, PTS ke luar dan ke dalam terus berkreasi meningkatkan kompetensinya. PTS terus berupaya mengejar peluang agar bisa terus sejajar dengan PTN. Ke dalam, PTS terus berupaya meningkatkan kualitas SDM di semua level, baik karyawan maupun dosen. Selain mengirim mereka mengikuti jenjang pendidikan yang lebih mumpuni, tata kelola dan inovasi menjadi kunci bagi PTS.
Sedangkan ke luar, PTS juga sudah banyak membangun jejaring dengan perguruan tinggi di luar negeri. Bahkan, sudah banyak yang memiliki kerja sama akademik dan nonakademik guna menunjang satu sama lain. Selain itu, PTS sangat rajin mencari peluang kerja sama dengan perusahaan atau badan swasta. Tujuannya, mengikatkan kapasitas diri dalam sebuah kerja sama praktis untuk lulusannya, di dalam maupun luar negeri.
Jika hari ini belum diterima di PTN, sesungguhnya itu awal baik untuk memasuki jenjang pendidikan yang juga tidak kalah berkualitas. PTS dengan kompetensi dan kualitas terbaik jawaban untuk semua itu. Pilihan bekerja dengan hanya membawa ijazah SMA/sederajat semakin merendahkan daya saing bangsa ini.

*) Kandidat doktor Unair, rektor Universitas Wiraraja Sumenep, Madura