Uang Baru dan Idul Fitri

Opini JawaPos, 29/6/2016 8.30 wib.

Oleh Effnu Subiyanto*

ADA habit yang sebetulnya lama terjadi pada kultur masyarakat Indonesia dalam menyambut momentum Hari Raya Idul Fitri. Kebiasaan itu adalah tukar uang baru berbagai pecahan dari Rp 20 ribu, Rp 10 ribu, Rp 5 ribu, dan Rp 2 ribu. Uang tersebut akan dibagikan kepada anak-anak dan kerabat agar mereka senang karena mendapatkan uang baru yang masih bersih.
Bank Indonesia (BI) tahun ini sedikitnya harus menyediakan Rp 146 triliun atau naik 23,7 persen jika dibandingkan dengan kebutuhan tahun lalu yang sebesar Rp 118 triliun untuk memenuhi permintaan uang baru. Pada 2014 permintaan uang baru tercatat masih Rp 113 triliun.
Animo penukaran uang yang sangat tinggi terbukti dari antrean memanjang di kantor-kantor bank dan kantor BI. Penukaran uang baru pun kini menjadi komoditas yang diperjualbelikan musiman di pinggir-pinggir jalan. Praktik itu pun harus diawasi dengan ketat karena beberapa pihak menggunakan modus curang, yakni menyelipkan uang palsu untuk mendapatkan keuntungan maksimal.

Tingkatkan Konsumsi
Para pakar ekonomi melihat fenomena penukaran dan pembagian uang baru dalam beberapa perspektif. Satu pihak memandang gejala itu sebagai pendidikan kepada anak-anak kecil generasi bangsa untuk berperilaku konsumtif. Di sisi lain, berpandangan positif sebagai salah satu enabler pertumbuhan ekonomi yang masih kelabu.
Argumentasi pertama didasarkan pada pola harfiah manusia. Jika sudah memegang uang, apalagi tidak didapatkan dengan upaya keras, kecenderungannya adalah berbelanja. Belanja atas dasar keinginan. Bukan didasari faktor kebutuhan. Jadi, uang-uang baru yang berjumlah Rp 146 triliun dalam waktu singkat akan menjadi konsumsi dan tidak akan mungkin ditabung.
Namun, konsumsi itu pun akan menggerakkan ekonomi di sektor lain. Misalnya, berputarnya ekonomi mikro seperti industri makanan dan minuman kecil. Pedagang makanan keliling akan kecipratan rezeki itu plus sedikit margin keuntungan. Meskipun hasil keuntungan itu toh juga digunakan untuk memperbesar modal. Misalnya berbelanja bahan makanan kepada pedagang yang lebih besar di pasar induk. Aktivitas ekonomi seperti itulah yang membuat multiplier effect sehingga menjadi rantai pendorong pertumbuhan ekonomi yang masih suram.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diprediksi terus-menerus turun oleh beberapa lembaga dalam negeri dan dunia. BI, misalnya, meramalkan pertumbuhan ekonomi pesimistis pada 5,0-5,4 persen jika melihat kinerja pertumbuhan kuartal pertama masih 4,9 persen. Bank Dunia memprediksi pada kisaran maksimal 5,1 persen dan hanya IMF yang betul dengan ramalan 4,9 persen. Koreksi ramalan pertumbuhan ekonomi oleh lembaga-lembaga nasional dan internasional tetap akan berlangsung. Apalagi, sejarah besar yang mengejutkan baru saja terjadi dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa.
Itulah pentingnya momentum Idul Fitri. Harapannya adalah mempertahankan konsumsi masyarakat pada tingkat mikro. Berdasar penelitian OECD (2015), kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri masih cukup kuat dengan sumbangan 50 persen terhadap PDB. Artinya, PDB Indonesia saat ini Rp 12.706,98 triliun, setengahnya dihasilkan dari pergerakan ekonomi mikro tersebut. Berdasar penelitian itu, jika konsumsi masyarakat naik 0,1 persen, multiplier effect-nya akan men-drive pertumbuhan ekonomi 0,05 persen. Jika pandangannya seperti itu, penukaran uang baru memiliki dampak positif yang tidak kecil.

Biaya yang Tidak Murah
Yang harus diwaspadai dalam mencetak uang baru adalah biaya yang tidak murah bagi bangsa ini. Per tahun anggaran negara terkurangi Rp 176 triliun dengan eskalasi kenaikan konstan rata-rata 10 persen hanya untuk mengganti uang-uang yang lusuh. Termasuk, momentum kebutuhan uang baru untuk hari raya umat Islam ini. Biaya besar itu digunakan untuk mengimpor kertas khusus dari Eropa dan Rusia serta ongkos percetakan dan distribusi di seluruh wilayah Indonesia. Jadi, penggantian uang baru sebetulnya menyedot biaya yang tidak murah bila dibandingkan dengan hasilnya. Menghabiskan Rp 176 triliun untuk mendapatkan multiplier effect dari konsumsi masyarakat sekitar Rp 146 triliun.
Jika ditimbang-timbang, akan sangat bermanfaat jika dana Rp 176 triliun digunakan untuk membuat lahan sawah-sawah baru dan sistem pengairan atau membiayai proyek infrastruktur seperti membangun jalan, jembatan, dan pelabuhan. Biaya membuat uang baru Rp 176 triliun juga sangat besar jika dibandingkan dengan riuhnya target perolehan program pengampunan pajak yang hanya Rp 165 triliun. Target itu pun sangat pesimistis jika melihat pasca Brexit, AS dan Jepang berpotensi menjadi tujuan penyimpanan uang global karena memiliki daerah tax haven bila dibandingkan dengan Indonesia.
Karena itu, menjadi sangat penting menyosialisasikan kepada masyarakat agar menjaga uang-uang baru tersebut dengan lebih baik. Mencoret-coret, menstaples, melipat-lipat, atau memperlakukan uang tidak selayaknya bukan cara yang baik untuk menjaga uang. Demikian pula keteledoran sehingga menyebabkan uang basah dan akhirnya mudah robek, lusuh, serta berlubang.
Masyarakat harus pula diedukasi agar menggunakan uang alternatif secara elektronik dan virtual. Transaksi itu praktis dan menguntungkan karena tidak ada aktivitas fisik perpindahan uang yang rentan lusuh, robek, dan rusak. Cara elektronik itu, di samping sangat aman kendati tidak membebaskan dari kejahatan cyber crime, akan menekan frekuensi negara untuk mengganti uang kertasnya dengan yang baru. Dengan begitu, biaya pemeliharaan uang menjadi turun.
Akhirnya, selamat merayakan Hari Raya Idul Fitri 1437 H. Jadikanlah uang baru sebagai momentum memperbarui lembaran baru kehidupan. Jangan rusak uang baru itu agar bisa bertemu lagi pada hari raya tahun depan.

*) Advisor CikalAFA-umbrella, direktur Koalisi Rakyat Indonesia Reformis (Koridor)