031-8431972 perpus@uinsby.ac.id

Opini JawaPos, 10/7/2018 9.15 wib.

Oleh Ardi Winangun*

.

Menonton pertandingan secara langsung, datang ke stadion, dalam Piala Dunia 2018 di Rusia, tidak menjadi monopoli bagi pendukung kesebelasan dari negara-negara yang lolos ke event sepak bola terbesar empat tahunan itu.

.

DI antara ratusan ribu penggemar sepak bola yang datang ke Rusia, ratusan di antaranya berasal dari Indonesia. Meski jarak Rusia–Jakarta tidak dekat, para penggemar sepak bola dari Indonesia rela pergi ke Negeri Beruang Merah.

Mereka mempersiapkan diri, baik fisik maupun mental, jauh hari sebelum gelaran itu dimulai. Selain mengurus visa, mereka harus memesan tiket pesawat, hotel, dan yang paling penting mendapat tiket masuk stadion.

Untuk melakukan hal yang demikian tentu dikerjakan tidak sehari dua hari. Di antara mereka ada yang mempersiapkan diri setahun sebelum gelaran itu dimulai.

Alasan para penggemar sepak bola datang ke Rusia pasti dilandasi oleh banyak hal. Datang ke stadion dibanding dengan duduk manis di depan televisi pastinya beda rasanya.

Di stadion kita benar-benar merasakan hiruk pikuknya pertandingan. Dari mulai bisa menatap langsung pemain dunia, mendengar nyanyian suporter yang tak putus-putus, hingga gelegar suara gol yang diucapkan serentak oleh 45 ribu hingga 50 ribu orang yang berada di dalam stadion.

Bagi suporter kesebelasan yang negaranya lolos, pastinya wajib dan tak aneh bila mereka membawa atribut dan mengibar-ngibarkan lambang atau bendera negaranya. Mulai saat masuk Rusia, di perjalanan ke stadion, di luar stadion, hingga saat pertandingan. Bahkan, di antara mereka ada yang sangat atraktif dengan dandanan dan tampilan mereka demi membela negaranya seperti muka dicat, memakai rambut palsu yang berwarna-warni, bahkan ada yang dandan tak biasa.

Demi negaranya ada suporter dari Jerman datang ke Rusia dengan naik traktor. Ada pula pendukung Meksiko yang rela naik bus dari daratan Amerika. Lebih nekat lagi ketika suporter Mesir, demi Mohamad Salah dan sepuluh pemain lainnya, naik sepeda dari kampung halamannya.

Yang ’’aneh’’ lagi adalah orang-orang Indonesia. Negaranya tidak lolos, tapi mereka tetap menunjukkan dan mengibarkan bendera negaranya.

Hal demikian banyak dilakukan oleh orang-orang Indonesia saat nonton langsung di Rusia. Bagi orang lain, yang belum hafal bendera Indonesia yang berwarna merah- putih, tentu mereka bertanya apakah itu suporter Monaco, sebuah negara yang berada di Eropa Barat, dengan warna bendera yang sama dengan Indonesia, lolos ke Rusia?

Bisa pula mereka menduga ada orang yang mendukung Polandia, yang lolos ke Rusia, namun dianggap terbalik saat membawa benderanya. Bendera Polandia kebalikan dengan bendera Indonesia. Bendera Polandia, warna putih di atas, merah di bawah.

Mengibar-ngibarkan bendera, selendang, atau atribut lain yang melambangkan Indonesia tentu dilandasi semangat nasionalisme. Pun ada sebentuk kerinduan dan harapan akan tampilnya Indonesia di pentas sepak bola dunia.

Lolos ke Piala Dunia bisa jadi merupakan ’’takdir’’ sebuah bangsa. Ada beberapa negara yang sering bahkan selalu lolos ke arena Piala Dunia. Sebut saja Jerman, Korea Selatan, Brasil, dan Argentina. Namun, ada pula negara yang susah payah bahkan tak pernah menikmati Piala Dunia sejak hajatan itu digelar. Misalnya, Indonesia, Malaysia, China, Thailand, dan banyak negara lainnya.

Untuk bisa lolos ke Piala Dunia bagi Indonesia tentu banyak hal perlu dipersiapkan. Baik pembinaan jangka panjang, tak gaduhnya kepengurusan PSSI, maupun gelaran liga sepak bola yang profesional dan sehat.

Namun, bila ingin secara cepat mau tampil di Piala Dunia, kita bisa mengajukan diri menjadi tuan rumah. Apakah bisa Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia? Jawabannya bisa. Pengalaman menjadi tuan rumah Asian Games edisi 1962 dan 2018, Piala Asia 2017, Islamic Solidarity Games 2013, bisa menjadi daya tawar Indonesia ke FIFA.

Selain sudah mempunyai pengalaman sebagai penyelenggara pesta olahraga antarbangsa, bangsa ini juga telah mempunyai stadion yang berstandar internasional.

Kalau menyambangi kota-kota seperti Balikpapan, Samarinda, Pekanbaru, Palembang, Bandung, Bekasi, Bogor, Malang, Surabaya, dan pastinya Stadion GBK Jakarta, kita akan menemukan stadionstadion yang mempunyai kapasitas tempat duduk mencapai 45 ribu hingga 50 ribu orang. Stadion-stadion itu pun sudah bergaya stadion modern seperti di Eropa. Kalau nggak percaya, lihatlah Stadion Batakan, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Mempersiapkan diri lebih fokus dalam melakukan pembinaan sepak bola serta mengajukan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia merupakan cara bangsa ini menjawab kerinduan masyarakat akan tampilnya Indonesia di pentas sepak bola dunia.

.

*) Traveler dan penggemar sepak bola