031-8431972 perpus@uinsby.ac.id

Opini JawaPos, 13/7/2018 10.15 wib.

Oleh Ulwan Fakhri*

.

Anak yang senang main musik akan diarahkan masuk ke ruang musik. Yang jago menggambar dianjurkan masuk ke kelas menggambar. Sementara itu, anak yang senang melucu di kelas akan dimasukkan ke ruang kepala sekolah (John Morreall, 2016).

.

DALAM hidup ini, ada beberapa momen saat kita harus legawa mengakui kesalahan, meminta maaf, dan berusaha memperbaikinya, termasuk apa yang sudah kita lakukan terhadap humor.

Di institusi pendidikan, humor seakan dimakzulkan karena berafiliasi dengan kebiadaban serta kekonyolan yang membuatnya kontras dengan gambaran seseorang yang terpelajar. Perasaan senang dan bahagia di tengah aktivitas belajar-mengajar pun seperti dianggap hal yang mubazir.

Salah satu tokoh pemikir humor, John Morreall, telah merunut mengapa humor sampai diposisikan sedemikian rendahnya. Kritik itu dia sasarkan kepada Plato yang mengusung paradigma bahwa humor dapat merusak karakter seseorang, menjadikannya hina, sampai membuat seseorang kehilangan rasionya hingga tak ubahnya makhluk yang pandir serta tak bertanggung jawab.

Padahal, di sisi lain, Lowman menjelaskan bahwa inisiasi humor dalam kelas guna menciptakan nuansa bahagia dapat membangun koneksi positif antara guru dan murid serta secara cepat melibatkan para murid dalam proses belajar. Humor secara instan mampu membantu para murid untuk lebih fokus, bahkan memicu ketertarikan dan kreativitasnya.

Secara garis besar, humor berdaya kuat untuk membakar jembatan intimidasi para pendidik ke muridnya, lalu membangun jembatan baru bermateri kegembiraan, ketenangan, dan rasa percaya diri untuk menghubungkan keduanya. Dampaknya, keterlibatan dalam proses belajar-mengajar bisa mereka tempuh dengan sukacita.

Sebagai patokan, Finlandia –yang sejak era milenium dipandang sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik sedunia– sejak 2016 menerapkan kurikulum berbasis kebahagiaan di sekolah-sekolah komprehensifnya (sekolah tingkat menengah yang mengombinasikan kurikulum sekolah umum, sekolah teknik, dan sekolah modern).

Mampukah humor berperan untuk mereduksi depresi yang timbul di lingkungan sekolah? Seperti premis maslahat humor di atas, secara psikologis, humor juga obat yang mujarab. Humor dan depresi itu berelasi. Untuk mengurangi kemungkinan siswa tertekan karena sulit memahami suatu materi, misalnya, humor sudah digunakan secara terkonsep dalam beberapa tahun terakhir. Caranya, guru membawakan joke dengan tema pelajaran terkait hingga menampilkan ilustrasi dan gambar lucu dari materi yang diajarkan.

Humor juga berfungsi sebagai upaya menghilangkan stres yang dilakukan secara sadar (coping mechanism). Booth-Butterfield, Booth-Butterfield, & Wanzer (2007) dalam risetnya mengungkap bahwa interaksi yang padat dengan nuansa humor mampu membantu para pelajar mengatasi stres yang mereka derita. Humor adalah ’’sarana intelektual canggih untuk mengembangkan pola pikir baru dan mengatasi keadaan ekstrem’’. Karena itu, penggunaan humor di kelas memungkinkan siswa untuk melawan stres sembari tetap termotivasi untuk belajar.

Lantas, dari mana seorang tenaga pendidik bisa mulai menciptakan ruang kelas yang bernuansa humor? Humor yang bisa dipakai guru di dalam kelas banyak jenisnya. Ada humor tanpa target, yang meliputi permainan kata-kata (pun) dan lemparan hiperbola humoristis; humor nonverbal, misalnya memainkan ekspresi muka dan memakai intonasi vokal yang konyol; serta humor yang mengarah ke sang guru sendiri (self-deprecating), seperti menceritakan pengalaman pribadi yang memalukan untuk pelajaran bersama.

Jika Anda adalah seorang guru, jangan takut implementasi humor dapat mencoreng persona Anda di hadapan para siswa atau kehilangan kontrol akan kelas. Humor, dalam dosis yang tepat, bukanlah perusak karisma atau sistem manajemen kelas yang telah Anda canangkan.

Anda hanya membutuhkan sedikit taburan bumbu humor dalam berkegiatan di dalam kelas karena Anda adalah seorang guru, bukan komedian profesional, sehingga tak ada beban ekspektasi untuk selalu melucu. Tujuan utama Anda hadir di kelas pun bukan untuk membuat orang-orang di hadapan Anda tertawa setiap saat, bukan?

Plato, dengan teori superioritas humornya, tidak salah. Namun, dengan pertimbangan banyaknya manfaat humor saat dihadirkan dalam kelas, hendaknya para akademisi dan tenaga pengajar dengan bijak mengakui ketidaktepatan perlakuan kita terhadap humor di institusi pendidikan masa lampau, meminta maaf atas apa yang terjadi atas dampaknya, dan bersama memulai era sekolah dengan pendidikan berbasis humor dan kebahagiaan.

.

*) Peneliti Institut Humor Indonesia Kini (IHIK)