031-8431972 perpus@uinsby.ac.id

Opini JawaPos, 14/7/2018 10.15 wib.

Oleh Agoes Ali Masyhuri*

.

Orang bilang bola itu bundar, sulit diperhitungkan ke mana ia berlari, bagai peta politik saat ini. Ketidakpastian senantiasa berbicara di setiap dimensi.

.

DINAMIKA dan daya hidup masyarakat modern dengan berbagai kesibukannya membuat sepak bola sebagai hiburan bagi kita untuk mengendurkan urat saraf supaya tidak tegang. Semua itu mempunyai nilai positif sebagai alternatif agar tidak mabuk dalam teriakan dan caci maki sesama yang belakangan ini menjadi tren baru yang cukup memprihatinkan.

Mulai kiai, dosen, politisi, sampai tukang pijat ambil bagian secara aktif mengikuti siaran langsung Piala Dunia 2018 yang berlangsung di Rusia. Maka, sangat wajar dan rasional kalau ada yang sok tau seperti komentator-komentator di berbagai media, baik cetak maupun elektronik.

Keunggulan Kroasia atas Inggris 2-1 dalam semifinal bukan jaminan untuk bisa menumbangkan Prancis pada pertandingan final nanti. Tapi, harus diakui kemenangan Kroasia atas Inggris merupakan modal berharga untuk menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri dalam menghadapi partai hidup-mati melawan tim unggulan Prancis.

Sebaliknya, Prancis sebagai tim unggulan belum tentu bisa tampil lepas karena overconfidence dan memikul beban berat lantaran harus keluar sebagai pemenang sehingga dikhawatirkan merusak konsentrasi dan irama permainan yang mereka sajikan.

Ketika saya mendatangi undangan peresmian Graha Rumah Sakit Islam Surabaya, ada seorang peserta yang bertanya kepada saya, ’’Apa benar Pak Kiai masih suka main sepak bola?”

Maka, saya jawab, ’’Tidak ada larangan menurut agama bagi kiai untuk main bola, sepanjang tidak meninggalkan kewajiban agama, apalagi media dakwah lebih luas dan hakikatnya adalah perbaikan kondisi, baik secara pribadi, orang lain, lingkungan, dan masyarakat.

Saya katakan kepadanya dengan santai, ’’Mengapa mempersoalkan kiai main bola, sedangkan tidak mempersoalkan simbol-simbol yang lain seperti dokter, mahasiswa, atau pengusaha yang merokok. Padahal, merokok jelas bisa mengganggu kesehatan dan Islam sendiri menetapkan hukum makruh. Pandangan miring ini perlu diluruskan agar Anda tidak kehilangan objektivitas dalam memandang masalah.’’

Sambil menikmati lagu-lagu dari karyawati-karyawati RS Islam Surabaya, ternyata arloji saya menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dan di sebelah saya ada seorang guru besar dari Universitas Airlangga juga mengajukan pertanyaan bernada humor, ’’Kapan Indonesia bisa ikut Piala Dunia?”

Saya jawab dengan akrab dan penuh kekeluargaan, ”Gampang saja pada Piala Dunia yang akan datang, Indonesia bisa tampil di event tersebut bila para komentator sepak bola di republik ini menjadi pemain inti dengan dimanajeri oleh grup lawak Srimulat.”

Suara bernada minor, sarat kritik, dan hujatan tentang persepakbolaan nasional yang miskin prestasi kaya ekses bergema di seluruh republik ini.

Kritik itu mengandung arti positif tentang masa depan persepakbolaan nasional sekaligus untuk memperbaiki kinerja PSSI agar lebih maju dalam program dan pola pembinaan yang modern dan terencana. Sangat disayangkan bahwa jumlah stadion sepak bola yang layak pakai menurut standar internasional kalah banyak jika dibandingkan dengan lapangan golf. Maka, sangat wajar persepakbolaan kita miskin prestasi. Itu harus dicermati melalui upaya-upaya positif mengingat sepak bola adalah olahraga rakyat. Beda dengan golf.

Pemerintah harus berani melakukan terobosan-terobosan baru dan melakukan pembangunan stadion yang layak pakai. Untuk mengejar ketertinggalan kita dengan negaranegara lain. Jika sarana dan prasarana persepakbolaan kita masih jauh bila dibandingkan dengan negara-negara lain, jangan mengharap prestasi yang dibanggakan akan lahir, seperti mencari setetes air pada kobaran api.

Prestasi itu akan lahir bila ditopang oleh sumber daya manusia yang memadah dari pelatih, wasit, pemain, serta manajer yang mampu menerapkan prinsip-prinsip persepakbolaan modern.

Itu saja belum cukup. Perlu dukungan disiplin tinggi, gizi, kesehatan pemain, dukungan masyarakat, serta jiwa nasionalisme.

Bila pemain sepak bola sering dugem, keluar malam, dan merokok, berarti tidak bersikap profesional. Dia cenderung bersikap kampungan sehingga sangat sulit untuk mencapai prestasi.

Kenyataan inilah yang bisa membuat pemain itu terkadang mau menjadi peserta gala desa untuk merebut hadiah seekor kambing dengan risiko yang sangat mahal.

Pola pembinaan terarah dan berjenjang yang selama ini telah dicanangkan oleh PSSI sangat penting digalakkan di seluruh tanah air. Kalau perlu, mendatangkan pelatih asing yang berkualitas, bukan mencari pelatih asing dari orangorang asing yang sedang berlibur melakukan tur di Pulau Dewata.

Di sini, saya tahu benar pada Liga 1 sekarang ini, banyak pelatih dan pemain asing yang sebenarnya tidak lebih baik daripada pelatih dan pemain lokal yang kita miliki.

.

*) Pengasuh Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo Jatim (@gusali_bsh)