Opini JawaPos, 26/7/2018 15.45 wib.

Oleh Dewa Gede Satrya*

.

Indikasi pelesiran tahanan dan fasilitas khusus di dalam penjara menyeruak kembali setelah KPK melakukan operasi tangkap tangan (OTT) di Lapas Sukamiskin, Jumat (20/7). Pejabat lapas hingga napi menjadi tersangka. Barang buktinya ratusan juta rupiah plus mobil-mobil mewah.

.

PELESIRAN narapidana Lapas Sukamiskin ke luar penjara adalah bukti lemahnya sistem peradilan di tanah air. Tahanan khusus pidana korupsi itu kini menyayat keadilan bangsa, membuktikan tahanan masih tidak steril dari main mata antara petugas dan tahanan.

Lapas Sukamiskin menyandang titel lapas wisata. Dalam kemasan turisme, kunjungan ke Lapas Wisata Sukamiskin dengan prosedur khusus yang berbeda dengan kunjungan ke destinasi wisata lainnya tiada lain untuk mengedukasi warga bangsa untuk tidak korupsi.

Berbeda dengan eksistensi Penjara Alcatraz, Lapas Sukamiskin masih aktif. Pengalaman penulis ’’berwisata’’ ke penjara Sukamiskin, selain napak tilas jejak Bung Karno mendekam di penjara di Bandung (Sukamiskin dan Banceuy), juga untuk melihat pengelolaan penjara yang masih aktif menjadi destinasi wisata. Penjara Alcatraz yang kini sudah ditutup di California, Amerika Serikat, dulu terkenal seram. Kini Alcatraz dibuka untuk wisatawan.

Kunjungan wisata ke penjara dimaknai sebagai dark tourism.

Di negara ASEAN, Siem Riep di Kamboja, misalnya, juga mengandalkan dark tourism dari sejarah kelam negeri tersebut. Yakni, killing field pada masa Pol Pot.

Paralel dengan itu, Lapas Sukamiskin di Bandung yang dihuni banyak narapidana tindak korupsi dan tindak pidana umum (tahanan pendamping) juga dikembangkan menjadi destinasi wisata.

Bukan kebetulan dan tanpa tujuan lapas yang masih aktif tersebut diangkat menjadi destinasi wisata. Di sana, Proklamator Bung Karno pernah mendekam di bawah pemerintahan kolonial dan menulis Indonesia Menggugat. Bangunan Lapas Sukamiskin juga menjadi salah satu cagar budaya yang dilindungi pemerintah Bandung.

Ketika berkunjung ke Sukamiskin, penulis merasakan ada bisikan batin menyertai dibukanya lapas itu untuk publik. Yakni, munculnya harapan akan berhentinya berbagai kejahatan, khususnya korupsi, di kalangan anak bangsa. Sekaligus, menggugah kesadaran akan potensi pengem- bangan dark tourism di Indonesia.

Tragedi dan sisi gelap yang tersimpan di sebuah destinasi adalah salah satu daya tarik untuk dikun- jungi yang sepaket dengan learning process bagi peradaban. Berwisata di situs dark tourism menumbuhkan komitmen berlaku hidup positif, berkontribusi yang khas dan unggul di kehidupan.

Di dalam negeri, Lawang Sewu di Semarang dan Museum Fatahillah di Jakarta menjadi salah satu ikon dark tourism yang terkelola dengan baik. Destinasi dark tourism juga hampir merata di beberapa kota di Indonesia. Surabaya salah satunya.

Kota Pahlawan ini secara masif memiliki destinasi dark tourism yang kini berstatus sebagai bangunan cagar budaya. Karakter dark tourism bukanlah seperti wisata kebanyakan yang sekadar membuang uang dan mengisi waktu luang. Dark tourism nyaris mengolah batin dan menggetirkan jiwa.

.

Kualitas Hidup

Dark tourism tidak berhenti pada perasaan getir dan ngeri. Melampaui itu, sebagaimana karakteristik perjalanan wisata pada umumnya, kekhasan perjalanan wisata dark tourism memiliki bobot keprihatinan kemanusiaan yang paling besar.

Maka, sesungguhnya perjalanan wisata dark tourism adalah perziarahan peradaban, sembari mengenang dan mendoakan tragedi kehidupan yang tersimpan di destinasi yangdikunjungi,sekaligusmawasdiri dan saling mencintai kehidupan.

Hal itu senada dengan Deklarasi Manila pada 1980. Salah satunya menyatakan bahwa pariwisata tidak boleh mengabaikan permasalahan sosial. Di sinilah salah satu peran penting sektor pariwisata untuk meningkatkan kualitas hidup sebagaimana termaktub dalam Kode Etik Pariwisata Dunia.

Pertama, pariwisata bertujuan membangun saling pengertian dan saling menghormati di antara penduduk dan masyarakat. Kedua, pariwisata merupakan sarana untuk meningkatkan ’’kualitas hidup’’. Ketiga, pariwisata adalah bagian dari pembangunan berkelanjutan. Keempat, pariwisata merupakan pengguna dan penyumbang pelestarian warisan budaya. Kelima, pariwisata adalah kegiatan yang menguntungkan bagi negara dan masyarakat penerima wisatawan. Keenam, kewajiban para pemangku kepentingan pariwisata. Ketujuh, hak dasar berwisata. Kedelapan, kebebasan bergerak bagi wisatawan. Kesembilan, hak pekerja dalam industri pariwisata. Kesepuluh, implementasi kode etik. Sepuluh idealisme itu diadopsi dalam UU 10/2009 tentang Kepariwisataan.

Di ranah ini ada sebuah harapan diperkuatnya modal sosial sebagai salah satu manfaat positif dark tourism. Kiranya pengembangan dark tourism dapat menjadi salah satu upaya preventif untuk memerangi korupsi dan tindakan kejahatan lainnya di tanah air. Pariwisata memungkinkan bangsa ini menjadi lebih beradab. Mari menengok Lapas Sukamiskin.

.

*) Dosen Hotel & Tourism Business Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya