Opini JawaPos, 3/8/2018 13.30 wib.

Oleh Muhammad Andre Bakhtiar Hasibuan*

 

Pemilihan kepala daerah telah usai. Kini para pemimpin partai mulai sibuk mencari sekutu dan merebut hati partai lain. Tujuannya mendulang dukungan untuk merobohkan koalisi musuh. Peristiwa serupa terjadi di Romawi kuno. Saat Alexander the Great menjadi raja.

 

DALAM buku Alexander the Great: A Life in Legend, Alexander adalah seorang legenda Kerajaan Romawi tiga milenium lalu. Raja dengan tiga bapak itu mampu menaklukkan Persia. Negara yang adidaya dengan sekutu terbesar pada era tersebut.

Alexander sudah berbakat dalam memimpin sejak muda. Ketika remaja, dia mampu menaklukkan pelbagai kota. Salah satunya Methone. Selepas kepulangannya dari Methone, Alexander melihat sang ayah, Philip II, dikerumuni oleh gubernur kerajaan Persia. Amarah pun tersulut dalam dirinya. Alexander menolak membayar upeti kepada Darius III, raja Persia.

Tak lama setelah kejadian itu, Alexander diangkat menjadi raja menggantikan Philip II yang tewas dibunuh Pausanias karena tidak membayar upeti. Dendam Alexander memuncak dalam dada dan bersumpah akan menghancurkan Persia. Dalam ambisi menggulingkan Darius III, Alexander tidak lalu bertindak gegabah. Dia kerap menahan diri walau hati diselimuti dendam.

Pendekatan persuasif terhadap kota maupun kerajaan yang ditaklukkannya adalah kunci awal kejayaannya. Bersikap seolah berwibawa di hadapan rakyat juga dilakukan untuk membangkitkan kecintaan penduduk terhadapnya.

Melalui bakatnya dalam berorasi, putra Olympias itu mampu mengorganisasi beberapa penguasa dan rakyat kota yang berada di bawah Persia untuk membelot.

Selain membangun citra dirinya, Alexander termasuk jenderal yang cerdas. Pernah suatu malam Alexander harus berhadapan dengan 40 ribu anggota pasukan Darius. Sedangkan anggota pasukannya berjumlah kurang dari 10 ribu orang. Sembari menunggu bala bantuan dari kerajaan sekutu datang, dia menggunakan kawanan domba yang tanduknya telah diikat oleh obor. Saat siang, setiap kuda yang dibawa pasukannya dipasangi sebuah kayu untuk menggores tanah. Sehingga, setiap langkah hewan itu mengepulkan pasir.

Alhasil, melalui dua teknik ini, pasukan Roma terlihat lebih banyak dibandingkan Persia. Secara tidak langsung, dia berhasil memainkan psikologis lawan dan membuyarkan konsentrasi musuh. Setelah terdesak, akhirnya Darius III menyerah dan terbunuh di tangan pengawalnya yang membelot.

Teknik seni perang yang dilakukan Alexander rupanya bisa diterapkan dalam dunia politik.

Pertama, citra diri. Dalam buku Seni Perang, Sun Tzu mengatakan, seorang jenderal yang tidak diterima baik bukanlah seorang penolong bangsa maupun pemimpin angkatan bersenjata.

Bila diasumsikan bahwa militer adalah politik, dua hal itu berkaitan atau bisa dikatakan sama. Menurut Sun, prajurit akan senang hati mati bersama jenderalnya bila mereka dihargai layaknya anak tersayang. Di sini ada peran terpenting dari seorang pemimpin agar melebur dan menyayangi rakyat. Bila citra diri calon pemimpin baik, boleh jadi rakyat akan senang bersamanya.

Kedua, komunikasi politik. Salah satu kunci kejayaan Alexander adalah sekutunya. Bila diterapkan dalam politik Indonesia, hal itu disebut koalisi partai. Namun perlu digarisbawahi, koalisi partai tidak sekadar berbagi jabatan. Namun, dalam ada pembagian tugas untuk memelihara masyarakat yang sejalan dengan prinsip partai masing-masing.

Ketiga, memainkan psikologis lawan. Politik boleh jadi tidak bisa dipisahkan dengan persaingan. Lawan dan kawan menjadi hal yang biasa dalam pergulatan. Namun, memainkan amarah, emosi, dan sifat lawan termasuk salah satu kunci sukses kemenangan. Hal itu akan membuat dirinya penuh oleh energi, sementara pada saat yang sama menguras energi musuh agar menjadikan diri sendiri tak terkalahkan serta mampu menyerang lawan dalam keadaan tak siaga (Sun Tzu, 1994: 29). Suhu Sun Tzu mengatakan, kunci kekalahan dalam perang adalah ”amarah dan ketamakan”.

Bukan masalah menang atau kalah, tetapi bagaimana cara agar semua warga negara bersinergi dalam membangun bangsa. Seandainya Alexander yang diselimuti dendam meluapkan amarahnya tanpa menahan diri, bukan tidak mungkin kejayaan Romawi tak akan tercipta.

Begitu juga di negara ini. Seandainya para politikus, pemimpin bangsa, dan rakyat mau bekerja sama dan menahan nafsunya, bukan tidak mungkin Indonesia akan mengguncangkan dunia, bahkan yang di surga.

 

*) Mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Ampel Surabaya