Opini JawaPos, 4/8/2018 13.30 wib.

Oleh Febri Taufiqurrahman*

 

Akhir-akhir ini, nama Mahfud MD (MMD) ramai diperbincangkan sebagai salah satu kandidat kuat dalam bursa cawapres. Sebelumnya, MMD dikenal sebagai mantan menteri pertahanan, guru besar Universitas Islam Indonesia, pernah menjadi anggota DPR, sampai akhirnya menjadi ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia periode 2008–2013.

 

SAYA melakukan riset berbasis korpus dan statistik linguistik untuk mengukur kelayakan MMD menjadi capres atau cawapres. Hasil riset itu juga telah dipresentasikan dalam Seminar Internasional Laboratorium Leksikologi Leksikografi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia tahun lalu.

Pengukuran tersebut didasarkan pada 56 artikel dalam buku berjudul Sahabat Bicara Mahfud MD yang ditulis para tokoh nasional dari latar belakang pekerjaan berbeda-beda. Yaitu, akademisi, budayawan, militer, pemerintahan, peneliti, pengusaha, tokoh ormas, dan wartawan.

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software sketch engine. Penelusuran data menggunakan kata kunci (keyword) Mahfud untuk menunjukkan isi (aboutness) dan penilaian (values) yang diungkapkan para tokoh tentang sosok MMD. Penilaian didasarkan pada kalimat pernyataan para tokoh yang mengandung unsur-unsur kelebihan dan kekurangan MMD.

Setelah dilakukan penelusuran dan perhitungan, diperoleh hasil penilaian kelayakan MMD dari para tokoh akademisi (35 persen), pemerintahan (23 persen), wartawan (18 persen), tokoh ormas (12 persen), militer (4 persen), peneliti (3 persen), pengusaha (3 persen), dan budayawan (2 persen).

Tingginya persentase penilaian dari para akademisi dimungkinkan karena MMD memiliki latar belakang sebagai seorang akademisi dan guru besar hukum tata negara. Di pemerintahan, MMD pernah menduduki jabatan trias politica: legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Selain itu, MMD dikenal sangat aktif menulis di media.

Tokoh ormas melihat MMD sebagai tokoh yang dapat diterima lintas organisasi masyarakat. Ahmad Syafii Maarif, mantan ketua umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, menuliskan, ’’Dalam kultur NU, Mahfud dihormati. Dalam HMI dan Muhammadiyah dia punya tempat.’’

MMD memiliki ciri-ciri atau kekhasan karakter. Salah satu ciri atau kekhasan karakter MMD adalah berani dan bersih. Hal tersebut diperkuat kalimat pernyataan Elman Saragih, editor senior Metro TV, ’’Sosok Mahfud menjadi amat penting bagi republik yang mendambakan negarawan yang berani dan bersih, yang tidak memikul beban sejarah negatif, serta tidak memikul utang budi kepada penyandang dana.’’

Ciri-ciri atau kekhasan karakter tersebut menjadi salah satu indikator keunggulan MMD, sebagaimana kalimat pernyataan yang dituliskan Siti Zuhro, peneliti senior LIPI, ’’Semua ciri atau kekhasan karakter Mahfud tersebut berpengaruh positif terhadap penilaian masyarakat. Khususnya awak media yang secara tidak langsung ikut menyosialisasikan namanya sampai ke pelosok daerah-daerah.’’

Di sisi lain, MMD juga memiliki kekurangan. Hal tersebut diungkapkan Eddy O.S. Hiariej, guru besar hukum pidana UGM, yang menuliskan kalimat pernyataan, ’’Salah satu kekurangan yang perlu diperbaiki dari Pak Mahfud adalah terlalu banyak mengeluarkan statemen terkait berbagai isu yang selayaknya tidak dikomentari dengan mengingat kapasitas beliau sebagai pejabat tinggi negara.’’

MMD pun mengakui bahwa dirinya suka ngomong. Ketika tidak ada orang lain yang berani berbicara mengenai suatu hal, MMD berani membuat pernyataan mengenai itu. Namun, ’’Pernyataan yang sering dilontarkan Mahfud bukan sekadar berpijak atas hak untuk bicara, tetapi didasarkan dan diniatkan sebagai bagian dari sedekah keprihatinan dan keinginan untuk membangun kemaslahatan.’’ Begitulah pernyataan yang dituliskan Bambang Wijdojanto, mantan wakil ketua KPK.

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa kalimat-kalimat pernyataan para tokoh tersebut menjawab keraguan tentang sosok MMD. Tidak sedikit di antara mereka yang berharap MMD dapat mengabdi ke tahap yang lebih tinggi.

Hal tersebut juga diungkapkan Wakil Presiden Jusuf Kalla, ’’Pesan dan harapan saya adalah, tentu dengan pengalaman yang luas itu, baik di eksekutif, legislatif, dan yudikatif, Mahfud bisa mengabdi ke tahap yang lebih tinggi lagi.’’

Pada Pilpres 2019 nanti, siapa pun capres yang akan menggandeng MMD sebagai cawapresnya akan cenderung mendapat peningkatan elektabilitas dan penambahan dukungan. Terutama dari para tokoh berbagai lintas pekerjaaan berbedabeda yang merepresentasikan suara masyarakat Indonesia.

 

*) Kandidat doktor linguistik Universitas Indonesia