Opini JawaPos, 7/8/2018 13.30 wib.

Oleh Budi Darma*

 

Sigmund Freud bilang, semua orang mempunyai ”id”. Carl Gustav Jung bilang, semua orang punya shadow. ”Id” adalah nafsu ugal-ugalan. Misalnya, keinginan untuk mencuri, membunuh, membakar rumah orang yang dibencinya, dan lain-lain. Nafsu ugal-ugalan itu bisa disadari, bisa juga tidak disadari pemilik.

 

TAPI ingat, setiap orang, sadar atau tidak, juga mempunyai ”klep pengaman”, sebuah senjata untuk mengamankan diri agar tidak ada kekacauan. ”Klep pengaman” itu oleh Sigmund Freud dinamakan ”superego,” yaitu kemampuan untuk menekan nafsu ugal-ugalan.

Katakanlah, misalnya, seseorang menemukan uang dalam jumlah besar dan ingin mengambil uang itu tanpa memikirkan kerugian orang yang uangnya hilang. Itulah ”id”, nafsu negatif. Kalau ”superegonya” kuat, superego itu akan menekan ”id” agar orang itu sadar bahwa mengambil uang yang bukan haknya adalah kejahatan. Maka, orang itu akan melapor kepada polisi supaya uang tersebut bisa dikembalikan kepada pemiliknya.

Kalau ”id” terlalu kuat dan ”superego” terlalu lemah, pemilik ”id” dan ”ego” itu bisa menjadi penjahat, pemerkosa, pembunuh, dan lain-lain yang negatif. Sebaliknya, kalau ”superego” seseorang terlalu kuat dan ”id”-nya terlalu lemah, orang tersebut takut ke luar rumah karena selalu gundah, takut diolokolok, bahkan kadang-kadang juga takut dibunuh.

Yang mampu menetralkan gesekan antara ”id” dan ”superego”, menurut Sigmund Freud, adalah ”ego”. Dengan catatan, ”ego” di sini tidak identik dengan sikap egoistis. Apabila ”ego” mampu mengendalikan ”id” agar ”id” tidak terlalu kuat dan juga tidak terlalu lemah dan ”superego” juga tidak terlalu kuat dan tidak terlalu lemah, jiwa orang yang mempunyai ”ego” itu sehat.

Sesuai dengan namanya, shadow sebagai asosiasi dari ”kegelapan” mempunyai kemiripan dengan ”id”, tapi pada umumnya tidak jahat. Shadow antara lain bermakna sifat ”asosial” seseorang. Orang itu suka menyendiri, kurang suka bergaul, merasa lebih aman mendengar percakapan orang lain dibanding harus berbicara kepada orang lain.

Kalau orang itu kreatif, kesukaannya untuk menyendiri dan mendengar orang lain berbicara bisa menjadikan dia orang penting, misalnya seperti Haruki Murakami, seorang pengarang Jepang terkemuka. Kecuali Haruki Murakami, banyak juga orang yang suka menyendiri dan mengamati orang-orang lain dan ternyata bisa menciptakan temuan-temuan penting.

Sebagaimana halnya ”id” dengan gandengannya ”superego”, shadow juga punya gandengan, yaitu ”anima” bagi laki-laki dan ”animus” bagi perempuan. Semua laki-laki pasti mempunyai unsur keperempuanan, dan itulah ”anima”, dan semua perempuan pasti mempunyai unsur kelaki-lakian, dan itulah ”animus”. Tidak ada laki-laki yang tidak mempunyai unsur keperempuanan dan tidak ada pula perempuan yang tidak mempunyai unsur kelaki-lakian.

Di balik ”anima” dan ”animus” ada sesuatu yang mungkin tidak disadari atau mungkin pula disadari pemiliknya, yaitu kekaguman terhadap tokoh idola tertentu. Sadar atau tidak, idola itu bisa memengaruhi pemilik ”anima” atau ”animus”. Lihatlah, misalnya, ketika pencipta lagu dan penyanyi legendaris Gombloh masih hidup. Gombloh terkenal hidup saenaknya, banyak merokok, dan tidak memperhatikan kesehatannya.

Waktu itu muncullah orang-orang yang betul-betul ingin menjadi Gombloh. Karena itu, mereka berpakaian seperti Gombloh. Cara berjalannya mirip Gombloh. Bahkan, karena gigi Gombloh tidak utuh, beberapa orang itu memaksakan diri untuk mencabuti gigi masingmasing supaya benar-benar bisa ”menjadi Gombloh”.

Hermann Hesse, penerima Hadiah Nobel Sastra tahun 1946, juga mempunyai idola, yaitu Buddha Gautama. Karena itulah, dia menulis Siddhartha, sebuah novel mengenai perjalanan hidup Buddha Gautama.

Perlu dicatat, Hermann Hesse pernah menderita masalah kejiwaan dan tabib yang menanganinya tidak lain psikiater Carl Gustav Jung. Dari sinilah Carl Gustav Jung memunculkan teori mengenai individuasi. Seseorang yang mampu mencapai tahap self-realization, sebagaimana Hermann Hesse setelah mencapai proses kesembuhan, adalah seseorang yang berjiwa sehat.

Self-realization hanya bisa dimiliki orang-orang yang mempunyai ”persona”, di samping shadow dan ”anima/animus”. ”Persona” adalah keikhlasan untuk bersosialisasi, menghargai orang lain, dan selalu menjaga harmoni. Seseorang yang tanpa ”persona” bisa dianalogikan dengan pemain bek kanan sepak bola yang hanya memakai sepatu kanan tanpa sepatu kiri dan sebaliknya.

Siapakah pemilik karakter tanpa ”persona”? Tidak lain adalah para tokoh politik yang selalu merasa dirinya paling hebat, karena itu dengan cara membabi buta menyerang pihak-pihak lain. Ucapan-ucapan mereka selalu panas, dan karena itu bisa meretakkan persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa yang seharusnya dibuat menjadi lebih kuat. Mungkin mereka adalah orang-orang yang ingin tampak di panggung atau juga frustrasi karena ambisinya tidak bisa tercapai.

 

*) Sastrawan, tinggal di Surabaya