Opini JawaPos, 21/9/2018 8.30 wib.

Oleh Moh. Syafik R.*

 

MATINYA nalar kritis mahasiswa saat ini disebabkan beberapa faktor. Pertama, mahasiswa saat ini lebih mementingkan kehidupan pribadi daripada kehidupan rakyat. Kedua, adanya punishmen tidak wajar bagi mahasiswa yang kritis atau demonstran dari birokrasi kampus. Ketiga, pandangan buruk masyarakat tentang mahasiswa demonstran.

Kini media sosial sudah menjadi tren di kalangan masyarakat luas. Begitu pula di kalangan mahasiswa. Semua mahasiswa seakan-akan memiliki ketergantungan pada teknologi dan gadget mereka. Misalnya, ngeksis di media sosial atau bermain game.

Hal itu secara tidak langsung berdampak pada aktivitas literasi, kuliah, dan organisasi mahasiswa. Aktivitas mahasiswa saat ini terganggu oleh media sosial tersebut. Padahal, seharusnya media sosial memudahkan mahasiswa untuk belajar.

Kemajuan media yang seharusnya mereka jadikan ajang meningkatkan kemampuan dengan mudah malah dijadikan ajang bermalas-malasan. Hal tersebut juga berdampak pada kuliah yang terabaikan.

Para mahasiswa bisa merasa enggan ikut serta dalam organisasi-organisasi kampus. Seakan-akan, mereka lupa terhadap tugas mereka sebagai mahasiswa yang harus kritis, inovatif, dan aktif. Ketika melihat ketidakadilan dalam penetapan kebijakan kampus, mereka hanya diam. Ketika melihat rakyat menderita dan anak-anak kecil tak bersekolah, mereka membisu.

Saat ini semakin sedikit mahasiswa yang kritis. Mereka sulit berdemonstrasi karena takut dengan ancaman drop out dari kampus atau khawatir diskors setelah berdemo. Padahal, demonstran dilindungi undang-undang (UU) dengan landasan kebebasan berekspresi menyampaikan aspirasi.

Pandangan buruk masyarakat terhadap mahasiswa demonstran juga melatarbelakangi matinya nalar kritis mahasiswa. Masyarakat secara tidak sadar masih memandang bahwa semua demonstrasi itu anarkistis dan mahasiswa yang berdemonstrasi tergolong buruk dan kasar. Bahkan, ironis ketika masyarakat beranggapan bahwa demonstrasi tidaklah penting. Padahal, tujuan demonstrasi adalah melawan ketidakadilan.

Matinya nalar kritis tersebut mengakibatkan gagalnya demonstrasi. Mahasiswa kurang menyiapkan data terhadap apa yang sedang dituntut. Karena itu, pihak birokrasi atau pemerintah dengan mudah memberikan alasan agar aspirasi mahasiswa terpental gagal.

Tidak hanya itu, ada mahasiswa yang kurang paham terhadap data yang mereka miliki sehingga penyampaian aspirasi mereka tidak sebagus data yang mereka miliki. Akibatnya, nilai kritis mahasiswa semakin tipis. Demonstrasi dengan mudah digulingkan pihak birokrat.

Untuk mengantisipasi matinya nalar kritis dan gagalnya demonstrasi, mahasiswa harus mengatur waktu dengan baik. Saat kuliah, mereka harus fokus. Saat berorganisasi, mereka harus menjadi aktivis yang tetap tidak lupa pada kuliah.

Faktanya, mahasiswa kini hanya ada dalam satu haluan. Saat mereka kuliah, yang dilakukan hanya kuliah-pulang tanpa ikut serta dalam kajian-kajian atau organisasi kampus. Kepekaan terhadap sekitar pun sirna.

Sebaliknya, saat aktif di organisasi, tak sedikit para mahasiswa aktivis yang kuliahnya molor sampai semester sembilan ke atas. Bahkan, ada yang di-DO atau mutasi.

Di samping itu, mahasiswa kritis harus menjadi aktivis. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Aktivis harus kritis dan mahasiswa yang kritis harus menjadi aktivis. Salah satu wujud sikap kritis itu adalah melakukan demonstrasi untuk menyerukan aspirasi mahasiswa secara khusus dan aspirasi masyarakat secara tunum.

Aspirasi yang disampaikan harus menyimpan unsur kebenaran dengan data yang lengkap. Selain itu, mahasiswa yang melakukan demonstrasi harus menguasai data yang mereka miliki. Dengan itu, mahasiswa kritis akan lahir kembali dan demonstrasi tak akan pernah gagal.

 

*) Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya