Opini JawaPos, 4/1/2019 9.00 wib.

Oleh Jony Eko Yulianto*

 

Pertempuran di kancah politik memang bisa sangat panas. Baik di tataran elite maupun akar rumput. Meski begitu, seharusnya adab tidak boleh dinihilkan.

 

SAAT itu kalender Gregorian menunjukkan 10 Oktober 2008. Di Lakeville, Minnesota, Amerika Serikat, John McCain yang saat itu merupakan calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik menggelar kampanye bersama para pendukung fanatiknya untuk menantang lawan politiknya dari Partai Demokrat, yaitu Barack Obama. Dalam sebuah sesi tanya jawab, seorang perempuan parobaya mendapat kesempatan berbicara. “Saya tidak bisa memercayai Obama. Dia adalah seorang keturunan Arab!” ujarnya.

Di luar dugaan, McCain yang sejak awal menunjukkan gestur tidak setuju langsung memotong pernyataan perempuan itu, meminta mikrofon, dan berkata, “Tidak, Bu. Obama adalah seorang pria yang baik dan menyayangi keluarganya. Kami hanya tidak sepakat dalam beberapa hal terkait isu fundamental dalam mengelola negara. Itu sebabnya kami maju dalam kontestasi pemilihan presiden ini. Saya mengenal dia. Dia bukan keturunan Arab,” kata McCain.

Sebagaimana yang kita ketahui, pembelaan John McCain terhadap Barack Obama itu kemudian dikenang sepanjang masa sebagai salah satu momentum terbaik dalam kontestasi pemilihan presiden di Amerika Serikat.

McCain memang pada akhirnya kalah dan tidak terpilih menjadi POTUS (President of The United States). Tetapi, hingga akhir hayatnya, nama McCain dikenang sebagai seorang politikus dengan integritas dan etik politik yang tinggi. Pada 2013, Obama menjuluki McCain sebagai “A Person with Classic Integrity: yang berani mengatakan kebenaran walaupun berseberangan dengan pandangan politiknya.

Di Indonesia, kita sedang dihadapkan kepada situasi polarisasi sosial yang akut. Narasi-narasi politik yang dilontarkan kedua kubu pasangan calon presiden dan wakil presiden semakin mengarah kepada sesat logika (logical fallacy) argumentum ad hominem, yakni upaya untuk menyerang kebenaran sebuah klaim dengan menyerang sifat negatif yang dimiliki oleh orang tersebut. Dengan kata lain, ad hominem merupakan sebuah serangan yang ditujukan kepada pribadi orang lain dan bukan kepada substansi argumennya.

Narasi ad hominem yang ditujukan kepada kedua kubu pasangan calon presiden semakin kentara. Isu bahwa salah satu kandidat merupakan keturunan PKI atau Tionghoa, tua renta, jomblo, hingga ketidakmampuan dalam menjalankan salat dan membaca Alquran menjadi isu yang dengan intens digoreng lawan politik maupun pendukung fanatiknya.

 

Momen Refleksi Politik

Awal tahun ini adalah momen yang tepat bagi kita untuk melakukan refleksi politik. Kita harus mengakui dengan rendah hati bahwa sebagai sebuah bangsa yang menempatkan demokrasi sebagai urat nadi mengelola negara, kita masih perlu banyak berbenah. Kita sebagai masyarakat politik masih belum mampu menempatkan posisi petahana (incumbent) dan oposisi sebagai dua pihak yang beradu narasi kebangsaan. Kita masih terjebak dalam pusaran politik identitas yang mendukung sebuah pasangan calon oleh karena identitas politik dan identitas sosial yang dibawanya.

Sebagai masyarakat politik, tampaknya kita juga belum mampu memiliki nyali untuk membela lawan politik yang terkena fitnah. Apalagi jika pelaku fitnah adalah kubu pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden yang kita dukung. Hal itu menunjukkan bahwa bias favoritisme terhadap kelompok sendiri (ingroup favoritism) serta rasa tidak suka dan bahkan benci terhadap kelompok lain (outgroup derogation) masih sangat kental menjadi komposisi penyusun fanatisme politik kita.

John McCain memang bukan orang Indonesia. Tetapi, apa yang dia lakukan di Lakeville jelas merupakan standar dalam menunjukkan perilaku politik yang berkemanusiaan dan beradab. Dia rela mendapat cemooh dari pendukungnya sendiri ketimbang mendapat puja-puji dalam kerangka fitnah terhadap lawan politiknya.

Kita masih memiliki beberapa bulan terakhir sebelum menentukan pilihan politik kita. Siapa pun yang akan terpilih nanti, dalam konteks demokrasi, adalah putra terbaik bangsa pilihan masyarakat Indonesia.

Tetapi, hal yang sebenarnya jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana kita menunjukkan adab politik kita dalam mendukung dan memilih pasangan calon pemimpin bangsa kita. Apakah kecintaan kita terhadap pasangan calon ada dalam kerangka adab politik yang penuh respek dan hormat terhadap lawan politik, atau sebaliknya, fanatisme yang menihilkan pasangan calon pasangan lain dan pendukungnya. Pilihan ada di tangan kita.

 

*) Psikolog sosial di Universitas Ciputra Surabaya; mahasiswa doktoral di Massey University, Auckland, New Zealand