Opini JawaPos, 7/1/2019 11.00 wib.

Oleh Bagong Suyanto*

 

Keterlibatan sejumlah artis dalam praktik prostitusi memang bukan sekadar isapan jempol. Buktinya adalah dua pemain sinetron dan model majalah pria yang diamankan oleh Polda Jatim karena ditengarai terlibat prostitusi online.

 

MENURUT keterangan polisi, tarif kencan dua artis itu mencapai puluhan juta rupiah. Pengguna jasa layanan seksual sejumlah artis tersebut biasanya memang rela merogoh kocek dalam-dalam kare­na sensasi dan gengsi bermain dengan artis yang berbeda.

Di Indonesia, kasus artis yang memiliki kerja sambilan sebagai penjaja layanan seksual komersial sebetulnya bukan hal baru. Bebe­rapa tahun lalu polisi dikabarkan juga membongkar kasus serupa yang melibatkan artis dan model terkenal.

Seperti bisnis narkotika atau perjudian, industri seksual komer­sial dewasa ini adalah bagian dari aktivitas shadow economy yang semi tertutup, tapi di dalamnya melibatkan transaksi dana yang luar biasa besar.

Perputaran uang dalam bisnis pelacuran diperkirakan mencapai angka miliaran dolar AS. Pada 1995, misalnya, pernah dilaporkan bahwa perputaran uang dalam bisnis pelacuran mencapai 1,27 miliar ­3,6 miliar dolar AS.

Studi yang dilakukan oleh ILO (Organisasi Buruh Internasional) tentang pelacuran di empat negara Asia Tenggara memperkirakan, di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand jumlah orang yang mencari penghidupan dari pelacuran, baik langsung maupun tidak langsung, mencapai jutaan. Penghasilan dari sektor seks di empat negara tersebut diperkirakan mencapai 2 hingga 4 persen dari total GNP dan penda­patan yang dihasilkan sangat penting bagi kehidupan jutaan pekerja, selain para pelacur itu sendiri (Altman, 2007).

Sheila Jeffreys (2009) dalam bukunya, The Industrial Vagina, The Political Economy of theGlobal Sex Trade, menulis bahwa saat ini jasa layanan seksual memang telah berkembang menjadi industri tersendiri yang sangat menguntungkan. Dalam bisnis prostitusi, yang berlaku adalah hukum permintaan dan penawaran. Artinya, sepanjang ada permintaan pasar, seberapa pun intens aparat kepolisian melakukan berbagai operasi, bisnis layanan seksual itu akan tetap hidup dan menghasilkan uang yang luar biasa besar.

Para artis yang terlibat praktik prostitusi tentu sadar bahwa popularitas adalah modal yang fungsional untuk mendongkrak tarif kencan dan jasa layanan seksual yang ditawarkan. Meski mungkin mereka hanya berperan sebagai figuran atau bermain drama picisan yang tidak berkualitas, asal tercatat sebagai artis, jangan kaget jika tarif kencan yang mereka patok mencapai puluhan juta rupiah.

Sebagai mata pencaharian sam­bilan, bayaran yang melambung tinggi itu bisa dipahami jika menjadi godaan yang sulit ditepis sejumlah artis.

 

Komodifikasi Tubuh Artis

Dalam pengertian harfiahnya, pelacur pada dasarnya adalah seseorang yang bernasib malang, yang menggunakan tubuhnya sebagai komoditas dan menjual seks dalam satuan harga tertentu (Koentjoro, 2004).

Para pelacur biasanya tidak memiliki kesempatan untuk memilih pria mana yang menjadi langganannya. Sebab, bayaran atas pelayanan seks adalah elemen paling mendasar dari definisi pelacuran.

Namun, tidak bisa disamakan dengan para pelacur dari kelas bawah yang benasib malang, di kalangan artis tertentu, mereka justru sadar dan memanfaatkan kelebihan status sosialnya untuk mengomodifikasi jasa layanan seksual yang ditawarkan.

Dengan memiliki pekerjaan sambilan sebagai pelacur, mereka sadar memiliki peluang untuk lebih cepat dan lebih banyak mengumpulkan uang.

Mengemas tawaran jasa layanan seksual dengan embel-embel status artis adalah strategi yang dilakukan sejumlah artis untuk meraup peng­hasilan dalam jumlah besar dalam tempo singkat. Laki-laki hidung belang yang mudah termakan sensasi dan mimpi niscaya rela membayar berapa pun untuk dapat berkencan dengan artis yang mereka lihat di layar televisi maupun gedung bioskop.

Sepanjang masih banyak orang yang termakan sensasi dan hasrat seksual yang liar, sepanjang itu pula praktik prostitusi yang melibat­kan artis akan sulit diberantas.

Adalah tugas media massa untuk ikut memberikan sanksi bukan hanya kepada para artis yang nyam­bi menjadi pelacur dengan me­masang foto-foto mereka di halaman depan. Tetapi, ada baiknya jika laki-laki hidung belang yang mem­booking para artis itu juga ditam­pilkan. Agar yang lain berpikir seribu kali sebelum berani coba-coba mencari jasa layanan seksual ko­mersial, entah dari artis atau perempuan lain. Siapa tahu dengan cara itu permintaan akan jasa layan­an seksual dapat berkurang.

 

*) Guru besar FISIP Universitas Airlangga, menulis disertasi
tentang pelacuran