Opini JawaPos, 9/1/2019 8.30 wib.

Oleh Finsensius Yuli Purnama*

 

Privilese sebuah iklan adalah sebanyak apa pun memberikan “harapan palsu: ia tidak pernah dituntut atas “tipuannya: Proses tersebut berjalan dalam mekanisme yang dipahami bersama sebagai logika iklan.

 

LOGIKA iklan itu semakin menggejala dalam berbagai bentuk kampanye politik menjelang April 2019. Beberapa klaim yang tidak disertai data atau bahkan berlawanan dengan data resmi dari institusi berwenang berulang terjadi dan masyarakat melihat itu sebagai bentuk simulasi.

Jean Baudrillard, seorang pemikir Prancis, pada 1970 telah menangkap gejala baru dalam komunikasi melalui media. Mengutip pernyataan McLuhan, dia menyebutkan bahwa medium is the message.

Pesan tidak terletak pada isi pesan, tetapi medium itu sendiri merupakan sebuah pesan. Pesan tidak terletak pada isinya, tapi pada logika media yang digunakannya. Dengan kata lain, ketika orang tahu bahwa itu iklan atau kampanye politik, verifikasi kebenaran yang berlaku menjadi khusus.

Maka, ketika akun shitposting @ nurhadi_aldo mengangkat pasangan capres-cawapres Nurhadi-Aldo, reaksi yang muncul lebih bersifat ringan dan jenaka. Sejak postingan 25 Desember 2018, pasangan “capres-cawapres” yang menyebut diri Dildo itu telah disebut sebanyak lebih dari 3.800 kali pada 3 Januari 2019. Pembicaraan netizen meningkat sepuluh kali lipat dari kisaran 300 sebutan pada 2 Januari 2019.

Data dari Drone Emprit menunjukkan bahwa hal itu dipicu twit Jerinx, drumer Superman Is Dead, yang paling banyak diretwit selain twit dari akun @nurhadi_aldo. Tagar yang dicanangkan akun itu semakin banyak digunakan. Paling banyak adalah tagar #McQueen-YaQueen dengan 1.417 kali penggunaan. Disusul #NurhadiAldo2019 dan #DilDoForIndonesia.

Kepopulerannya didukung berbagai penggunaan singkatan yang vulgar. Dari segi nama partainya, misalnya, “capres-cawapres” yang mengklaim dirinya tampil tanpa dana kampanye tersebut didukung PUKI (Partai Untuk Kebutuhan Iman).

Selain itu, visi-misi yang mereka usung penuh dengan jargon yang vulgar: program “perekonomian juara” mereka singkat menjadi (maaf) peju. Program subsidi tagihan warnet bagi umum mereka singkat dengan istilah prostatbau.

Seperti akun shitposting lainnya, akun tersebut mengandalkan konten agresif, ironi, maupun troll tingkat rendah dalam skala yang besar. Tujuannya adalah mengkritik, menyerang, atau membangkitkan emosi pembaca. Konten yang terkesan tidak bermutu itu tercampur dengan berbagai data dari berbagai sumber.

 

Verifikasi Self-fulfilling Prophecy

Mengapa pembohong lebih menarik bagi banyak orang? Bukan karena kebohongannya atau kepandaiannya berbohong melainkan karena si pembohong menjawab harapan-harapan dan logika yang dimiliki korban kebohongannya. Begitu pun iklan. Pernahkah kita menyalahkan pembuat iklan? Secara umum tidak Kalaupun sebuah iklan ditarik dan stop tayang biasanya terkait dengan pelanggaran kode etik profesi, bukan karena diklaim melakukan penipuan dalam iklannya.

Itulah yang terlihat semakin menggejala dalam berbagai pesan kampanye politik menjelang April 2019. Logika tersebut terlihat menyusup dalam berbagai cara pembuatan pesan politik maupun pada publik secara umum.

Beberapa klaim yang bertentangan dengan data institusi yang berwenang diulang-ulang dan publik tidak terlalu hirau. Mulai muncul kecenderungan apatis dan tidak terlalu peduli dengan isu politik. “Ah, itu kan politik!” Lebih parah lagi bagi kelompok fanatik yang mentransformasi politik seperti agama yang selalu benar bagi para pengikutnya.

Maka, ketika muncul parodi politik dari pasangan Nurhadi-Aldo, publik merasa tidak terlalu heran dan menganggap hal itu tidak terlalu berbeda dengan kampanye politik dua pasangan capres-cawapres yang riil. Situasi itu justru memberikan sedikit alternatif bagi masyarakat yang sudah mulai jenuh dengan perseteruan dua kubu. Baik yang saling mengklaim diri sebagai “kampret” ataupun “cebong”.

Di sisi lain, kehadirannya menjadi bentuk kritik yang menegaskan berbagai kritik dari publik maupun akademisi terkait fenomena kampanye minim visi-misi atau kampanye sindir-menyindir. Sekaligus, itu adalah kritik bagi publik bahwa sudah saatnya mengkritisi pesan politik capres-cawapres bukan dalam logika iklan. Tanggal 17 Januari2019 debat pertama, mari kita gunakan daya kritis kita!

 

*) Peneliti di Drone Emprit Academic, pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya