Opini JawaPos, 10/1/2019 9.00 wib.

Oleh Aris Setiawan*

 

Kembali terulang. Pada 8 Januari, aparat gabungan TNI, Polri, dan kejaksaan negeri menyita buku-buku yang ditengarai memuat ajaran komunisme di toko buku Nagare Boshi, Kota Padang, Sumatera Barat. Beberapa buku yang disita adalah Konik 65, Jasmerah, dan Mangincar Bung Besar.

 

DIKUTIP dari jawapos.com (8/1/19), Mayor (Inf) P. Simbolon, komandan Rayon Militer 01 Padang Barat-Padang Utara, menjelaskan bahwa penyitaan dilakukan karena judul buku-buku tersebut bermuatan paham PKI. Kita patut curiga bahwa aparat sering kali tidak membaca isi buku secara utuh, tetapi didasarkan pada apa-apa yang tampak dan terlihat di permukaan, yakni sampul buku!

Sebelumnya, pada 26 Desember 2018, Komando Distrik Militer (Kodim) 0809 Kediri mendatangi toko buku Abadi dan Q Ageng. Mereka menyita ratusan buku yang diindikasikan memuat ajaran komunisme. Di antaranya, Benturan NU PKI 1948-1965, Gerakan 30 September 1965, Negara Madiun, Islam Sontoloyo, Komunisme ala Aidit, dan Menempuh Jalan Rakyat.

Bila dirunut lebih jauh ke belakang, kita akan menemukan kisah-kisah serupa yang terjadi di berbagai daerah. Penyitaan pada buku-buku tanpa terlebih dahulu dibaca, dipahami, dan dikaji muatan isinya secara komprehensif merupakan sebentuk tindakan sewenang-wenang dan mengesampingkan nalar intelektualitas.

Selama ini kita tidak pernah mengetahui seberapa tekun aparat membaca buku. Atau, buku-buku apa yang mereka baca. Adanya Akademi Militer (Akmil) maupun Akademi Polisi (Akpol) idealnya menjadi pusat bagi terbentuknya kesadaran dalam menghargai berbagai pandangan seputar ilmu pengetahuan.

Buku-buku adalah produk intelek-tualitas yang didasarkan pada hasil pemikiran dan penelitian. Karena itu, perbedaan menjadi sebuah keniscayaan. Dengan melarang satu buku, sedangkan melegalkan buku yang lain, paradigma dalam ilmu pengetahuan menjadi tidak berimbang. Melawan buku-buku yang dipandang berhaluan komunisme tidaklah dengan merampas dan membakarnya, tetapi dengan membuat karya tandingan sehingga yang terjadi adalah adu argumentasi, teori, konsep, dan pembuktian.

Melakukan razia buku di kala teknologi digital telah melaju dengan sangat cepat adalah sebuah kesia-siaan. Hari ini kita dapat dengan mudah mengunduh dan mendapatkan buku apa pun di dunia virtual secara masif dan bebas.

Aparat masih memandang buku semata berbentuk fisik, yang dapat diraba, dirampas, dan dibakar. Namun, mereka lupa bahwa teknologi telah melampaui itu semua. Apalagi, baik dan buruknya sebuah buku tidak semata ditentukan dari seberapa besar kualitas isi dan pesan yang dikandungnya, tetapi seberapa dewasa pembaca mampu menangkap, memilah, dan memilih isi pesan itu dengan bijak.

Dengan demikian, membaca buku-buku komunisme tidak serta-merta mengakibatkan pembacanya berhaluan komunis. Sebaliknya, membaca buku berhaluan “kanan” tidak serta-merta membuat pembacanya memihak pada demokrasi, kebebasan, atau bahkan liberalisme. Sama dengan orang yang berambut gondrong dan bertato, tidak berarti dia preman. Mendengarkan lagu Barat tidak berarti dia tidak cinta musik tradisinya.

Namun, negeri ini masih fobia dengan apa-apa yang tampak di permukaan. Buku-buku dipandang berhaluan komunisme hanya karena pengarangnya bekas PKI atau judulnya menyebut kata “komunis”.

Masyarakat masih dianggap bodoh sehingga tak bisa menentukan sendiri mana-mana yang cocok dan sesuai untuk mereka. Hari ini urusan membaca kita dibatasi dan diatur. Barangkali ke depan untuk sekadar tertawa pun kita harus meminta izin. Tak mengherankan kemudian bila ada anekdot: “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang!”

Hal tersebut menunjukkan bahwa kita bukan lagi makhluk yang bebas menentukan pilihan. Lewat aparat, negara masih berupaya menjadikan kita makhluk yang seragam, semata agar lebih mudah diatur, kata lain dari “dijinakkan”.

Jika demikian, kita tak lagi memiliki empati sebagai bangsa yang menjunjung tinggi perbedaan ilmu pengetahuan. Hanya karena membaca buku yang tak sama, kita menjadi berbeda. Hanya karena mendengarkan music tertentu, dipandang liyan. Hanya karena berambut gondrong dan bertato, tak lebih dari sekadar berandalan.

Urusan membaca membawa konsekuensi yang cukup berat. Di kala persoalan budaya melek literasi di negeri ini masih sangat lemah dan kampaye tentang pentingnya membaca digalakkan di mana-mana, kemudian masih dipertontonkan kepada kita perampasan dan pembakaran buku-buku. Aduh!

 

*) Esais, pengajar di ISI Surakarta