Opini JawaPos, 18/1/2019 11.30 wib.

Oleh Bandung Mawardi*

 

KPU menganjurkan agar orang-orang jangan bertepuk tangan selama debat perdana capres-cawapres, 17 Januari 2019. Peristiwa politik tanpa tepuk tangan? Ikhdar agak mustahil. Peraturan ltu mungkin ingin mencipta ketenangan dan keseriusan ketimbang debat di tahun 2014.

Dulu tepuk tangan terlalu laris. Tepuk tangan cenderung mengganggu ketimbang “hiburan”. Pada dua kubu, tepuk tangan bisa berarti dukungan ke jagoan atau menebar serangan ke lawan. Tepuk tangan gampang kebablasan politis: destruktif dan meresahkan. Tepuk tangan untuk pujian memang ada, tapi jarang kentara.

Kebiasaan tepuk tangan itu turut dibesarkan oleh acara-acara di industri televisi. Debat yang diselenggarakan KPU itu pun disiarkan di televisi. Pada abad XXI, Indonesia memiliki adab baru dalam memberi tanggapan atas peristiwa. Kita mengenali sebagai tepuk tangan.

Di pelbagai mitos atau legenda, kita jarang mendapat cerita dengan para tokoh keranjingan bertepuk tangan. Relief dan arca pun tak bercerita kebiasaan orang-orang memberi tepuk tangan. Kita belum mengetahui catatan paling tua untuk penerimaan dan gandrung tepuk tangan dalam sejarah Indonesia. Kita menduga saja adab bertepuk tangan tiruan dari Eropa. Tepuk tangan itu politis sampai ke pemenuhan etika dan estetika. Sejarah Indonesia pun bergerak dengan tepuk tangan, bergemuruh sejak awal abad XX sampai sekarang.

Tepuk tangan bisa menentukan tokoh dan otoritas. Sejak mula, tepuk tangan memang politis. Sindiran tepuk tangan politis pernah ditulis oleh Mahbub Djunaidi di Tempo edisi 24 Mei 1980. Soeharto berpidato di depan Sidang Pleno DPR. Pidato pardana tak membuat hadirin mengantuk. Mereka harus membuka mata, tak boleh berisik, dan konsentrasi. Pidato Soeharto adalah peristiwa penting! Selama puluhan menit, suasana hening, cuma terdengar suara dari Soeharto. Pidato selesai, suasana berubah. Mahbub Djunaidi menulis: “Tiba-tiba, sekali lagi tiba-tlba, ruang gedung serasa pecah oleh tepuk tangan riuh rendah sehingga meja kursi menggigil karena getar”.

Pada 1981, Presiden Soeharto berpidato di Gedung DPR mengenai kebijakan kenaikan gaji pegawai negeri. Kebijakan itu mendapat tepuk tangan bergemuruh. Pada 1983, Soeharto kembali berpidato dan mendapat tepuk tangan setelah selesai mengucap kalimat: “Kali ini pun negara belum dapat menaikkan gaji karena keadaan keuangan negara belum memungkinkan.” Tepuk tangan terus bergemuruh sedap Soeharto memberi kalimat-kalimat sakti tentang rencana penghematan anggaran negara. Di Tempo edisl 15 Januari 1983, berita mengenai peristiwa di MPR dijuduli “Tepuk Tangan untuk Penghematan”. Di Indonesia, pidato-pidato resmi biasa mendapat selingan tepuk tangan.

Sejarah politik di Indonesia, sejarah bertepuk tangan. Sejak pendirian serikat atau perkumpulan politik awal abad XX, tepuk tangan menjadi tanda kemauan mengubah nasib tanah jajahan. Tepuk tangan di sela atau setelah tokoh-tokoh berpidato. Tepuk tangan itu gerakan dan suara. Kita tak pernah tahu sumber pelajaran tepuk tangan bagi bumiputra. Pada saat zaman berubah dengan pelbagai kebaruan ide dan benda-benda, raga orang-orang di tanah jajahan mulai membuat suara bergemuruh. Suara itu dari tepuk tangan untuk pujian, tekad, impian, dan kemenangan.

Di Indonesia, tokoh paling sering mendapat tepuk tangan pasti Soekarno. Sejak masa 1920-an, ia sudah rajin berpidato. Tepuk tangan demi tepuk tangan diberikan kepada Soekarno. Mohammad Hatta(1929) pernah menulis sejenis kritik: “tidak tjoekoep, kalau ra’jat bertepoek tangan dengan rioeh kalau misalnja Ir Soekarno berbitjara. Tidak tjoekoep manakala ra’jat mendjadi Soekarnoist. Jang perloe jaitoe soepaja dalam hati tiap-tiap lid PNI hidoep seorang Soekarno. Pokoknja tidak tjoekoep kalau hanja satoe sadja Soekarno”. Tepuk tangan memang menentukan sebaran gagasan besar melalui pidato para tokoh. Soekarno tokoh terpenting dalam penciptaan tepuk tangan untuk pembesaran nasionalisme. Tepuk tangan berarti kekuatan massa. Soekarno sering mendapat tepuk tangan bersejarah.

Tepuk tangan tak cuma di politik. Pengalaman mengharukan pernah dialami komponis Rahayu Supanggah saat menggelar konser di Amerika Serikat (Tempo 11 Januari 1992). Di Jawa, ia sering bermain gamelan. Para penikmat musik di Jawa tak memilIki janji bertepuk tangan untuk pergelaran gamelan. Tepuk tangan atau keplok memang ada, tapi terdengar dalam garapan musik. Keplok itu tepuk tangan bermelodi sebagai iringan atau penguat alunan gamelan. Situasi mengejutkan terjadi di Arnerika Serikat. Konser gamelan digedung pertunjukan mendapat tepuk tangan dari 800 orang penonton. Supanggah terharu dan berlinang air mata. la tak mengira pertunjukan music Jawa pantas mendapat tepuk tangan bergemuruh sebagai tanda pujian tulus seperti orang-orang menonton konser musik klasik.

Pengalaman berbeda terdapat di gubahan lagu bocah. Tepuk tangan itu kegembiraan dan kebersamaan. A.T. Mahmud pernah menggubah Iagu berjudul “Tepuk Tangan”, lagu riang: Ayo, siap kawan bertepuk tangan/ Tepuk, tepuk tangan tanda gembira/ Satu dua tiga bersama-sama/ Jangan bimbang, jangan ragu bertepuk semua/ Bertepuk semua. Bocah suka bertepuk tangan dalam pelbagai peristiwa dan suasana. Pengajaran tepuk tangan berlangsung sejak dini. Di rumah dan sekolah, bocah-bocah sudah dibiasakan bertepuk tangan. Kebiasaan itu berlanjut saat mereka bertambah usia dan memberi tepuk tangan untuk pidato, konser musik, pentas teater, dan peresmian bangunan oleh pejabat. Segala peristiwa mendapat tepuk tangan. Pengecualian mungkin khotbah di masjid atau gereja. Umat bertepuk tangan di tempat ibadah mungkin sungkan. Tepuk tangan rentan mengganggu ikhtiar beriman dan bertakwa.

Kita terus mencatat tepuk tangan tak pernah reda atau sirna dari pelbagai kejadian. Di keseharian dan acara-acara besar, orang-orang tak jemu bertepuk tangan. Barangkali mereka menganut “fatwa” bahwa rajin bertepuk tangan pangkal berlimpahan pahala. Tepuk tangan tentu tak selalu pujian, mufakat, ketulusan, girang dan ketakjuban. Tepuk tangan mungkin bermakna basa-basi dan munafik. Dakwaan itu sering terasakan saat kita muak dan malas mendengar pidato-pidato pejabat, artis, motivator, pengusaha, rektor, dan politikus. Tepuk tangan tak wajib selalu ada. Kita pun memerlukan hening sejenak, kepala menunduk, tatapan mata, dan bersuara lirih. Begitu.

 

*) Kuncen Bilik Literasi