Opini JawaPos, 19/1/2019 9.30 wib.

Oleh Leopoldus G. Sitohang*

 

PROSTITUSI kerap menjadi bahan diskusi hangat di Indonesia. Apalagi jika prostitusi tersebut menyeret nama artis. Sebab, hal itu seperti anomali. Selama ini, kebanyakan analisis menyebut faktor terbesar yang membuat perempuan terjerumus ke dunia prostitusi adalah kemiskinan. Karena itu, ketika para artis terlibat dalam prostitusi, timbul banyak pertanyaan. Bagaimana mungkin atau mengapa artis yang memiliki citra dan kekayaan malah terjerumus dalam prostitusi?

Seperti halnya yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan. Saat aparat Polda Tawa Timur mengungkap kasus prostitusi online yang melibatkan artis VA.

Prostitusi yang melibatkan kalangan artis merupakan fenomena lama yang tampaknya, akan selalu baru atau masih akan terjadi. Sebelum VA, ada banyak juga artis lain yang pernah terlibat dalam prostitusi. Robby Abbas, seorang narapidana kasus mucikari artis, melalui jalur online pada 2015 mengakui, selama kurang lebih sepuluh tahun dirinya telah menjajakan lebih dari seratus artis kepada para pengusaha dan pejabat hidung belang.

Barangkali orang sulit memahami bagaimana mungkin artis terlibat dalam prostitusi. Banyak orang berasumsi bahwa artis merupakan profesi yang membahagiakan dan menjanjikan. Dengan menjadi artis, orang akan hidup bergelimang harta dan dapat memiliki segala apa yang diinginkan. Tapi, kenyataannya, justru tidak sedikit artis yang terlibat dalam prostitusi. Karena itu, muncul pertanyaan, mengapa banyak artis yang terlibat dalam dunia prostitusi?

Hemat saya, salah satu penyebab terbesar banyak artis terlibat dalam prostitusi adalah gaya hidup konsumerisme-hedonisme. Banyak artis yang mencari kesenangan, kenikmatan, pelayanan, pujian, sanjungan, dan pengakuan. Mereka menginginkan barang-barang baru, fashion yang trending, melakukan perawatan diri yang berlebihan, wisata ke berbagai negara, dan masih banyak lagi. Segala usaha itu dilakukan demi merawat citra diri dan status sosial mereka sebagai public figure. Mereka tidak menyadari bahwa akhirnya mereka hidup dalam konsumerisme-hedonisme.

Secara singkat, konsumerisme-hedonisme adalah gaya hidup yang mahal dan mewah. Banyak artis, terlebih artis yang masih sangat hijau dalam dunia entertainment, terkadang tidak mampu memenuhi gaya hidup mereka yang mahal dan mewah jika hanya mengandalkan penghasilan dari profesi sebagai artis.

Mereka pun memilih jalan pintas untuk mendapatkan uang secara instan, yakni dengan menjerumuskan diri ke dalam prostitusi. Mereka rela menjajakan diri, harga diri, dan nama baik mereka kepada para pejabat dan pengusaha yang berani membayar mereka dengan jumlah uang yang fantastis dan menggiurkan. Jadi, ada hubungan kausalitas antara pemenuhan gaya hidup konsumerisme-hedonisme dan prostitusi artis.

Negara kita menganggap prostitusi sebagai praktik yang melanggar norma dan hukum. Razia dan penutupan lokalisasi yang dilakukan terus-menerus membuktikan bahwa negara ingin memberantas prostitusi. Negara juga memberikan sanksi kepada orang yang terlibat dalam prostitusi.

Tapi, tampaknya, usaha-usaha itu belum menjamin hilangnya prostitusi, terlebih dalam kaitan dengan prostitusi artis. Mengingat bahwa akar dari prostitusi artis adalah gaya hidup konsumerisme-hedonisme. Negara harus memikirkan jalan lain untuk menyentuh akar permasalahan tersebut. Tidak sekadar razia dan menutup lokalisasi.

 

*) Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana, Malang