Opini JawaPos, 26/1/2019 9.30 wib.

Oleh Wildan Ibrahimsyah*

 

MENJELANG pemilihan presiden, debat capres-cawapres tidak hanya menjadi tontonan yang selalu dinanti-nanti. Ia adalah ajang perdebatan sebagai tolok ukur masyarakat dalam mengambil keputusan arah hak suaranya. Sebab, sebagai warga negara yang baik, memberikan hak suara merupakan kewajiban dalam menyukseskan pemilu.

Namun, dalam tahun-tahun belakangan ini, jagat informasi dipenuhi kasus, isu, bahkan hoax terkait panasnya kompetisi. Dan itu seakan menjadi sajian masyarakat sehari-hari. Karena itu, ketika dihadapkan dengan persaingan politik yang kian terasa tahun ini, wajar jika masyarakat sangat menunggu keseruan debat capres-cawapres. Mereka menanti-nanti kepastian informasi gagasan dan program dari kedua kubu. Namun, siapa mengira bahwa hasil perdebatan perdana kemarin tidak seperti apa yang diharapkan rakyat.

Harapan itu sudah pupus dalam hal kisi-kisi debat yang telah ditawarkan KPU. Seakan kedua kubu sudah saling memahami sehingga timbul kesepakatan dari keduanya. Sama-sama setuju diberi debat.

Ekspektasi pemberian kisi-kisi sebelum debat itu sebenarnya positif. KPU berharap pembagian kisi-kisi tersebut membuat capres-cawapres lebih siap dan matang dalam penyampaiannya. Lebih lugas menjawab pertanyaan. Sekaligus menghasilkan perdebatan dengan porsi yang mudah dimengerti masyarakat. Namun, lagi-lagi yang diharapkan malah tidak muncul.

Jika debat kemarin diamati secara saksama, dapat disimpulkan bahwa belum ada kepastian program-program dari kedua kubu. Yang banyak muncul dari perkataan kedua kubu kemarin hanyalah penyampaian sebuah retorika normatif.

Pertanyaan yang disampaikan dari kedua kubu pun masih berisi upaya menjatuhkan lawan. Jawabannya pun bukan sesuatu yang memperkuat diri atau menawarkan solusi. Akibatnya, perdebatan jadi tidak rasional dan lebih mengedepankan perasaan.

Jika melihat sampai akhir perdebatan perdana kemarin, kita akan sering menemui moderator mengucapkan, “Sekali lagi tolong dijawab sesuai dengan apa yang dibahas? Dan kata-kata itu hampir berulang-ulang dilontarkan kepada kedua kubu.

Secara objektif, penyampaian kubu 01 terasa sangat santai. Seiring berjalannya debat, terlihat capres 01 membalas pertanyaan dari kubu 02 dengan membawakan materi yang agak emosional. Begitu juga capres-cawapres 02 yang terlihat tegas dan mampu menjawab dengan cukup lantang dan lancar. Tetapi, setelah debat kemarin, jika kita cek keaslian data yang dipaparkan, sejumlah pernyataan dan contoh yang disampaikan tidak sesuai fakta.

Perdebatan kedua kubu terasa memprihatinkan. Seakan kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang tidak mungkin dapat kita pilih. Padahal, golput bukan jalan keluar. Golput tidak berguna jika hanya dilakukan segelintir orang. Kecuali jika seluruh rakyat Indonesia tidak memilih sehingga harus dimungkinkan ada tawaran sistem baru dalam pemilihan presiden. Tapi, tentu itu mustahil.

Karena itulah, meski ragu dalam bersuara, kita masih bisa menyikapi pemilu tidak hanya melalui debat perdana. Diharapkan masyarakat bersabat. Sebab, masih ada empat debat yang akan datang dengan tema yang berbeda-beda. Itu bisa jadi sarana referensi bagi rakyat untuk memilih. Sepanjang kita tetap sadar diri dan berpikir bahwa debat nanti berpengaruh pada masa depan bangsa. Debat yang membuat masyarakat mengenali program-program kandidat. Itu bisa jadi tolok ukur menentukan suara. Dan, jangan lupa untuk mengecek keaslian data yang dipaparkan.

Semoga, pada debat mendatang, para kandidat sudah siap. Mereka bisa mengoreksi kekurangan-kekurangan pada debat sebelumnya. Semoga. Dengan begitu, pamor debat dapat naik. Bisa menjadi sarana pemaparan program kerja pada masa kepemimpinan presiden anyar nanti.

Sedangkan kita? Jadilah pemilih cerdas dengan mengenal kandidat melalui debat. Sebab, masa depan bangsa tidak hanya dari kata orang!

 

*) Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Airlangga, Surabaya