Opini JawaPos, 28/1/2019 10.30 wib.

Oleh Dewa Gde Satrya*

 

Tragis, demikianlah nasib yang harus ditanggung AA Narendra Prabangsa. Hidup wartawan Radar Bali itu berakhir di tangan tujuh pembunuh berdarah dingin. Mereka adalah I Nyoman Susrama, I Nyoman Rencana, I Komang GD Wardana, Komang Gede, Dewa Sumbawa, Endy, dan Jampes. Susrama, otak pembunuhan keji, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

 

KETUA majelis hakim yang mengadili perkara ini, Djumain, menyatakan bhawa pembunuhan yang dilakukan terdakwa sangat keji, kejam, tidak manusiawi serta bertentangan dengan ajaran ahimsa (tidak membunuh).

Selain itu, intelektual terdakwa yang tidak dipakai untuk melakukan perbuatan yang baik sangat melanggar ajaran agama Hindu dan perbuatannya sangat meresahkan orang lain (Jawa Pos, 16/2/2010). Kini Susrama mendapat keringanan hukuman 20 tahun penjara.

Kematian Prabangsa sekurangnya menyayat tajam dua ranah sekaligus. Pertama, karena profesi Prabangsa sebagai wartawan teramat vital dan strategis dalam peradaban kebangsaan kita.

Penindasan dan pembunuhan terhadap petani, nelayan, buruh, filsuf, pedagang, sastrawan, rohaniwan, seniman, wartawan, dan pendidik adalah kejahatan terhadap eksistensi kehidupan sebuah bangsa.

Kedua, tragedi itu terjadi di Bali. Dilakukan orang-orang Bali. Korbannya orang Bali. Tidakkah itu merupakan kontras yang tajam dengan image Bali dan orang Bali yang dikenal harmonis, damai, dan hangat?

 

Sandyakalaning

Judul Sandyakalaning Bali di atas terinspirasi buku dengan judul yang sama yang ditulis I Ngurah Suryawan (2005). AA Ari Dwipayana dalam pengantar buku itu menyatakan, sandyakalaning yang merupakan istilah pada detik-detik menjelang kehancuran Majapahit. Asalnya kata sandyakala, peralihan dari siang menuju malam.

Ketika ditambahkan -ing menjadi sandyakalaning, maka maknanya akan berubah dari sekadar soal waktu ke sesuatu yang berhubungan dengan proses menuju kegelapan atau bahkan kehancuran. Dalam buku itu, Suryawan menyebutkan tiga peristiwa kekerasan yang memperlihatkan wajah lain Bali. Pertama, peristiwa kekerasan masal yang menimbulkan korban kurang lebih 80 ribu hingga 100 ribu manusia di Bali pada 1965.

Kedua, kekerasan politik yang terjadi dalam peristiwa Buleleng berdarah pada 26 Oktober 2003 yang akhirnya membunuh dua bersaudara dalam peristiwa itu.

Ketiga, kekerasan atas nama adat yang menimpa I Wayan Kantun dan I Nengah Data di Desa Batudawa Kaja, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem. Wayan Kantun menjadi korban kekerasan warga di desanya. Dia dituduh telah mempraktikkan pengleakan (ilmu hitam).

Dengan menggambarkan tiga peristiwa kekerasan masal itu, Suryawan ingin menunjukkan bahwa kekerasan sudah ada di mana-mana di Bali.

Bahkan, secara tajam dia menuliskan, dalam setiap pentas politik, manusia di Bali berperilaku di luar bayangan sopan, ramah, lugu, dan manis yang tersebar dalam brosur-brosur pariwisata. Tapi, penuh cadar menyeramkan yang membuat ibu dan anak-anak ketakutan melihat kekerasan begitu vulgar terjadi.

Singkatnya, kekerasan saat ini bukan hanya milik “negara”, tetapi perilaku tersebut diwarisi oleh rakyat.

Kontras dari semua itu, kita meyakini keseharian orang Bali membuat mereka dinilai jujur dan baik. Hal itu disebabkan ajaran Hukum Karma Pala (agama Hindu) dan Dasa Sila (moral Hindu) yang meresap dalam diri dan hidup mereka. Setiap karya dan kegiatan sosial senantiasa mempunyai hubungan dengan agama mereka.

Tak hanya itu, penerapan filosofi Tri Hita Karana dan taksu dalam keseharian warga Bali menjadi inspirasi kehidupan pribadi dan sosial yang saleh. Implementasinya, dalam konteks pembangunan, sektor pariwisata khususnya, tidak hanya berorientasi profit, tetapi juga menciptakan nilai-nilai positif bagi kehidupan umat manusia, lingkungan hidup, dan budaya lokal.

Kejahatan yang dilakukan Susrama cs, dan orang Bali lainnya, tidak hanya merusak tata nilai harmonis Bali. Lebih dari itu, tragedi kekerasan yang melibatkan warga Bali sebagai pelaku menandakan antitesis kebudayaan dan peradaban asli Bali yang dilestarikan turun-temurun hingga sekarang.

Kerusakan peradaban karena perusak kebudayaan (culture hitman) yang tiada lagi menghidupi ajaran-ajaran suci agama, tidak mementingkan Karma Pala, yang tidak lagi membedakan Bali dan bukan Bali.

Akhirnya, mampukah kaum milenial Bali mewarisi dan menghidupi nilai-nilai luhur budaya Bali yang menjunjung tinggi harmoni dan persaudaraan?

 

*) Dosen Hotel & Tourism Business Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya