Opini JawaPos, 29/1/2019 9.30 wib.

Oleh Abd. A’la*

 

Maraknya penyeberan kabar hoax memperlihatkan sampai batas tertentu, pendidikan kita belum mampu sepenuhnya menghasilkan manusia-manusia terdidik, terutama dari sisi etik dan moral. Maka kini saatnya dunia pendidikan yang penuh paradoks ini dibenahi.

 

PENYEBARAN berita provokatif, termasuk hoax, terutama tentang tokoh, kelompok, atau kondisi Indonesia dewasa ini memperlihatkan betapa saat ini moralitas dan keadaban publik nyaris mencapai titik nadir. Melalui media sosial, seseorang atau kelompok -yang terorganisasi atau tidak- mengunggah berita yang tidak sesuai dengan fakta atau sesuai dengan fakta tapi diberi tafsir provokatif yang mengada-ada.

Fenomena semacam itu tentu sangat memprihatinkan. Bukan saja karena membuat atau menyebarkan berita bohong atau provokatif dianggap biasa, tapi lebih dari itu, provokasi dan hoax yang disebarkan tersebut tampaknya bertujuan mendiskreditkan atau bahkan membunuh karakter seseorang, kelompok, atau masyarakat tertentu.

Lebih ironis lagi, pengunggah dan penyebar hoax tidak mengenal tingkat pendidikan dan latar belakang sosial tertentu. Tidak sedikit yang sudah berpendidikan tingkat lanjut, entah tingkat sarjana, master, bahkan doktor, yang melakukan hal tersebut.

 

Menyoal Pendidikan Kita

Akar penyebab terjadinya fenomena yang sangat menyedihkan itu tentu sangat kompleks. Namun, di balik semua itu, masalah pendidikan sebagai salah satu dasar utama yang membentuk sikap dan perilaku kita sama sekali tidak bisa diabaikan. Sampai batas tertentu, pendidikan kita belum mampu sepenuhnya menghasilkan manusia-manusia terdidik, terutama dari sisi etik dan moral.

Hasutan, hoax, dan turunannya dipastikan muncul dari orang atau kelompok yang nyaris seutuhnya memiliki sikap, pandangan, dan perilaku yang bertentangan dengan tujuan pendidikan. Sejatinya mereka telah kehilangan etik-moralitas sebagaimana yang diajarkan agama. Juga, mereka sudah tidak memiliki kearifan sebagaimana yang menjadi bagian melekat dari masyarakat dan bangsa Indonesia.

Seandainya mereka tidak mengetahui bahwa yang diunggah itu hoax, sikap dan perilaku mereka tetap saja belum sesuai dengan tujuan pendidikan. Dapat dikatakan, ilmu dan kecakapan mereka jauh di bawah standar. Mereka belum bisa bersikap kritis untuk membedakan antara fakta dan bukan. Juga antara berita yang dapat menimbulkan dampak negatif dan yang dapat mengembangkan hal positif.

Di atas semua itu, terlepas dari apakah mereka mengetahui berita tersebut fitnah atau tidak, mereka tampaknya kurang atau bahkan tidak memiliki rasa tanggung jawab. Mereka sangat abai terhadap dampak dari perilaku mereka. Mereka tampaknya menganggap angin lalu dampak yang dipastikan akan menumbuhkan atau memperkuat keburukan di tengah-tengah kita: dari kecurigaan, kebencian, hingga retaknya bangsa.

 

Mengembalikan Fungsi Pendidikan

Kesenjangan yang sangat lebar antara tujuan pendidikan di satu pihak dan sikap serta perilaku kita menuntut kita untuk mencermati lagi pendidikan nasional secara holistis. Ketidakmampuan pendidikan kita untuk mengantarkan bangsa dan masyarakat menjadi insan-insan yang terdidik niscaya untuk dicari akar masalahnya.

Salah satu penyebabnya, pendidikan dipersepsikan oleh sebagian kalangan sebagai sarana untuk meraih jabatan atau sekadar bekerja. Tak heran, banyak lembaga pendidikan yang dijadikan rebutan. Bahkan, pesantren pun ditangan orang semacam itu tidak dikecualikan. Rebutan untuk menguasai atau rebutan mengatasnamakan atau merepresentasikan lembaga pendidikan di mana dia berada menjadi fenomena yang ada di sekitar kita. Sejalan dengan itu, di sebagian masyarakat muncul pandangan bahwa lembaga pendidikan tak lebih dari sekadar pencetak selembar ijazah.

Pertemuan dua pandangan itu melahirkan pendidikan yang tidak mendidik. Ijazah yang kita sandang tidak bisa menjamin lagi melekatnya nilai-nilai pendidikan pada si empunya. Justru dengan ijazah yang kita pegang atau gelar akademik yang kita sandang, kita hanya sibuk mencari peluang bagaimana sekadar bekerja. Atau bahkan berkuasa dan menjabat walau untuk itu kita harus menyebar fitnah, menghancurkan orang dan kelompok yang dianggap sebagai lawan atau yang tidak kita senangi.

Bahkan, menguasai ilmu bukan lagi untuk mengasah nurani dan mempertajam moralitas, melainkan menggapai kekuasaan dan sejenisnya. Kita melihat, tidak sedikit yang menguasai agama, hafal Alquran, atau menguasai kitab suci tapi pada saat yang sama memiliki moral bejat yang sama atau bahkan lebih bejat daripada orang yang tidak berpendidikan.

Kita berduka bukan hanya dengan bencana yang menimpa masyarakat di beberapa daerah, tapi juga hancurnya moralitas. Kita harus menyelamatkan mereka melalui empati yang bersifat karitas dan sejenisnya. Di atas itu, dari semua bencana yang terjadi tersebut, kita perlu menyelamatkan mereka, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan bangsa ini dengan memperbaiki pendidikan kita.

Karena itu, saatnya dunia pendidikan yang penuh paradoks ini kita benahi. Pembenahan tentu harus menyeluruh. Mulai pengelolaannya sampai substansi pendidikan itu sendiri. Masih banyak orang yang peduli dengan pendidikan, yang berkomitmen dengan NKRI. Sebagai misal, teguran keras presiden beberapa waktu lalu tentang pendidikan di forum rektor perlu kita sikapi dengan komitmen untuk segera melakukan pembenahan. Saatnya kita bersatu untuk memperbaiki pendidikan dan diri kita sendiri.

 

*) Guru besar UINSA Surabaya