Oleh Fathor Rosy*

 

Kajian ini bertujuan untuk mengkaji epistemologi kitab tadabbur al-Qur’an karya Bahctiar Nasir. Kitab tadabbur al-Qur’an ini bisa katakan sebagai satu-satunya karya Ulama Indonesia. Kitab tadabbur al-Qur’an secara an sich hampir jarang ditemui dalam karya-karya Ulama dan pakar al-Qur’an baik klasik maupun modern, para ulama lebih sering menggunakan istilah kata tafsir, padahal yang banyak ditemukan dalam teks al-Qur’an adalah perintah untuk mentadabburi bukan menafsirkan.

Dari deskripsi singkat diatas, penulis merasa perlu untuk melakukan penelitian terhadap kitab tadabbur al-Qur’an karya Bahctiar Nasir dari sudut epistemologi, yang dalam hal ini akan dirumuskan ke dalam dua pertanyaan, yakni: 1) Bagaimana konsep tadabbur al-Qur’an karya Bachtiar Nasir?, 2) Bagaimana epistemologi penafsiran Bachtiar Nasir dalam kitab tadabbur al-Qur’an.

Penelitian dalam tesis ini adalah penelitian kepustakan (library research) dan Penelitian Lapangan (field research) dengan metode deskriptis-analitis untuk mengungkap epistemologi kitab tadabbur al-Qur’an karya Bachtiar Nasir.

Adapun kesimpulan dari penelitian ini, yaitu: pertama, konsep tadabbur al-Qur’an karya Bachtiar Nasir tidak jauh beda dengan kitab-kitab tafsir pada umumnya, yang membedakan hanyalah penambahan renungan atau tadabbur disetiap akhir penafsiran ayat. Kitab tadabbur al-Qur’an ini apabila mengacu kepada 10 langkah konsep tadabbur belum bisa dikategorikan sebagai kitab tadabbur  al-Qur’an karena baik dari konten maupun sistematika penulisannya tidak jauh beda dengan tafsir-tafsir lainnya. Kedua, Epistemologi penafsiran Bachtiar Nasir dalam kitab tadabbur  al-qur’an jika dilihat dari sumber penafsiran Bachtiar Nasir menggunakan bentuk bi al-Iqtirani (perpaduan antara bi al-maqul dan bi al-ma’qul). Cara penjelasan yang digunakan dalam kitab ini adalah  metode ijmali (global). Jika dilihat dari segi sasaran dan tertib, Bachtiar Nasir menafsirkan al-Qur’an ayat per ayat yang diawali tafsir surat al-Fa<tihah, al-Baqarah  sampai al-Nas sesuai al-tartib al-mushafi. Namun demikian, dalam setiap pembahasan beliau seakan menafsirkan satu tema tertentu yang diangkat dari pemahaman beliau pada ayat tertentu. Maka secara substansi tafsir ini juga cenderung menggunakan metode semi tematik atau al-tafsir al-maudu’i. Sedangkan corak penafsiran yang menjadi kecendrungan dan mewarnai dalam kitab Tadabbur al-Qur’a­n ini yaitu ijtima’i.

 

*) Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya