Oleh Lukman Hakim*

 

Fenomena gratifikasi dalam dunia pers atau yang sering dikenal sebagai wartawan amplop merujuk pada realita di lapangan ketika jurnalis menerima pemberian berupa uang, barang, fasilitas akomodasi, tiket perjalanan, traktiran makanan, dan lainnya dari pihak narasumber.  Namun kini jurnalis mapan dari media yang resmi tidak sedikit yang menerima gratifikasi. Mereka seakan merasa tidak bersalah menerima gratifikasi ketika melakukan peliputan di lapangan. Fenomena ini semakin menggejala hingga meruntuhkan idealisme, kode etik jurnalistik dan nilai-nilai agama.

Penelitian ini dimaksudkan untuk mencari jawaban tentang bagaimana terjadinya budaya gratifikasi di kalangan jurnalis muslim, mengapa terjadi budaya gratifikasi di kalangan jurnalis muslim dan bagaimana upaya jurnalis muslim menghadapi budaya gratifikasi.

Pendekatan yang peneliti gunakan dalam penelitian ini yaitu etnografi. Teknik yang digunakan adalah metode wawancara mendalam, observasi partisipan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menemukan bahwa, Praktik gratifikasi terjadi di kalangan jurnalis muslim disebabkan sedikitnya oleh enam faktor diantaranya, pertama, berada dalam situasi yang sulit yakni merasa tidak nyaman, khawatir dianggap berbeda, tersinggung dan sok suci oleh pemberi gratifikasi. Kedua, tidak kuasa menolak gratifikasi karena kedekatan dengan narasumber dan ingin terus menjaga hubungan tetap baik. Ketiga, adanya tekanan dari Pokja membuat sikap jurnalis melunak karena jika menolak gratifikasi atau tidak mengikuti aturan Pokja maka mata rantai informasi agenda liputan akan diputus. Hal tersebut berarti jurnalis akan ketinggalan agenda sehingga berdampak pada berkurangnya pendapatan dari kantor. Keempat, gratifikasi memang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di luar gaji kantor sebagai pendapatan tambahan. Kelima, gratifikasi dapat diterima sepanjang tidak mempengaruhi tulisan, tidak diketahui oleh kantor dan difasilitasi oleh Pokja, gratifikasi dapat diterima sebagai tambahan gaji. Keenam, saat pemberian gratifikasi seringkali dipaksa sehingga menimbulkan keributan maka lebih baik diterima. Rasionalitas yang dibangun terhadap gratifikasi diantaranya, menerima gratifikasi merupakan kebiasaan mayoritas jurnalis sehingga boleh dilakukan, gratifikasi dalam bentuk uang dilarang namun dalam wujud barang boleh diterima, gratifikasi bukanlah sesuatu yang dilarang melainkan bagian dari rizeki yang tak disangka-sangka sehingga patut disyukuri, pemberi gratifikasi tidak berniat mengintimidasi atau menyuap, pemberian bukan gratifikasi hanya uang terima kasih atau uang transport, selama bisa bekerja sesuai dengan kaedah jurnalistik dan menjaga netralitas meskipun menerima pemberian tidak bisa digolongkan sebagai gratifikasi. Mayoritas sikap yang diambil oleh jurnalis muslim menikmati gratifikasi meskipun sebelumnya sempat melalui proses menolak dan menegosiasi.

 

*) Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya