Misteri Zika dan Potensi Ancamannya

Opini JawaPos, 2/9/2016 09.50 wib.

Oleh Badrul Muniir*

PERSEBARAN virus Zika terus mengkhawatirkan. Sejak menjadi wabah di negara Amerika Latin seperti Brasil, Venezuela, dan Kostarika pada awal 2015, virus tersebut terus menyebar ke seluruh negara. Dari berita terakhir, Zika ter¬deteksi di Singapura. Laporan itu menambah banyak negara yang terinfeksi virus yang masih penuh misteri tersebut. Menurut WHO, setidaknya 70 negara positif terinfeksi Zika, termasuk Indonesia.

Misteri Zika
Misteri virus ini belum banyak terungkap. Padahal, virus Zika ada sejak 1947 dan terdeteksi menginfeksi manusia pada 1952 di Urganda. Namun, sampai saat ini banyak hal yang belum terungkap dan sekarang menjadi teror dunia.
Virus Zika termasuk famili Flaviviridae. Namun, hal yang membingunkan para ahli adalah banyaknya genom yang ditemukan. Per¬bedaan genom tidak hanya di daerah yang satu dengan lainnya, tetapi juga perbedaan genom dari cara penularannya. Laporan terbaru menyatakan, penemuan genom baru virus Zika di Brasil pada pasien yang terinfeksi melalui transfusi darah. Padahal, identifikasi ge¬nom suatu agen infeksi sangat penting untuk memahami dasar epidemologi molekular untuk strategi penanganannya secara paripurna.
Misteri lain adalah pola penyebaran. Awalnya para ahli menyakini satu-satunya penularan hanya lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti (sama dengan virus demam berdarah). Namun, dalam perjalanannya, banyak media penularan ke manusia. Beberapa penelitian melaporkan, penularan bisa lewat hubungan seksual, transfusi darah, lewat kandungan ibu ke anaknya, dan bahkan dilaporkan bisa menular lewat air susu. Semakin banyak media transmisi penularan, penanganannya semakin sulit.
Belajar dari kasus infeksi Zika di Singapura, pasien yang terinfeksi adalah mereka yang tidak pernah melakukan perjalanan ke negara-negara endemi Zika. Hal itu akan menjadi tantangan tersendiri bagi para ahli untuk mengungkap transmisi lain guna menguak misteri itu.
Misteri yang paling menantang untuk dipecahkan adalah dampak klinis serta komplikasi akibat infeksi itu. Sebenarnya, dampak klinis akibat infeksi Zika sangat ringan. Gejala yang muncul hanya gejala flu biasa (flu like syndrome). Sampai saat ini pun belum pernah dilaporkan adanya kematian karena infeksi Zika. Namun, komplikasi yang sangat ditakuti semua negara adalah komplikasi ke sistem saraf akibat virus itu. Dua penyakit yang menjadi perhatian utama adalah mikrosefalus dan Guillain-Barre syndrome (GBS).
Mikrosefalus akibat infeksi Zika juga masih misterius. Walau para ahli menyakini secara kuat hubungan antara Zika dan mikrose¬falus, ada hal yang menarik dari perkembangannya. Berdasar laporan terbaru, lebih dari 1.500 bayi menderita mikrosefalus di daerah endemi Zika di Brasil. Namun, secara bersamaan, di Kolumbia terjadi hal sebaliknya. Di antara 12 ribu perempuan yang hamil dan terinfeksi Zika, tidak ada satu pun yang melahirkan bayi dengan mikrosefalus. Penyebabnya sampai saat ini masih didalami.
Mikrosefalus adalah kelainan bawaan, yakni bayi mempunyai ukuran lingkar kepala lebih kecil dari normal. Para ahli memberikan batasan mikrosefalus, yaitu ukuran lingkar kepala bayi kurang dari 3 standar deviasi dari rata-rata berdasar umur dan jenis kelamin bayi.
Kelainan mikrosefalus yang menonjol adalah kelainan neurodevolepment berupa penurunan kognisi/kecerdasan dam kelemahan seluruh otot tubuh sehingga anggota gerak akan lumpuh, kaku, serta sulit digerakkan. Mikrosefalus juga sering mencetuskan kejang. Akibatnya, tumbuh kembang anak akan sangat terganggu dan terus bergantung pada orang tuanya.
Komplikasi lain yang ditakuti akibat infeksi virus Zika adalah Guillain-Barre syndrome (GBS). Yaitu, suatu kelainan saraf tepi yang ditandai kelumpuhan mendadak empat anggota gerak badan. Akibatnya, pasien tidak bisa menggerakkan tangan dan kaki. Secara umum, angka kejadian ini sangat rendah di seluruh dunia. Penyebab pasti penyakit itu pun belum diketahui, tetapi diduga adanya proses autoimune.
Sebenarnya, dalam kondisi normal, jumlah kejadian GBS sangat kecil. Namun, WHO melaporkan, terjadi peningkatan kejadian GBS di negara El Salvador secara tajam di daerah yang terjangkit virus Zika. Di antara seluruh pasien GBS, 55 persen menunjukkan gejala terinfeksi Zika seperti demam serta adanya ruam kulit dua minggu sebelum muncul gejala GBS. Pemeriksaan imunomarker juga menunjukkan hubungan yang kuat antara dua penyakit itu.

Antisipasi
Meski masih banyak misteri tentang virus Zika, langkah terbaik adalah melakukan antisipasi dan pencegahan bersama. Apalagi, Indonesia sudah termasuk negara yang pernah terdeteksi terinfeksi Zika. Karena itu, pemerintah dan seluruh rakyat harus mewaspadai persebaran penyakit tersebut.
Beberapa langkah yang disarankan WHO adalah tidak bepergian ke negara atau tempat yang terjangkit wabah Zika; memberantas vektor Zika, yaitu nyamuk Aedes aegypti; meningkatkan kewaspadaan dengan memberikan sosialisasi kepada rakyat Indonesia; serta mengaktifkan surveillance untuk mendeteksi secara dini virus tersebut.

*) Dokter spesialis saraf RS Saiful Anwar, dosen Neuroinfeksi Fakultas Kedokteran Unibraw Malang