Dari Tren Pemberitaan Jawa Pos 2013 – 2016

Opini JawaPos, 6/9/2016 9.57 wib.

Predator Seksual di Sekitar Anak
Oleh Bagong Suyanto*

PELECEHAN dan tindak kekerasan seksual sesungguhnya adalah momok yang paling menakutkan bagi anak-anak. Ironisnya, kekerasan seksual terhadap anak tetap terus berlangsung dari waktu ke waktu.
Seperti dilaporkan Jawa Pos 5 September 2016, dari 1.709 kasus pornografi cyber crime yang menimpa anak-anak sepanjang lima tahun terakhir (2011-2016), ada indikasi jumlah anak yang menjadi korban kejahatan seksual terus meningkat dari tahun ke tahun. Jika pada 2011 anak yang menjadi korban kejahatan seksual online hanya 17, pada 2015 jumlahnya meningkat menjadi 133. Untuk anak yang menjadi korban prostitusi online, jika pada 2011 hanya ada 16 kasus, pada 2015 jumlahnya juga meningkat tajam menjadi 117 kasus.
Studi yang dilakukan penulis terhadap seratus kasus tindak kekerasan seksual terhadap anak yang diberitakan Jawa Pos dalam kurun waktu Januari 2013 hingga Agustus 2016 menemukan siapa sebenarnya pelaku tindak pelecehan seksual dan pemerkosa yang tega-teganya berbuat jahat merenggut masa depan seorang anak perempuan. Ternyata, pelakunya tidak selalu orang yang kejam, mengidap kelainan jiwa, orang yang tak bermoral, yang keyakinan agamanya lemah, orang yang tak dikenal korban, dan sebagainya.

Dari seratus kasus yang diteliti, diketahui yang namanya pemerkosaan sesungguhnya bisa dilakukan siapa saja. Tak peduli apakah si pelaku sudah mengenal korban atau tidak, apakah si pelaku memiliki ikatan darah atau tidak dengan korban.
Banyak bukti dan studi yang menyimpulkan bahwa pemerkosaan atau tindak kekerasan lain terhadap perempuan umumnya potensial muncul bila di masyarakat itu relasi sosial yang dikembangkan cenderung mereduksi peran perempuan dan sifatnya sangat patriarkis. Yang dimaksud patriarkis di sini adalah semacam ideologi yang menyatakan bahwa kedudukan laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, juga seorang perempuan sudah semestinya dikontrol laki-laki karena dirinya adalah bagian dari milik laki-laki (Prasetyo & Marzuki, 1997).
Dari berbagai kasus kekerasan seksual yang diekspos Jawa Pos bisa disimak, status pelaku pemerkosaan umumnya sangat beragam: mulai orang yang tak dikenal, guru, kakek, kerabat korban, teman, hingga ayah kandung korban sendiri. Yang menarik disimak adalah semua pelaku tindak pelecehan dan pemerkosaan -terlepas apa status dan profesinya- umumnya bukanlah orang yang secara sosial berposisi superordinasi terhadap korban.
Seperti kasus child abuse, pelaku tindak pelecehan dan pemerkosaan jangan dibayangkan selalu penjahat kambuhan atau lelaki iseng yang sudah berpengalaman berkunjung ke lokalisasi. Dalam studi itu terungkap, pelaku pemerkosaan ternyata sering kali adalah orang yang sudah dikenal korban. (lihat grafis)
Berbeda dengan kasus pelecehan seksual di lingkungan kerja, yang kebanyakan dilakukan majikan atau bos (Rohan Collier, 1998), un¬tuk pemerkosaan yang menimpa anak perempuan, hasil studi tersebut kurang lebih sama dengan penelitian terdahulu. Sebelumnya telah banyak terbukti, sekitar 75 persen pelaku molestasi umumnya adalah orang dekat korban. Baik itu famili (43 persen), kenalan (33 persen), maupun keluarga sendiri -termasuk ayah kandung (Naek L. Tobing, 1996).
Yang ironis, karena si pelaku adalah orang dekat korban dan diketahui persis memiliki posisi yang lebih superior, khususnya bila pelaku adalah ayah kandung korban sendiri, acap terjadi tindakan nista yang dialami anak perempuan itu berkali-kali dalam kurun waktu ta¬hunan. Sebab, mereka biasanya takut melapor.
Biasanya, pada saat kasus pemerkosaan inses itu terungkap di media massa, dalih yang dikemukakan si pelaku -yang notabene adalah ayah kandung korban-adalah dia waktu itu sedang khilaf. Bapak tersebut sudah lama tidak berhubungan badan dengan istrinya karena si istri sedang merantau ke negeri jiran menjadi TKI atau karena sakit kronis yang menahun.

Kalau memperhatikan tempat kejadiannya atau loci delicti, tindak pemerkosaan pada dasarnya adalah kejahatan yang terbilang ma¬suk dalam klasifikasi kejahatan predator. Artinya, kejahatan yang dilakukan manusia-manusia pemaksa lewat usaha perburuan men¬cari mangsa secara tak pilih-pilih (Wignjosoebroto, 1997). Hanya, pemerkosaan kebanyakan dilakukan pada masa-masa tertentu ketika sedang sepi.
Mengandalkan jumlah aparat yang terbatas untuk selalu mengawasi ulah predator seksual tatkala mencari mangsa tentu merupakan hal yang mustahil. Mempersempit ruang gerak para predator seksual niscaya hanya akan berhasil jika didukung kepedulian dan kepekaan seluruh elemen masyarakat untuk ikut berperan aktif menjadi watchdog.
Ide untuk membentuk satgas perlindungan anak di tingkat RT/RW adalah salah satu gagasan yang menarik. Hanya, agar tidak terjebak pada formalitas atau cuma menjadi “macan di atas kertas”, dibutuhkan pengetahuan, kesadaran, dan komitmen masyarakat serta peme¬rintah untuk melindungi anak-anak dari ancaman predator seksual.

*) Dosen FISIP Unair dan mengajar mata kuliah masalah sosial anak