Terpilihnya Aktivis Muda di Parlemen Hongkong

Opini JawaPos, 7/9/2016 15.55 wib.
Oleh Ardi Winangun*

SETELAH berjuang di jalanan lewat gerakan yang disebut Revolusi Payung 2014, akhirnya para aktivis muda, misalnya Nathan Law, Yau Wa Chin, Cheng Chung Tai, dan Sixtus Leung, berhasil menjadi anggota legislatif Hongkong. Para anak muda itu menjadi wakil rakyat setelah memenangi pemilu legislatif yang berlangsung 5 September 2016.
Pemilu legislatif yang digelar kali ini masih satu rangkaian dengan perjuangan para aktivis muda dan warga Hongkong. Terbukti, tingkat partisipasi warga di sana dalam pemilu tersebut sangat tinggi, mencapai 63 persen, meningkat 10 persen daripada pemilu sebelumnya. Nathan Law meraih suara 50.000.
Kemenangan anak-anak muda tersebut menambah kekuatan kelompok prodemokrasi di Hongkong. Sebuah kelompok yang menginginkan Hongkong menjadi negara yang benar-benar lepas dari tekanan dan pengaruh Tiongkok. Dari 70 kursi yang diperebutkan, kelompok prodemokrasi meraih 27 kursi. Jumlah kursi yang diraih kelompok itu sudah bisa membuat mereka membentuk ”fraksi”. Syarat fraksi ditentukan hanya 24 kursi.
Pemilu di Hongkong kali ini yang menarik adalah terpilihnya aktivis-aktivis muda menjadi anggota parlemen. Sebelum menjadi ca¬leg, anak-anak muda itu aktivis yang menggerakkan massa di negeri tersebut agar turun di jalan menentang pemerintahan Hongkong yang pro-Tiongkok.
Gerakan anti-Tiongkok itu disebut sebagai gerakan Revolusi Payung. Sebab, ketika menuntut haknya di jalanan, massa tersebut menggunakan payung. Payung yang digunakan, selain untuk melindungi cuaca yang tidak bersahabat, panas dan hujan, dipakai untuk menahan semprotan air dan gas air mata.
Menjadi pertanyaan, apakah di parlemen mereka bisa garang seperti di jalan? Apakah mereka masih tetap idealis? Apakah mereka juga tidak takluk dengan nikmatnya kekuasaan dan menyerah oleh lobi-lobi wakil rakyat yang sudah senior?
Kalau kita lihat kursi di parlemen Hongkong, jumlah kursinya 70, jauh dengan DPR Indonesia yang tersedia 560 kursi. Parlemen Hong¬kong setara dengan DPRD setingkat provinsi. Jumlah kursi yang diraih kelompok prodemokrasi, anti-Tiongkok, hanya 27 kursi. Se¬dangkan yang masih pro-Tiongkok 43 kursi. Perbandingan tersebut menunjukkan fraksi prodemokrasi kalah dalam jumlah kursi.
Ancaman kekalahan fraksi prodemokrasi bukan hanya dari jumlah kursi di parlemen, namun juga disebabkan kalahnya pengalaman dengan anggota yang pro-Tiongkok dan melemahnya idealisme anak-anak muda tersebut.
Sebagaimana kita ketahui, kelompok prodemokrasi adalah anak-anak muda yang cerdas, bisa memikirkan masa depan negaranya agar lebih baik dan mandiri. Namun, ketika mereka masuk parlemen, di sinilah tantangan itu muncul. Ketika memperjuangkan idealismenya, mereka harus mengikuti aturan yang ada; tata tertib parlemen. Mereka tidak bisa memperjuangkan idealisme seperti saat di jalan.
Sebagai anak-anak muda yang belum berpengalaman di parlemen, tentu mereka harus melakukan adaptasi sebagai wakil rakyat. Masa-masa seperti itulah yang krusial bagi mereka. Mereka harus sering berhadapan, melakukan rapat (perundingan), dengan anggota parlemen yang senior dan pro-Tiongkok. Sebab, lebih senior di parlemen pasti fraksi pro-Tiongkok lebih bisa mengendalikan perundingan sehingga hasil yang bisa dicapai oleh fraksi prodemokrasi paling maksimal adalah jalan tengah. Jalan tengah yang disepakati pastinya belum mampu mencapai target mereka, yakni Hongkong lepas dari pengaruh Tiongkok.
Seiring dengan perjalanan waktu menjadi wakil rakyat, idealisme para aktivis muda itu pastinya juga akan menurun. Penurunan yang terjadi disebabkan realitas dan pragmatisme yang mereka alami. Mereka baru sadar bahwa Hongkong bila lepas dari pengaruh Tiongkok bisa jadi justru membuat negara itu akan mengalami banyak kesulitan, baik dalam masalah ekonomi, hubungan inter¬nasional, maupun pertahanan keamanan. Tiongkok negara yang selama ini mengasuhnya bukan negara sembarangan. Negara-negara yang jauh saja, misalnya Vietnam, Malaysia, Brunai, Filipina, Jepang, dan Indonesia, mulai bergantung kepada Tiongkok serta sudah mulai resah dan gerah akibat semakin progresifnya Negari Tirai Bambu itu.
Selain mulai sadar, terbelalak, akan kebesaran Tiongkok, para aktivis muda itu mulai merasakan enaknya fasilitas dan kekuasaan di parlemen sehingga idealisme mereka yang sebelumnya menggebu-gebu lamban laun, secara sadar atau tidak, akan menurun.
Dengan demikian, apa yang dikatakan Nathan Law, ”kemenangan saya ini terjadi karena warga Hongkong ingin perubahan dan saya akan membantu mereka untuk mewujudkan hal tersebut,” hanya akan menjadi slogan, kenangan masa lalu, bahkan cibiran ketika dia gagal mewujudkan.
Masuknya aktivis muda dalam parlemen yang akhirnya menyerah kepada realita dan keadaan, fenomena yang demikian terjadi di ba¬nyak negara, termasuk Indonesia. Setiap pemilu, aktivis-aktivis muda di Indonesia dijaring oleh partai politik untuk menjadi anggota legislatif. Ketika terpilih, mereka jauh dari apa yang selama ini diidealismekan. Mereka tunduk kepada anggota yang senior, sadar realitas politik, dan terjebak kepada kenikmatan kekuasaan. Akibatnya, masa depan Hongkong tidak berubah meski aktivis muda berada di parlemen, masih di bawah bayang-bayang Tiongkok.

*) Associate researcher LP3ES