Reuni Politik Anwar – Mahathir

Opini JawaPos, 8/9/2016 8.40 wib.
Oleh Ahmad Sahidah*

BANYAK orang yang tidak percaya bahwa Mahathir Mohamad akhirnya bertemu muka dengan Anwar Ibrahim. Setelah 18 tahun sejak perpecahan duo pemimpin karismatik itu, dengan serta-merta pertemuan di antara keduanya memantik pelbagai tafsir.
Betapa pun keduanya bisa bersemuka, istri Anwar, Wan Azizah, berkomentar bahwa dirinya pernah menyatakan sukar memaafkan Mahathir. Apalagi mantan perdana menteri terlama tersebut enggan menjawab pertanyaan wartawan adakah ini merupakan tanda perdamaian di antara keduanya. Malah, Mahathir menegaskan bahwa kedatangannya ke pengadilan sebagai wujud dukungan terhadap Anwar yang meminta pelaksanaan akta Majlis Keselamatan Negara (MKN) 2016 ditangguhkan.

Persekutuan
Bersekutu bertambah mutu adalah slogan lambang negara Malaysia. Pesannya jelas bahwa aliansi pelbagai kelompok atau orang akan menjadikan sebuah perkumpulan bertambah maju. Inisiatif Mahathir untuk menemui Anwar tentu bukan tiba-tiba, apalagi lelaki yang bergelar Little Soekarno ini ditemani oleh Azmin Ali, gubernur Negara Bagian Selangor yang merupakan orang kepercayaan Anwar. Sebelumnya, Anwar menyatakan pendiriannya bahwa dirinya dan PKR (Partai Keadilan Rakyat) harus men¬jaga jarak dari Tun M, gelar Mahathir.
Tentu saja, penerimaan Anwar sebagai isyarat bahwa penolakan dukungan terhadap Deklarasi Rakyat sebelumnya berakhir. Kini keduanya secara tidak resmi telah bergandeng tangan untuk membangun oposisi yang lebih kuat. Apalagi sebelumnya Tan Sri Muhyiddin Yasin sebagai presiden Partai Bersatu bersedia melakukan jelajah (road show) bersama PKR ke seluruh negeri untuk mengampanyekan tuntutan agar perdana menteri berkuasa lengser karena diduga terkait skandal 1MDB (One Malaysia Development Berhad). Pendek kata, usaha untuk menyatukan Anwar dan Mahathir telah dilakukan secara terancang.
Pada gilirannya, Pakatan Harapan sebagai koalisi antara PKR, DAP (Democratic Action Party), dan PAN (Partai Amanah Nasional) akan berbagi daerah pemilihan dengan Partai Bumiputera (Bersatu) yang diterajui oleh Mahathir. Dengan demikian, Bersatu akan memilih daerah pemilihan yang dimenangi oleh UMNO (United Malays Natio¬nal Organization), terutama kawasan yang hanya berselisih tipis.

Peta Suara
Tanpa menimbang kekuatan Pakatan Harapan, Partai Bersatu susah untuk menggembosi dominasi Barisan Nasional. Muhyiddin Yasin, orang nomor satu partai berlambang bunga sepatu ini, tak memiliki pesona seperti Anwar Ibrahim yang mampu menarik dukungan, baik dari UMNO maupun luar UMNO, ketika dipecat dari partai berkuasa. Malah, Mahathir tak mampu mengembalikan kegemilangannya ketika kehadirannya pada dua pemilu sela di Negara Bagian Selangor dan Perak gagal menarik hati dan pikiran pengundi, sebutan pemilih, sehingga calon Amanah kalah telak.
Betapa pun dukungan terhadap Barisan Nasional mengalami penurunan dalam dua tahun terakhir, kenyataannya Najib mampu mengendalikan pemerintahan dan hubungan antara partai komponen dalam BN, yakni UMNO, MCA, dan MIC, termasuk dengan partai-partai di Sarawak dan Sabah. Berbeda halnya dengan Pakatan Rakyat yang terkubur karena PAS memilih keluar dan membentuk koalisi ketiga bersama Partai Ikatan dengan nama Gagasan Sejahtera. Tentu saja, perpecahan ini memberikan keuntungan pada BN.
Berkaca pada pemilu ke-13, sejatinya Pakatan Rakyat lebih populer karena mendulang suara 5.623.984 (50.87%) dibandingkan BN yang meraih 5.237.699 (47.38%). Namun, suara ini tak sama dengan peroleh kursi, di mana PR mendapatkan 89 dan BN 133, yang secara otomatis mengantarkan BN untuk menguasai pemerintah di tingkat federal. Dengan 30 kursi BN yang memenangi suara tipis, oposisi mempunyai peluang untuk berkuasa apabila mampu mempertahankan 89 kursi dan meraih 30 kursi tambahan sehingga dengan modal 119 kursi, Pakatan Harapan akan menguasai Puterajaya dengan mayoritas sederhana (simple majority).
Tentu hitungan di atas kertas tak semudah membalikkan telapak tangan. Pakatan Harapan (PKR, DAP, dan Amanah), Blok Ketiga (PAS dan Ikatan), Bersatu, dan partai-partai lokal Sabah dan Sarawak mesti memeterai kesepakatan agar tak sama-sama maju bertanding. Hanya, PAS dan Amanah sebagai sempalannya telah memilih untuk menutup pintu untuk berbagi. Keduanya akan sama-sama menurunkan calon di Kelantan, kawasan tradisional PAS, setelah Husam Musa secara resmi meninggalkan partai yang memecatnya, PAS, dan memilih Amanah sebagai kendaraan politik. Alih-alih menguasai Citi Siti Wan Kembang, mungkin keduanya akan gigit jari karena UMNO bisa menyalip di tikungan.
Bagi Anwar sendiri, ini jelas peluang terakhir mengingat usianya sudah 69 tahun. Betapa pun ikon reformasi itu masih menjadi pe¬rekat oposisi, rakyat tak lagi mendukungnya secara emosional seperti awal-awal berseteru dengan bekas mentornya, Tun M. Demikian pula, Mahathir mempunyai kesempatan satu-satunya untuk memenuhi kehendaknya agar bekas muridnya, Najib, turun dari kursi perdana menteri melalui pemilu, bukan jalanan karena beberapa seri demonstrasi, termasuk aksi unjuk rasa ratusan ribu Bersih 4 yang tak mampu menggoyang pemerintah.

*) Dosen Filsafat dan Etika Universitas Utara Malaysia