Oleh Azibur Rahman*

 

Keberadaan sihir dalam kehidupan masyarakat merupakan sebuah keniscayaan yang sampai hari ini masih dipercayai, baik itu dari kalangan yang beragama maupun tidak. Perkara sihir terkadang bisa membuat rusaknya interaksi sosial, karena adanya tuduh-menuduh antar satu dengan yang lainnya. Hal ini wajar, sihir memang masuk kategori abstrak yang sulit dibuktikan secara ilmiah.

Alquran sebagai kitab yang mengatur segala urusan manusia, juga menyinggung masalah sihir dengan penggambaran kisah di dalamnya. Setidaknya terdapat 63 kali, yang menyebut sihir dengan berbagai bentuk kata padanannya. Hal ini menjadi bukti bahwa sihir mendapatkan porsi pembahasan yang luas dalam Alquran. Oleh karena itu, menjadi menarik jika mencoba memperdalam pemahaman soal sihir dalam Alquran dengan memakai analisis penafsiran dari seorang mufassir berpengaruh yakni Fakhrudin al-Razi dalam tafsirnya Mafatih} al-Ghaib.

Dengan demikian masalah yang muncul dalam benak saya, setidaknya ada dua; Bagaimana penafsiran al-Razi terhadap ayat-ayat yang berhubungan dengan sihir? Bagaimana asal dan karakteristik sihir dalam Alquran menurut penafsiran al-Razi?

Al-Razi dalam tafsirnya menyajikan penjelasan tentang sihir terbilang sangat luas, karena kajiannya mencakup 63 ayat yang terpisah-pisah dalam beberapa surat. Namun hal ini bisa dipermudah dengan metode penilitian tematik, sehingga bisa menguraikan dengan urutan satu tema pembahasan. Penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif karena langsung berhadapan dengan kajian teks dan pustaka.

Dari penelitian ini setidaknya ada beberapa temuan yang berkaitan dengan sihir menurut al-Razi. Historisitas sihir dalam Alquran dijelaskan secara kronologis, khususnya dalam surat al-Baqarah ayat 102. Mulai dari kisah Harut-Marut, perseteruan Nabi Musa dan penyihir Firaun, Nabi Sulaiman dengan setan serta tersihirnya Nabi Muhammad. Ini memberikan gambaran jelas tentang eksistensi sihir dalam Alquran. Sihir menurut al-Razi sebuah perbuatan yang memalingkan suatu keadaan yang sebenarnya menjadi samar-samar. Jadi sihir pada hakikatnya hanya mengandung tipuan belaka bukan yang sebenarnya. Al-Razi juga menganjurkan untuk mempelajari sihir agar bisa mengetahui cara kerjanya, sehingga bisa dijadikan sebagai penolak. Selain itu, banyak model karakteristik sihir itu menurut al-Razi yang kesemuanya memiliki sifat dan tujuan yang sama.

Penelitian tentang sihir ini tentu sangat menarik jika terus dikaji dengan berbagai pisau analisis, baik itu dengan kajian tokoh maupun komparasi. Maka dari itu, hasil penelitian dalam tesis ini bisa menjadi acuan untuk penilitan berikutnya untuk lebih memperdalam kajian yang sama.

 

*) Mahasiswa UIN SUnan Ampel Surabaya