Opini JawaPos, 20/4/2019 10.00 wib.

Oleh Ahmad Zainuil Hamdi*

 

Tidak mungkin Tuhan menurunkan sebuah ajaran yang tidak menumbuhkan kasih kepada manusia. Jika ada orang yang mewartakan ajaran Tuhan sambil menebar kekerasan dan kehancuran, jelas orang tersebut tengah memanipulasi Tuhan.

 

KH ABDURRAHMAN Wahid atau akrab disapa Gus Dur pernah menulis, “Tuhan tidak perlu dibela”. Bagi seorang muslim-humanis seperti Gus Dur, berteriak membela Tuhan sambil menghunus pedang untuk membabat kehidupan pada dasarnya adalah mengkhianati Tuhan. Agama diturunkan Tuhan untuk menjaga kehidupan, bukan mematikannya. Agama diturunkan Tuhan agar manusia saling mengasihi, bukan sebaliknya.

Dari sudut pandang itulah, saya sebagai muslim memaknai Paskah. Tulisan ini bukan semata-mata tentang Yesus yang disalib. Tulisan ini tidak hendak melempar pertanyaan yang telah menjadi perdebatan para ahli teologi maupun sejarawan: Apakah Yesus mati di tiang disalib atau tidak, siapa yang menyalib, maupun apakah si penyalib seorang pendosa terbesar ataukah penggenap rencana Tuhan. Ini bukan tentang drama dari kisah tetesan darah di tiang salib, atau seorang laki-laki suci bermahkota duri yang memanggul tiang salib menaiki bukit.

Peristiwa itu sendiri merupakan salah satu momentum keagamaan yang telah memberikan dampak sangat besar dalam sejarah umat manusia di muka bumi. Ia berhasil menginstitusionalisasi sebuah agama yang saat ini dipeluk sekitar 2,1 miliar orang atau sekitar seperempat sampai sepertiga penduduk dunia. Agama tersebut menginspirasi peradaban manusia di Benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia, dan Australia.

Akan tetapi, peristiwa crucifixion (penyaliban) juga melahirkan kesengsaraan manusia yang teramat pedih. Ribuan orang Yahudi terusir dalam kondisi kedinginan, kelaparan, dan kesengsaraan di Eropa karena dianggap bertanggung jawab atas penyaliban Sang Putra Tuhan.

Kalaupun umat Islam tidak mengakui peristiwa penyaliban, bukan berarti Islam dan Yahudi menjadi saudara yang rukun. Islam dan Yahudi memiliki sejarah permusuhannya sendiri yang mengacu pada periode kehidupan Nabi Muhammad di Madinah. Kalau Islam bermusuhan dengan Yahudi, tidak berlaku pula rumus “musuh musuhku ada teman atau saudaraku”. Islam menyimpan sejarah permusuhan dengan Kristen yang mengacu pada peristiwa Perang Salib, sebuah perang yang semangatnya hingga kini tetap diwariskan dari generasi ke generasi.

Entah “kutukan” apa yang sedang bekerja dalam sejarah. Tiga bersaudara keturunan Ibrahim/Abraham saling bertengkar dan menghancurkan. Masing-masing mengklaim sebagai umat pilihan Tuhan.

Masing-masing mengklaim agama yang dipeluknya sebagai agama yang paling benar. Yang paling utama di mata Tuhan.

Di balik persitiwa yang menghancurkan nyali sekaligus melahirkan nyala semangat tersebut, Yesus sesungguhnya mengajari kita bahwa betapa mudahnya agama dijadikan atau menjadi alat penghancur. Klaim kebenaran agama tidak jarang menjadi topeng untuk menutupi tindakan dan kekuasaan koruptif dan manipulatif dari orang-orang yang mendaku sebagai pembela agama atau Tuhan.

Tak jarang untuk kepentingan politik praktis, dengan kesadaran penuh kita perjualbelikan isu agama. Baik itu untuk menyanjung orang/tokoh yang kita dukung atau sebaliknya digunakan sebagai alat menjelekkan atau menyerang lawan politik.

Yesus tidak mewartakan kebenaran baru. Dia menyuarakan kebenaran perenial yang telah tertuang dalam berbagai kitab suci yang pernah diwahyukan Tuhan, bahwa agama adalah sarana liberatif bagi umat manusia. Yang diwartakan Yesus hanyalah satu: Tuhan itu Mahakasih.

Tidak mungkin bagi-Nya untuk menurunkan sebuah ajaran yang tidak menumbuhkan kasih kepada manusia. Jika ada orang yang mewartakan ajaran Tuhan sambil menebar kekerasan dan kehancuran, jelas orang tersebut tengah memanipulasi Tuhan, sekalipun mungkin dia berbusana kebesaran tokoh agama.

Yesus sangat sadar bahwa betapa mudahnya kitab suci yang merupakan manifestasi kasih Tuhan dimanipulasi untuk kepentingan-kepentingan immoral oleh orang-orang yang ke sana kemari menentengnya dan fasih menukil ayat-ayatnya.

Sebagaimana Gus Dur, suara Yesus adalah suara kritik terhadap agama yang telah meluncur menjadi mesin pembunuh di tangan orang-orang korup. Suara kritik pada orang-orang yang menjadikan agama sebagai alat mencapai kekuasaan dunia. Yesus disingkirkan para imam dan penguasa korup karena dianggap sebagai pengganggu. Yesus dimusnahkan bukan karena apa-apa selain karena ia mengajarkan kasih sayang, sebuah ajaran yang menjadi jantung dari seluruh risalah ketuhanan.

 

*) Ketua Departemen Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Sunan Ampel Surabaya