Opini JawaPos, 22/4/2019 13.30 wib.

Oleh Moch. Abduh*

 

MASIH ingatkah Anda ketika menimbang berat badan di rumah sakit dengan pengawasan perawat? Bagi Anda yang sudah dewasa, barangkali perawat tidak perlu memberikan banyak informasi. Tetapi, ketika anak kita yang masih balita perlu menimbang berat badannya, perawat akan mengingatkan anak kita untuk memosisikan kedua kaki tepat di tengah timbangan. Meminta melepas alas kaki, tangan tidak boleh menyangga di tembok, tidak boleh banyak bergerak, dan beberapa hal lain. Mengapa semua itu dilakukan perawat? Alasan utamanya, agar diperoleh hasil pengukuran berat badan yang akurat.

Dari perspektif tujuan, ujian nasional (UN) tidak berbeda dengan pengukuran berat badan tersebut. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengharapkan hasil ujian menjadi ukuran yang presisi dari kemampuan hasil belajar siswa yang sesungguhnya. Karena itu, tata cara dan prosedur pengukuran harus dilakukan terstandar, yaitu lintas wilayah, satuan pendidikan, dan ruang ujian. Dengan begitu, perbedaan hasil ujian benar-benar cerminan dari perbedaan kemampuan siswa. Pengawas ujian memiliki mandat untuk memastikan standardisasi prosedur tercapai selama berlangsungnya proses ujian.

Salah satu standar ujian di bidang pendidikan dan psikologi yang ditetapkan oleh American Educational Research Association, American Psychological Association, National Council on Measurement in Education (1999) adalah menciptakan lingkungan ujian yang konsisten antara satu ruang ujian dan ruang ujian lain serta menyelenggarakan ujian sesuai dengan aturan, kebijakan, dan tata tertib. Ujian yang terstandar tidak hanya terstandar dari segi naskah tes, tapi juga prosedur dan penyelenggaraan.

Tes terstandar menjunjung tinggi akurasi hasil tes dengan mengeliminasi faktor-faktor lain yang memengaruhi: suasana ruangan, waktu, alat bantu, maupun integritas. Pengawas ujian bertugas memenuhi hak dan kekhususan peserta ujian, tapi tetap menjunjung peraturan dan ketetapan yang berlaku, antara lain mengikuti prosedur, memberikan suasana ujian yang kondusif, menjaga keamanan tes, menjaga kerahasiaan peserta tes, dan melaporkan kejadian-kejadian selama ujian berlangsung yang berpotensi memengaruhi validitas hasil ujian. Merupakan hal yang lazim ketika ujian menyebabkan peserta merasa cemas. Namun, pengawasyang baik dapat memberikan rasa nyaman, percaya, serta menghormati hak dan kewajiban setiap pihak yang terlibat dalam ujian.

Rujukan yang sering digunakan terkait dengan fungsi pengawas ujian (Plake, 2002) menyebutkan beberapa fungsi pengawas ujian. Antara lain, pertama, memenuhi persyaratan dan menaati tata tertib yang berlaku. Prosedur operasional standar (POS) UN mensyaratkan, pengawas UN adalah guru yang memenuhi kriteria dan persyaratan, di antaranya memiliki sikap dan perilaku disiplin, jujur, bertanggung jawab, teliti, dan memegang teguh kerahasiaan. Adapun dalam tata tertib penyelenggaraan UN, pengawas harus memimpin doa dan mengingatkan peserta untuk bekerja dengan jujur. Selain itu, selama ujian berlangsung, pengawas ruang wajib memberikan peringatan dan sanksi kepada peserta yang melakukan kecurangan.

Kedua, menciptakan iklim ujian yang kondusif. Karena itu, pengawas harus memberikan perhatian lebih terhadap ruangan, peralatan, prasarana, dan suasana. Kenyamanan ruangan meliputi aspek intensitas cahaya, suhu ruangan, ventilasi, dan jarak antar peserta. Peralatan tes, terutama ketika ujian berbasis komputer, dipastikan berfungsi optimal. Jika ada peserta berkebutuhan khusus, pengawas perlu memahami kondisi khusus yang diperlukan serta mekanisme perlakuan dan prasarana yang dibutuhkan peserta tersebut. Aspek suasana mencakup ketenangan ruang ujian. Pengawas berhak untuk tidak mengizinkan siapa pun masuk ke ruangan karena dapat mengganggu ketenangan ujian.

Ketiga, menutup peluang menyontek dan kecurangan. Kenapa begitu? Sebab, dia adalah sosok yang paling mengetahui kejadian yang berlangsung di ruang ujian. Dimulai dari memastikan peserta yang hadir sesuai dengan daftar peserta, memastikan peserta duduk sesuai kursi yang sudah dialokasikan, mengawasi gerak-gerik peserta tes selama ujian berlangsung, sampai memastikan kelengkapan hasil pekerjaan peserta.

Keempat, menjaga keamanan bahan tes dan kerahasiaan peserta tes. Pengawas harus memahami bahwa soal-soal UN adalah dokumen negara yang kerahasiaannya harus dijaga. Pengawas menandatangani pakta integritas sebagai komitmen menjaga kerahasiaan. Semua jawaban setiap peserta juga merupakan kerahasiaan dan hanya bisa dilihat pihak yang berwenang. Maka, fungsi pengawas adalah memastikan semua hasil pekerjaan peserta tes dikumpulkan dan dirahasiakan hanya untuk diketahui petugas yang berwenang tanpa mengalami modifikasi maupun intervensi. Kelima, melaporkan kejadian-kejadian khusus selama tes berlangsung.

Validitas dan reliabilitas hasil ujian adalah hal yang utama, apa pun tujuan ujian tersebut. Ujian seleksi yang terkontaminasi akan memilih peserta yang tidak layak. Ujian sertifikasi yang tercurangi akan melegalisasi peserta yang tak kompeten. Ujian untuk perbaikan mutu yang diwarnai tindakan tidak berintegritas akan menciptakan peta mutu yang sesat.

Ikhtiar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menggunakan hasil UN sebagai salah satu instrumen peningkatan dan perbaikan mutu pembelajaran akan terkendala manakala pengawas ujian tidak menjalankan fungsi kepengawasannya dengan baik. Hal itu terindikasi dari masih terjadinya kecurangan yang dilakukan oleh peserta saat ujian.

 

*) Kepala Pusat Penilaian Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan