Oleh Mursyid*

 

Fakta pluralitas agama dan paham keaagamaan dalam Islam, seringkali menimbulkan konflik sosial yang mengarah pada tindak kekerasan antar umat beragama. Tindakan  terhadap fakta  sosial, tidak dapat dipisahkan dari pendefinisiannya. Karena itu, dalam penelitian yang mengambil focus pendidikan toleransi di pesantren, mengajukan tiga masalah pokok; yaitu: 1) Bagaimana pandangan pimpinan dan tenaga pendidik Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan Nurul Jadid Paiton terhadap pluralitas agama dan paham keagamaan dalam Islam? 2) Bagaimana bentuk tindakan sosial pimpinan dan tenaga pendidik Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan Nurul Jadid Paiton terhadap pluralitas agama dan paham keagamaan dalam Islam? 3) Bagaimana desain pendidikan toleransi di pesantren?

Penelitian kualitatif ini, menggunakan pendekatan fenomenologi, dan menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan dokomentasi, sebagai teknik pegumpulan datanya. Kemudian dianalisis dengan analisa interaktif melalui reduksi data, display data dan kunklusi, yang kemudian dilakukan pembahasan dengan kerangka teoretik rational choice.

Dari penggalian data di lapangan, disimpulkan bahwa : Pertama, pimpinan dan tenaga pendidik pondok pesantren, mendefinisikan fakta pluralitas agama dan paham keagamaan dalam Islam, sebagai keniscayaan yang telah menjadi takdir Allah, dan dapat didayagunakan untuk menyelesaikan masalah kemanusiaan secara bersama-sama. Kedua, bentuk tndakan sosial pimpinan dan tenaga pendidik pondok pesantren terhadap pluralitas agama dan paham keagamaan dalam Islam, berupa  tindakan toleransi; yaitu menerima dan menghargai perbedaan yang ada di dalam pluralitas tersebut. Ketiga, desain pendidikan toleransi di pesantren, memposisikan moral modeling, yaitu keteladanan kyai dalam tindakan tolerani sebagai langkah utama, kemudian diikuti dengan moral habituation, yaitu pembiasaan peserta didik hidup toleran dalam pluralitas agama dan paham keagamaan, dan moral feeling, penumbuhan perasaan toleransi yang diserap dari moral modeling dan moral habituation. Sedangkan moral knowing, transfer pengetahuan tentang nilai toleransi, secara integral disampaikan dalam  beberapa matapelajaran dan mata kuliah yang relevan, termuat dalam ideology pendidikan pesantren yang dikenalkan sejak masa orientasi santri baru,  dan disampaikan pula dalam beberapa tausiyah pimpinan pesantren terutama saat ada kunjungan dari komunitas non muslim.

Temuan penelitian ini, bertolakbelakang dengan teori Thomas Lickona tentang pengembangan nilai moral dalam pembentukan karakter, yang memposisikan moral knowing lebagai langkah pertama, kemudian moral feeling, dan moral avtion. Pendidikan toleransi di pesantren, memiliki pijakan pada teori pendidikan moral al-Ghazali yang bertumpu pada tindakan moral dan pembiasaan moral. Sedangkan pengetahuan moral dalam pandangan al-Ghazali, hanya bisa membebaskan manusia dari kebodohan terhadap moral, tidak bisa membentuk moral.

 

*) Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya