Opini JawaPos, 6/7/2019 9.30 wib.

Oleh Hasanuddin Ali*

 

SETELAH terpilih sebagai presiden bersama Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin dalam kontestasi Pilpres 2019, Joko Widodo dalam berbagai kesempatan menyatakan akan menempatkan sosok generasi milenial sebagai salah satu menteri di periode kedua kepemimpinannya, 2019–2024. Tawaran itu kemudian disambut sangat baik oleh publik karena merupakan terobosan untuk memberikan kesempatan bagi generasi muda Indonesia ikut terlibat lebih aktif membangun bangsa dan negara.

Bak gayung bersambut, calon-calon menteri milenial pun mulai bermunculan, baik dari kalangan partai maupun tokoh muda profesional. Namun, bagaimana sebenarnya karakter generasi milenial yang paling tepat menjadi menteri?

Banyak versi mengenai definisi generasi milenial. Namun, yang paling populer adalah definisi yang digunakan Pew Research Center, yang juga digunakan Alvara Research Center. Generasi milenial adalah mereka yang lahir pada 1981–1997. Artinya, mereka saat ini, 2019, berusia 22–38 tahun. Menurut data BPS, sekitar 34 persen penduduk Indonesia masuk dalam rentang usia tersebut, lebih besar dibanding Generasi X dan Baby Boomers.

Dari sisi usia, generasi milenial memang sangat penting karena mereka akan menapaki usia emas dalam kurun waktu lima tahun mendatang. Mereka akan menjadi penyangga dan pendorong utama pertumbuhan ekonomi sekaligus menjadi role model bagi generasi adiknya, Gen Z.

Dalam buku saya, Milenial Nusantara, saya menulis ada tiga karakter utama dan paling penting generasi milenial yang saya singkat menjadi 3C, yakni creative, confidence, dan connected. Karena itu, seorang menteri milenial setidaknya juga harus memiliki tiga karakter tersebut.

Pertama, seorang menteri milenial harus memiliki otak yang kreatif, kaya akan ide dan gagasan baru, serta punya pemikiran out of the box. Dia bukanlah tipe menteri yang hanya play by the book yang hanya menjalankan kerja-kerja rutinitas semata. Ide dan gagasan tersebut bukan sekadar pemikiran di atas kertas, tapi juga bisa diterjemahkan dan diaktualisasikan dalam berbagai kebijakan dan program-program kerja.

Kedua, menteri milenial harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Tidak hanya punya ide dan gagasan, dia juga harus memiliki keberanian untuk mewujudkan ide dan gagasannya menjadi ’’barang’’ nyata. Dia juga harus menjadi pemimpin yang memiliki keberanian untuk menggerakkan birokrasi bekerja lebih lugas. Dia juga harus mampu menembus ’’kejumudan” birokasi untuk bekerja lebih cepat.

Ketiga, menteri milenial tidak boleh kuper. Dia harus pandai bergaul, aktif menjalin komunikasi dengan siapa saja. Dia harus menjadi connector tidak hanya dengan sesama generasinya, tapi juga dengan generasi yang lebih tua dan muda. Tentu dia juga harus melek digital. Tidak sekadar aktif menggunakan, tapi juga mengerti bagaimana memanfaatkan dunia digital secara efektif untuk kepentingan kementerian yang dipegangnya.

Lima tahun ke depan tantangan yang dihadapi Indonesia dalam persaingan global tidaklah mudah. Membeludaknya sumber daya manusia, pendidikan, serta tren intoleransi dan radikalisme adalah tiga tantangan yang secara nyata yang sedang dan akan dihadapi Indonesia.

Presiden Joko Widodo sebagaimana dikutip Nikkei Asian Review (4/7/2019) menyatakan, salah satu fokus utamanya lima tahun mendatang adalah pembangunan sumber daya manusia. Meningkatkan sumber daya manusia Indonesia menjadi world-class human resources untuk bisa bersaing dalam persaingan global.

Berbicara peningkatan sumber daya manusia Indonesia saat ini, tentu yang menjadi subjek utamanya adalah generasi milenial. Bagaimana meningkatkan generasi milenial menguasai kompetensi dasar. Laporan A.T. Kearney, misalnya, menyatakan bahwa Indonesia hanya menghasilkan 278 insinyur per 1 juta penduduk setiap tahun. Indonesia sangat tertinggal oleh negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand. Selain itu, bagaimana menyiapkan generasi milenial mampu menguasai kompetensi-kompetensi baru seperti data scientist, artificial intelligence, dan machine learning untuk menjawab kebutuhan industri digital dan revolusi industri keempat.

Tren anak muda menjadi wirausahawan muda saat ini cukup tinggi. Hal ini bisa dilihat dari menjamurnya start-up-start-up di berbagai daerah yang diinisiatori sebagian besar oleh generasi milenial. Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka yang telah menjadi raksasa baru industri digital Indonesia akan membutuhkan sumber daya manusia yang menguasai kompetensi baru yang mungkin 10 tahun yang lalu belum ada.

Tantangan berikutnya adalah terkait tren intoleransi dan radikalisme. Berbagai survei yang dilakukan Alvara Research Center sepanjang 2017–2018 menunjukkan bahwa generasi mileniallah yang paling rentan terpapar paham intoleransi dan radikalisme. Sebagai contoh hasil survei yang dilakukan Alvara Research Center pada 2017 menunjukkan 23,4 persen mahasiswa setuju dengan ideologi yang berlawanan dengan Pancasila. Angka itu lebih tinggi dibanding generasi-generasi yang lebih tua.

Berkaca dari tantangan-tantangan tersebut, kandidat menteri milenial yang akan ditunjuk Joko Widodo tidak cukup sekadar muda secara usia. Yang lebih penting, dia juga harus memiliki karakter yang kompatibel dengan generasi milenial. Dia harus mampu menjadi teman curhat sekaligus menjadi inspirasi bagi generasi milenial lainnya.

Selain itu, kandidat menteri milenial tersebut harus ditempatkan pada pos kementerian yang relevan dengan persoalan-persoalan yang dihadapi generasi milenial. Right person on the right place. Dan terakhir, yang juga sangat penting adalah kandidat tersebut harus dipastikan keberpihakannya terhadap ideologi negara, Pancasila.

 

*) Penulis buku Milenial Nusantara, founder and CEO Alvara Research Center