Opini JawaPos, 25/7/2019 9.15 wib.

Oleh Rachmat Gobel*

 

PADA simposium Peringatan 60 Tahun Hubungan Diplomatik RI-Jepang, 20 April 2018 di Tokyo, saya berharap hubungan tersebut tidak memudar. Bagi RI, Jepang terlalu penting. Sebab, kerja sama tersebut bisa memperbesar potensi pertumbuhan ekonomi kedua negara, ASEAN, dan Asia-Pasifik.

Pada 2020 hingga 2030, semua bangsa berada di simpang jalan akibat perkembangan teknologi. Kemajuan teknologi digital dan internet yang melahirkan Revolusi Industri 4.0 dan internet of things (IoT) butuh kontribusi investasi dan peningkatan keahlian manusia bersumber daya iptek plus inovasi-inovasi.

Sebagai sesama anggota negara G20, RI-Jepang harus lebih aktif mengembangkan kerja sama. Isu-isu seperti green innovation and green investment, low carbon society, Revolusi Industri 4.0, dan IoT merupakan wilayah kerja sama masa depan yang perlu dibangun mendalam.

Pada 2019, pertumbuhan ekonomi RI diperkirakan mencapai 5,1–5,2%. Hal itu menjadi fondasi konsolidasi ekonomi RI untuk menuju 2030, yang diprediksi perekonomian Indonesia akan menjadi terbesar ke-7 dunia (McKinsey, 2012). Bahkan banyak pihak yang memperkirakan perekonomian RI menjadi terkuat ke-4 dunia pada 2045 (Bank Dunia, McKinsey, PricewaterhouseCoopers dan Bappenas).

Meski demikian, RI kini dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Kedua, puas dengan pertumbuhan ekonomi yang hanya 5% (seperti sekarang).

Pertumbuhan ekonomi 5% tak cukup bagi RI. Kita perlu mengejar pertumbuhan ekonomi lebih tinggi untuk melepaskan diri dari perangkap negara berpendapatan menengah (middle-income trap). Apalagi 15 tahun mendatang merupakan ’’masa emas’’ bagi RI yang akan menikmati bonus demografi.

Membeludaknya tenaga kerja produktif adalah peluang emas Indonesia untuk menggenjot roda ekonomi. Idealnya, pertumbuhan ekonomi terpacu, sektor riil terdongkrak, dan daya saing meningkat, yang pada gilirannya kesejahteraan masyarakatnya pun meningkat.

Berkenaan dengan isu Revolusi Industri 4.0 dan middle-income trap, pada 4 April 2018, pemerintah mencanangkan program ’’Making Indonesia 4.0’’ untuk merevitalisasi industri pengolahan (manufaktur) nasional. Targetnya, menjadikan Indonesia masuk ke dalam 10 besar ekonomi global pada 2030.

Tekad pemerintah untuk menjadi salah satu kekuatan besar ekonomi global ini diperkuat dengan visi Indonesia yang telah disampaikan Presiden Jokowi pada 13 Juni 2019. Beliau menyampaikan 5 program kerja prioritas 2019–2024, di antaranya pembangunan SDM dengan aksentuasi melalui pendidikan vokasi (keterampilan).

Dengan jumlah penduduk 270 juta, Indonesia merupakan pasar yang sangat besar. Apalagi dengan semakin terbukanya batas antarnegara berkat kemajuan teknologi transformasi digital. IoT sebagai teknologi utama dalam transformasi digital membuat pasar yang ada kini tidak hanya terbatas pada penduduk RI, namun menjadi terbuka untuk 4,5 miliar penduduk Asia, dan bahkan 7,7 miliar penduduk dunia.

Kita juga melihat adanya kenaikan jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia telah berdampak pada kenaikan daya beli. Salah satunya, tumbuhnya transaksi perdagangan online atau e-commerce, yang selaras dengan adanya proyek infrastruktur secara masif, berupa peningkatan elektrifikasi, internet-tol langit (Palapa Ring, satelit & kabel optik menjangkau 34 provinsi, 440 kota/kabupaten, dan panjang kabel laut 35.280 km, dan kabel darat 21.807 km).

Dengan fakta tersebut, terjadi peningkatan target rasio elektrifikasi menjadi 100% pada 2025, yang dipastikan kebutuhan peralatan elektronika akan terus meningkat, baik yang medium and low technology maupun yang high technology. Apalagi melihat saat ini tingkat penetrasi produk elektronika di Indonesia yang masih relatif rendah, kebutuhan atas produk elektronika sangatlah besar. Dari data survei GFK yang diolah Gabungan Elektronika pada 2016, untuk alat elektronika rumah tangga diketahui tingkat penetrasi kulkas 59%, kipas angin 55%, mesin cuci 36%, pompa air 39%, AC 26%, dan TV 36%. Situasi ini menjadikan peluang bagi mereka yang menerjuni sektor industri elektronika dasar, khususnya industri alat elektronika rumah tangga.

Kolaborasi kerja sama Indonesia-Jepang menjadi salah satu faktor penting penentu kesuksesan mencapai visi Indonesia. Saya teringat kerja sama kemitraan yang dirintis pendiri perusahaan Panasonic-Gobel, almarhum Thayeb M. Gobel dan almarhum Konosuke Matsushita.

Bagi M. Gobel, semangat kebangsaan dan pemikiran untuk berbakti kepada negara melalui industri diwujudkan dengan mendirikan PT Transistor Radio Manufacturing Co Ltd pada 1954. Beliau merasakan bahwa Indonesia saat itu sangat memerlukan sarana komunikasi yang efektif agar pesan-pesan para pemimpin bangsa bisa cepat sampai ke masyarakat. Atas kepentingan itu, beliau mendirikan perusahaan perakitan radio transistor pertama di Indonesia dengan merek ’’Tjawang’’.

Kenapa teknologi transistor yang dipilih? Sebab, radio transistor lebih mobile, ringan, dan tidak membutuhkan tenaga listrik untuk menghidupkannya sehingga penggunaannya bisa lebih luas dibandingkan radio ’’vaccum tube’’ yang berat dan membutuhkan tenaga listrik. Harganya terjangkau sehingga akan lebih banyak rakyat yang bisa menikmatinya.

Pada 1957, beliau bertemu kali pertama dengan Konosuke, pendiri Matsushita Electric Industrial Co Ltd, namun kerja sama teknis baru terjalin pada 1960. Beberapa tahun kemudian, beliau mendapatkan kepercayaan dari pemerintah RI untuk turut serta dalam pengadaan pesawat TV untuk Asian Games 1962. Di situlah dimulai perakitan TV hitam putih pertama di Indonesia. Kerja sama tersebut berkembang hingga berdirinya perusahaan patungan PT National Gobel (sekarang PT Panasonic Manufacturing IndonesiaI) pada 1970.

Dalam berbisnis, M. Gobel menggunakan falsafah ’’pohon pisang’’, sedangkan Konosuke menggunakan falsafah ’’air mengalir’’. Perpaduan dua filosofi itu mendasari kerja sama Matsushita-Gobel yang kini di bawah bendera Panasonic-Gobel. Perpaduan dua filosofi itu dijabarkan dalam tujuh prinsip perusahaan, yaitu (1) berbakti kepada negara melalui industri, (2) berlaku jujur dan adil, (3) kerja sama dengan keselarasan, (4) berjuang untuk perbaikan, (5) ramah tamah dan kesatria, (6) menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman, serta (7) bersyukur dan berterima kasih.

Pada 1979, dengan dukungan Konosuke berdirilah Yayasan Matsushita-Gobel. Kini yayasan ini telah mendidik lebih dari 70.000 orang melalui pelatihan di bidang keterampilan teknis manufaktur, manajemen, pelatihan di tempat kerja, etika kerja, dan disiplin, serta bahasa asing.

Kolaborasi Indonesia-Jepang yang dilaksanakan Yayasan Matsushita-Gobel dengan dukungan pemerintah, yakni: Pertama, program magang di Jepang melalui technical intern training program (TITP) yang pada tahap awal (2017–2020) menargetkan penempatan 500 peserta ke pabrik Panasonic di Jepang.

Kedua, solution & innovation center yang diresmikan menteri perindustrian pada 2016. Tujuannya, mempercepat pemanfaatan sistem manufaktur dengan teknologi termutakhir berbasis IoT serta mendukung program making Indonesia 4.0.

Model kerja sama seperti inilah kiranya yang perlu dikembangkan pada industri-industri lain di RI dalam upaya mencari solusi-solusi mutakhir, sehingga industri nasional mampu berdaya saing di pasar domestik dan global.

 

*) Duta investasi presiden RI untuk Jepang, mantan menteri perdagangan