Opini JawaPos, 28/9/2019 9.30 wib.

Oleh Sugeng Winarno*

 

DEMONSTRASI mahasiswa menolak RUU kontroversial makin luas. Demo tak hanya diikuti mahasiswa. Sejumlah pelajar juga ikut berdemonstrasi. Salah satu yang membuat demonstrasi makin masif karena ajakan demo tersebut menyebar lewat media sosial (medsos). Melalui beragam platform medsos dan WhatsApp (WA), pesan-pesan ajakan demo diviralkan. Beragam pesan demonstrasi itu menggema sangat kuat. Inilah efek echo chamber demonstrasi via medsos.

Echo chamber dalam penjelasan singkat bisa diartikan sebagai ruang di dunia maya, tempat orang berteriak tanpa mau tahu kondisi nyatanya. Echo chamber, efek gema atau gaung, merupakan deskripsi metafora (metaphorical description) dari situasi yang membuat orang percaya kepada sesuatu karena adanya pengulangan yang terus-menerus. Informasi yang terus direpetisi berpeluang dipercaya sebagai kebenaran walau sejatinya keliru.

Dalam kasus demonstrasi mahasiswa, beragam pesan repetitif tentang ajakan demo, keriuhan saat demo terjadi, ketika sejumlah mahasiswa berorasi, bentangan poster-poster tuntutan, hingga gambar-gambar aksi bentrok dengan aparat terus disebarluaskan lewat medsos. Bahkan, tak jarang ada tulisan-tulisan lucu yang dibawa pendemo yang menjadi bahan perbincangan para netizen. Semua keriuhan demo itu menggaung di ranah online.

Kabar bohong (hoax) seputar demo juga bermunculan lewat medsos. Melalui pesan berantai yang dikirim lewat WA, sejumlah foto dan narasi kebohongan diviralkan. Di medsos santer beredar hoax berupa berita, foto, dan video editan. Sejumlah narasi kebohongan tersebut sengaja diproduksi oleh pihak-pihak yang anonim demi memperkeruh suasana. Kabar bohong yang tak jelas asal-usulnya itu tak sedikit yang dipercaya sebagai kebenaran.

Gambar-gambar aksi anarkistis banyak disebar lewat akun Facebook, Twitter, Instagram, dan WA. Bukan hanya foto, sejumlah video juga bermunculan di medsos. Bahkan, beberapa video editan juga ramai di laman Youtube. Gambar bergerak aksi perlawanan mahasiswa kepada aparat keamanan yang menyemprotkan water cannon dan gas air mata itu menjadi adegan yang cukup heroik. Beragam materi visual dan audio visual aksi demonstrasi mampu memicu simpati.

Sejumlah kampus juga menjadi korban serangan hoax seolah-seolah beberapa rektor sengaja meliburkan kuliah dan menyarankan mahasiswanya berangkat demo. Beredar sejumlah narasi di medsos yang mengesankan bahwa demo di Jakarta dan sejumlah kota di Indonesia sengaja digerakkan oleh kampus. Apalagi, ada sejumlah berita online yang viral di medsos menampilkan beberapa sosok dosen yang mendukung dan terlibat demo di sejumlah tempat.

Semua informasi terkait dengan demonstrasi yang beredar lewat medsos menjadi gema yang semakin kuat. Tak sedikit orang tak mampu memilah mana informasi yang rasional dan logis untuk dipercaya. Semua informasi bercampur menjadi satu, pembeda yang benar dan yang salah menjadi kabur. Situasinya menjadi sangat sulit karena suatu rekayasa itu mampu ditampilkan sangat meyakinkan layaknya bersumber fakta.

Bisa jadi informasi yang beredar di medsos itu sebenarnya peristiwa biasa-biasa saja. Namun, karena terus bergema, pesan tersebut menjadi luar biasa. Kemampuan menggemakan informasi yang dimiliki medsos tak jarang menjerumuskan orang pada penilaian dan pemaknaan pesan yang keliru. Gema pesan di medsos itu bisa membuat orang tak mampu berpikir jernih dan alpa dalam melakukan verifikasi informasi.

Gema hoax seputar demonstrasi tak mudah dibendung. Misalnya, berita hoax yang viral di medsos terkait dengan meninggalnya Faizal Amir, mahasiswa Universitas Al-Azhar, juga terus menggema. Direktorat Tindak Pidana Siber Polri memang telah melakukan patroli siber bersama Kominfo dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Namun, berita bohong tersebut sudah telanjur menyebar dan menggema, bahkan dipercaya sebagai hal yang benar.

Informasi demonstrasi terus menggema dan menggelembung karena sistem algoritma di medsos akan terus menyajikan berita dan informasi yang paling sering diklik. Ketika para pengguna medsos pernah mengakses informasi tentang demo mahasiswa misalnya, informasi terkait dengan hal itu akan secara otomatis terus menjejali konten pesan di ruang maya mereka. Hal itu persis dengan pola penayangan iklan online yang terus mencekoki iklan sejenis pada mereka yang pernah mencari produk iklan tertentu.

Kebiasaan orang mengakses materi tertentu di linimasa akan menentukan algoritma dalam membagi-bagikan materi serupa kepada pengguna tersebut. Ketika segala berita dan informasi tentang demonstrasi mahasiswa itu viral dan banyak diakses orang, secara otomatis algoritma akan menyuplai informasi sejenis secara rutin kepada mereka yang awalnya mengakses tema tersebut.

Sayangnya, sistem algoritma tak mampu memilah berita yang terkirim itu valid atau tidak, berdasar fakta atau hanya abal-abal semata. Semua disajikan berdasarkan kata kunci (keyword) tertentu yang sering dicari pengguna internet. Kondisi itulah yang mampu menciptakan ruang gaung dalam interaksi di dunia maya. Seperti halnya suara di dunia nyata, efek gaung tentu dapat mendistorsi suara aslinya. Demikian halnya gaung informasi di dunia maya, efeknya bahkan bisa langsung ke dunia nyata.

Masifnya ajakan demo yang terus menggema lewat medsos dan banyaknya hoax yang beredar mampu membangun solidaritas yang cukup kuat. Tak sedikit pihak yang turut terpanggil dan ikut turun ke jalan. Rasa solidaritas muncul karena efek gaung yang didengungkan lewat medsos. Efek echo chamber pesan-pesan demo telah memicu tak hanya bagi para mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat, namun juga bagi anak-anak dan pelajar SMP, SMA, dan STM (SMK).

Demonstrasi mahasiswa yang juga diikuti sejumlah pelajar bisa jadi akan sulit terbendung karena kuatnya efek echo chamber pesan demonstrasi di medsos. Penetrasi medsos yang sangat kuat di masyarakat perlu terus dipantau. Bukan hanya itu, kesadaran dan kewaspadaan para pengguna media linimasa harus terus dibangun. Melalui literasi media, masyarakat akan bisa menjadi kekuatan penting dalam memecah gelembung informasi yang tercipta karena efek echo chamber.

 

*) Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)